12 Juni 2013

Kabut di Atas Payudan

Hari ini, saya sekeluarga, beserta, adik perempuan dan anak-anaknya, pergi kondangan ke daerah Nangger, tetangga desa satu kecamatan. Letaknya kira-kira 9 kilometer dari desa dusun saya. Tuan rumah bernama Hosni. Hari ini kami memnuhi undangan walimah untuk anaknya, Khotimah.  


Tanpa lebih dulu mengingat-ingat pada dampak hujan yang turun sejak kemarin hingga hari ini, siang itu saya terkejut begitu melihat kondisi jalan setapak menuju lokasi;  becak dan licin. Anak saya sempat terjatuh dan bajuya kotor. Ibu nyaris terseok, sangat kesulitan melangkah. Istri dan adik perempuan saya, yang kebetulan juga membawa 2 anakya, pun mengalami hal yang sama. Jalan itu hanyalah pematang, jalan setapak yang mengantarai petak-petak sawah. Kalau tergelincir, dijamin kotorlah semua pakaian.

Pemandangan yang mencuri perhatian saya adalah adanya kabut di gunung Payudan. Ini adalah pemandangan tidak biasa mengingat “gunung” Payudan itu sebetulnya hanyalah gugusan bukit saja. Dari bawah, saya membayangkan sedang berada di lereng Merbabu atau Dieng, atau kalau mau lebih hiperbolis, sedang berada di kaki Himalaya. Kami sangat senang sekali melihat penampakan kabut itu karena nyaris tak pernah kami lihat sebelumnya, di Madura.

Desa Nangger merupakan desa yang barangkali paling subur di kecamatan Guluk-Guluk, atau bahkan di Sumenep. Di sana, air sangat melimpah. Padi tumbuh di tanah yang gembur. Berbeda dengan daerah lain di Madura yang selalu krisis air di musim kemarau panjang, desa Nangger serta tetangga desanya, Daleman dan Tambuko, selalu berkecukupan.

Desa ini berada di kaki perbukitan Payudan, perbukitan (masyarakat setempat menyebutnya “gunung”) tertinggi di Madura. Uniknya, siang tadi, saya lihat kabut tebal tampak bagaikan kerudung bagi puncaknya. Hanya satu-dua kali saya melihat ada kabut di Madura, namun tak sehebat kali ini.

Siang tadi, tuan rumah sangat berbahagia namun lantas seolah merasa bersalah. Seperti tamu-tamu yang lain, kami datang dengan belepotan lumpur. Kepada kepala desanya yang masih muda dan duduk bersebelahan dengan saya, Saifur Rahman, saya berkata, “Saya senang lewat di jalan becek. Jika bukan sekarang, tentu akan sulit saya datang menuju undangan walimah yang didahului oleh adegan berjibaku dengan lumpur seperti sekarang ini.”

Anggaplah ini latihan off-roading…



02 Mei 2013

Amal Perbaikan Jalan

Jika Anda menempuh perjalanan dari Ganding ke Rubaru (jalur tengah), Anda akan melewati sebuah perbukitan dengan titik rawan kendara yang disebut Sa’im. Sa’im adalah nama tanjakan-tikungan yang sangat terjal. Jalannya rusak. Tanjakannya mengular. Tikungannya tajam. Dulu, sebelum jalan diaspal, sering terjadi mobil mogok, umumnya bak terbuka, tidak kuat nanjak. Beberapa kali terjadi kecelakaan yang berujung pada korban jiwa. Di malam hari, tak ada seorang pun yang lewat karena tempat itu sama sekali sepi, tak ada rumah penduduk sama sekali.

Tak jauh dari Sa’im, ada perbukitan bernama Canggur. Setelah itu, ketika saya lewat dua hari yang lalu, terdapat jalan menanjak/menurun yang sejak dulu rusak parah. Pernah sekali bumper mobil nyaris ternyangkut. Kini, jalan itu sudah lumayan bagus.
 "Kita Coba Bangkit Sendiri / Mari Bangun Jalan Ini / Dengan Rp 500,-"
Tersebutlah Muhammad Ali Syakir, seorang tokoh pemuda di situ. Dia, bersama masyarakat setempat, berinisiatif membangun sendiri jalan yang rusak cukup lama itu. Mereka bikin cegatan di jalan. Tersedia sebuah gardu dan loudspeaker. Mereka menerima sumbangan dari orang-orang yang lewat. Konon, dari situlah sumber dana mereka.

