11 Agustus 2009
Tilang Berhadiah
Namun, sejak pukul 09:15 (14 Mei 2009) keinginan itu pupus sudah...
Mobil Titos (Colt T-120) yang kujalankan, dengan penumpang 4 orang, diberhentikan polisi dalam sebuah operasi lalin di Jalan Panglegur, Pamekasan, seberang jalan RSUD yang baru.
Kami sempat adu mulut; saya bicara sopan, tapi perwira polisi berinisial DH itu marah-marah (masih sopan tidak kutulis “membentak-bentak”).
“Malu sama peci haji Anda..” (ketika itu aku pakai peci haji)
“Alasan Anda itu biasa, modus operandi sopir-sopir di sini...”
(Perwira itu menghindar ketika saya desak dan menyatakan bahwa saya membuka sabuk pengaman itu karena mau turun. Sabuk itu copot ketika sang perwira menyentaknya). Maklumlah, semua safety belt (sabuk keselamatan) beginian (yang “dipasang sendiri” di mobil-mobil tua, atau mobil baru sekalipun tetapi bukan dari pabrikan) lebih bersifat simbolis, tak ada artinya. Seharusnya, sabuk keselamatan akan menahan badan secara otomatis dari benturan dengan stir jika terjadi hentakan/tabrakan. Tapi sabuk-sabuk keselamatan macam di mobilku itu, mana mungkin dia berfungsi seperti itu. Ya, pasti melorot lah, karena memang tidak berpegas.
“Anda itu harus minta maaf!”
Tapi, karena hujjahku masuk akal, dan agar tidak lebih panjang urusan, saya minta maaf. Akhirnya, permintaan dikabulkan meskipun dengan berat hati, begitu kelihatannya. Saya tidak jadi kena tilang. Sementara anak buahnya bilang selamat jalan dengan hormat...
Istriku dan beberapa penumpang perempuan yang lain merasa tidak terima atas sikap tidak sopan sang perwira polisi tersebut terhadapku. Saya mengajak mereka buru-buru pergi karena khawatir akan terjadi cek-cok dan adu tensi tinggi. Dengan gaya suami siaga yang sok bijak, saya bilang, “Mungkin bapaknya itu punya masalah dengan istrinya sebelum pergi bertugas. Akibatnya, ya, emosinya tumpah di jalanan..” Masuk gigi 1, lepas kopling, tancap gas, dan kami melaju. Mobil Titosku menderu…
Saya tiba di tujuan dalam keadaan capek pikiran, tapi masih bersyukur karena daftar tilang saya masih nihil. Alhamdulillah..
Namun, tiba-tiba...
Saat merogoh sak baju, kedapatan duit 20.000 yang tak jelas silsilahnya di dalam saku. Saya itung ulang semua uangku: lengkap, kap, kap! Lalu, milik siapakah uang 20.000 itu? Saya menduga, uang-bernasib-malang ini milik pelalu-lintas lain yang melanggar yang tak mau ditilang dan memilih nyogok. Astaghfirullah. Siapah tuan pemilik uang haram ini?
Saya membatin, “Apakah milik muda-mudi tak berhelem, ya? Ataukah punya sopir colt pick up yang muatannya berjibun itu-kah? Entahlah, yang pasti, saat saya ambil SIM/STNKB-ku dari meja kap sedan mobil polisi itu memang tergeletak bersama SIM/STNKB kendaraan-kendaraan lain yang kebetulan juga kena tilang.
Waduh..
Saya serahkan uang itu kepada seseorang sambil berkata, “Terserah mau dibagaimanakan,” kataku sambil menyerahkan uang itu. “Tapi, jangan sampai perutmu, perut istrimu, dan perut anak-anakmu, kemasukan makanan dari uang yang tak jelas silsilahanya ini.”
“Kalau masuk ke telinga?” tawarnya.
“Maksudnya?” Saya balik bertanya.
“Dibelikan pulsa, misalnya, buat nelepon?
Makin pusing kepalaku dibuatnya!
Catatan Tersisa:
1. Image Colt T-120 adalah omprengan. Jadi, mobil plat hitam pun dikira ngompreng.
2. Barangkali, saya juga disepelekan karena perwira itu melihat SIM-ku yang “masih A” dan saya dianggap baru belajar mengemudi (meskipun sudah 3 kali bikin SIM A). Menyesal saya tak ambil SIM B-2 saja biar dikira sopir bis/tronton.
3. Bukan hanya kanker yang berbahaya, cara pandang bahwa pengemudi lebih rendah derajatnya daripada aparat polisi itu juga tak kalah berbahaya.
4. Lain kali, kalau mau ke kota aku bawa Grandis atau Mazda RX-ku saja, ah, meskipun DURNO! :-)
[tulisan di atas diambil dari blog-ku juga]
07 Agustus 2009
Tamu
Menghadapi tamu dalam jumlah banyak dan kekerapan yang tinggi ternyata butuh ketelatenan, kesabaran, persiapan mental, dan bahkan juga kewaspadaan yang tinggi pula. Sebab, para tamu memang (seharusnya) datang dengan maksud yang sama, tetapi mungkin dengan budaya dan etiket yang berbeda. Tamu mungkin seluruhnya berniat baik, tetapi sepersekian persen darinya ada pula yang jahat, kadang juga usil.
Pengalaman ini kuangkat berdasarkan pengalaman meladeni tamu, yang datang bergerombol atau satu lawan satu. Mereka, yang mutakhir, adalah para tamu yang datang untuk menghibur dan melipurku karena kebagian jatah sedih untuk kali keempat dalam 24 bulan terakhir, yaitu kepergian mbah putriku yang notabene menjadi “ibu angkat”-ku sejak kecil hingga baligh (sebelumhya, secara berurutan: mertua, ayah, si mbah laki-laki).
Tamu-tamu itu:
Semua tamu di atas masih bisa dimaklum, kecuali tamu yang datang untuk menipu.
Beberapa waktu lalu, di rumah pamanku, kisah ini terjadi. Seorang pengemban misi “berbuat kejahatan dalam perjalanan”, nyamar dalam gerombolan tamu. Lalu, karena ada handphone terbiar dan tergetlak tanpa perhatian, diembat pulalah. Namun, ada, lho, tamu yang nawaitu-nya dari rumah memang sudah mengemban misi “perjalanan untuk berbuat kejahatan”, seperti tamuku yang satu ini. Dia mengajukan kuitansi pembayaran untuk sebuah transaksi tidak jelas, dengan diskon 50%, dan kelebihan-kelebihan lain. Aku diminta mengeluarkan uang untuk membayar sesuatu yang barangnya tidak ada, tidak jelas minimalnya. Untung kuberi dia “sambal gertak” yang kebanyakan cabe-nya sehingga dia pulang kepedasan.
Kukira, telaten dan sabar bukan berarti mau untuk ditipu dan diperdaya. Dan orang sabar itu bukanlah orang yang …
ah, kok malah ngelantur…
maklum, ini hari jumat! Efek khotbah masih tersisa begitu kuat.
Maaf!
05 Agustus 2009
Lampu Sein
Rupanya, ada (mungkin banyak) orang yang bisa bawa sepeda motor, nyetir/nyopir, punya SiM, tetapi belum tahu fungsi dari lampu sein (turn signal/reting). ini buktinya...
* * *
Pada hari Kamis, kira-kira jam 08.38, tanggal 30 Juli 2009, terjadi kecelakaan lalu-lintas di depan rumahku. Seorang anak muda berseragam pramuka (maaf) yang membonceng seorang anak muda lain dan tidak berseragam, menabrakkan Suzuki Smash-nya (berplat “B”) pada sebuah Toyota Kijang Super warna biru berplat DK. (saya masih ingat kedua nomor polisi kedua kendaraan ini tetapi sengaja tidak ditampilkan demi menjaga nama baik).
Sang anak muda sedikit terluka, dan si kijang pun ada beberapa memar di sisi kanan bodinya. Menurut saksi mata, ada 3 orang, jelas sang sopir telah menyalakan lampu sein kanan, sekitar 50 meter sebelum berbelok. Akan tetapi, meskipun semua saksi mata menyalahkan si pengendara sepeda motor karena dianggap teledor, tapi sang sopir memberi maaf. Akhirnya: Damai. Tak ada masalah.
Dalam pikiranku, tesisa percakapan imajiner seperti ini, beberapa waktu kemudian:
Sopir: kamu dari mana?
pengendara sepeda motor: Moncek
Sopir: apa kamu tidak melihat lampu sein saya? kan saya sudah nyalakan dari jauh!
pengendara sepeda motor: lihat
Sopir: kok kamu masih nyerobot jalan saya?
[ini yang betul-betul imajiner....]
pengendara sepeda motor: emang apa makna lampu sein?
Sopir: lho, kok tanya? emang kamu tidak tahu? itu kan buat tanda kalau saya mau berbelok??! emang kalau mau berbelok ke kanan apa saya harus melambaikan tangan kanan sebagai ganti bendera semapor karena kamu anak pramuka?
pengendara sepeda motorr: bukan, bukan, saya kira itu lampu disko karena keberkedap-kedip
Sopir: PALANG!! usa tompo' ka lambhana mun oreng enga' reyya! (batinnya dalam bahasa daerah yang nyaris punah karena makin sedikit penggunanya itu...)
Catatan:
Jika "memiliki SIM" untuk menjalankan kendaraan bermotor hukumnya adalah WAJIB, maka hal-hal yang menjadi syarat pengetahuan terhadap tata tertib lalu-lintas itu juga WAJIB. Artinya, Samsat WAJIB menguji pengetahuan calon pemilik SIM dalam hal bertata-tertib lalin.
Enggi napa enggi?
04 Agustus 2009
Panggilan Shalat

Speaker TOA merupakan merek speaker yang melegenda. Produknya terkenal di mana-mana. Biasanya, di ruang takmir masjid, di lingkungan rumahku, selalu ada perangkat audio ini. Dan biasanya lagi, ia dibeli serangkai dengan tape (non-recorder) bermerek Philips made ini
Nah, speaker ini, dinyalakan, sekurang-kurangya,
Setiap pagi, beberapa saat setelah matahari terbit, berkumandanglah panggilan dari loud speaker (kata orang tua, lospiker) yang memanggil-manggil:
”shalatat dhuha...”
“shalatat dhuha…”
Namun, belakangan, sang kiai memodifikasi panggilan tersebut menjadi lebih kreatif, dan seolah-olah sedang sound check:
[tes.. tes..]
SATU ..
DHUHA…
SATU ..
DHUHA….
[tiga]
Cara dakwah, untuk lebih efektif, memang harus lebih kreatif!