Memang betul, banyak cegatan di jalan di tempat kami. Masyarakat menyebutnya “amal”. Namun, amal ini biasanya berada di jalan yang dekat dengan masjid sehingga ada tulisan/plakat “Amal untuk Perbaikan Majid”. Nah, yang ini berbeda. Di sana tertulis “Amal untuk Perbaiukan Jalan”. Konon, masyarakat setempat membangun jalan itu sendiri, dengan dana dan tenaga sendiri. Mereka capek menunggu perbaikan jalan yang tak kunjung dimulai. Padahal, jalan kolektor yang menghubungkan Ganding dan Rubaru juga Pasongsongan itu relatif banyak dilewati kendaraan.


Ini adalah sebentuk upaya masyarakat mandiri. Mandiri? Ya, mereka yang memperbaiki fasilitas umum dengan dana dan tenaga sendiri. Namun, istilah ‘mandiri’ ini menjadi aneh karena hal itu terjadi di kabupaten yang kaya raya, di sebuah kabupaten yang—konon—memiliki APBD dan berada di level 10 besar se Indonesia. 

21 April 2013

Orang Bodoh Dilarang Mengemudi

Ada banyak cara untuk mengurangi terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Upaya-upaya ini sudah diujicoba dan atau diterapkan sejak dulu. Kenyataannya, meskipun kecelakaan lalu lintas betul berkurang, namun angkanya tidak sebanding dengan upaya yang telah dilakukan. Angka kecelakaan lalu lintas masih tergolong relatif tinggi.

“Menyalakan lampu di siang hari” bagi sepeda motor merupakan cara mutakhir yang diujicoba dan telah diterapkan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas. Tentu, keputusan ini dibuat berdasarkan riset atas kenyataan di lapangan. Begitu pula dengan “uji kir” bagi kendaraan “plat kuning” (karena relatif lebih sering berjalan daripada “plat hitam”) juga merupakan salah satu cara yang dilakukan demi keselamatan dan kenyamanan transportasi di jalan. Tidak menutup kemungkinan, cara lain akan segera ditemukan di masa-masa yang akan datang.

Saya beranggapan, satu hal yang juga tak kalah penting adalah “uji kecerdasan calon pemegang SIM”. Kepolisian yang bertugas menerbitkam SIM sebaiknya membuat semacam Tes Potensi Akademik (TPA) bagi calom pemegang SIM. Jadi, tes ini bukan sekadar uji simulasi menyetir/mengemudi. Emosi, temperamen, intelektualitas, semua harus diukur dan dinilai. Ada skor tertentu yang telah disepakati. Pemarah, suka naik pitam, tidak tahu sopan santun, misalnya, semua ini termasuk “golongan orang bodoh” yang tidak boleh memiliki SIM meskipun mereka berhasil lulus simulasi menyetir. Sebab, orang bodoh seperti ini sungguh berbahaya jika diberi kesempatan menguasai jalan raya. Jika dia tidak celaka, maka orang lainlah yang akan dibuatnya celaka.

Sudah pernahkah diselenggarakan uji kecerdasan bagi pelaku pelanggaran lalu lintas, baik itu kecerdasan intelektual atau kecerdasan emosional? Mari kita coba.





04 April 2013

Ditanya, Bertanya

Suatu hari, seorang murid bertanya kepada gurunya seputar hukum syariah.

“Guru, bagaimana jika kelak ada pesawat terbang komersil yang kecepatannya sama dengan kecepatan cahaya, sehingga andai kita naik pesawat tersebut pada pukul 13.00, maka kita akan tiba di tempat tujuan juga pada pukul 13.00 andai pun kita melakukan perjalanan nonstop selama 9 jam, misalnya, dan bagaimana hukum shalat kita di dalam rentang waktu perjalanan itu?

“Sebentar,” pangkas sang guru, “Apakah pesawat terbang itu sudah ada saat ini?”

“Belum ada, Guru. Ini cuma andai saja…”

“Oh, iya, kalau begitu aku tidak perlu sesegera mungkin mencarikan jawaban untuk pertanyaan kamu ini, karena banyak persoalan penting yang kiranya lebih mendesak untuk dicarikan jawabannya, misalnya, mengapa kita lebih minat mengembangkan teknologi kendaraan bermotor berbahan bakar fosil dan jelas akan semakin menambah kemacetan lalu lintas kita yang sudah terkenal semrawut? Mengapa kita tidak merekayasa dan menciptakan teknologi yang berpihak pada pertanian dan kelautan saja mengingat hal itu merupakan kekayaan kita?”

Si murid tersenyum dan berharap tak ada pelajaran di kelas, hari ini, sehingga dia dapat mempergunakan waktunya untuk berpikir panjang mengenai jawaban untuk pertanyaan sang guru itu.

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog