19 Agustus 2014
Rapor Makan
Di depan saya, ada semangkok sup kepala kakap. Saya ambil piring bersih dan memindahkan satu kepala untuk mencabik-cabiknya. Di sampingnya, terdapat menu udang pedas manis. Masih dalam seperjakangkauan tangan, tampak kerang dan cumi-cumi dalam wadah yang lain. Posisi sajiannya menantang untuk diembat. Hanya gule berikut satenya, entah ayam entah daging, yang berada di luar batas panjang lengan. Tentu norak kalau saya mendekatkannya ke piring, lebih-lebih apabila justru saya yang mendekat ke arahnya, sebab di acara itu kami sedang makan dengan cara lesehan.
Akan tetapi, baru ¾ nasi putih yang saya telan, lauk-pauk sudah habis. Saya sadar, bukan saja dalam akuntansi, dalam hal hitung-hitungan suapan nasi agar imbang dengan lauk yang tersaji pun ternyata saya gagal. Ikan habis sementara nasi masih banyak. Karena nilai cara makan ini tidak akan dimasukkan ke dalam rapor, maka sesungguhnya saya masih punya banyak kesempatan untuk nambah lauk atau ganti selera lagi walaupun itu nanti saya akan dianggap gelojoh dan tidak sopan, kata orang “kurang tahu budi pekerti”.
Saya masih ingin gule dan sate. Eh, tidak, saya ingin gule dan sate dihabiskan dulu lalu mencoba cumi-cumi karena dalam kesempatan itu semua makanan adalah cuma-cuma. Tapi, itu tidak jadi saya lakukan karena terdengar sebuah bisikan agar saya menghabiskan nasi putih tanpa lauk apa pun, hanya bersama sedikit kuah yang tersisa dari sup kepala kakap tadi.
“Tahan! Makan saja yang tersisa, atau yang ada di dekatmu.”
Saya melihat sekilas sumber suara itu, melihat wajahnya; wajah dengan air muka yang datar; seorang lelaki yang sejak tadi hanya makan nasi tanpa lauk sama sekali. Mungkin ia mengidap kencing manis atau kolesterol tinggi.
“Menahan ingin dalam situasi serbamungkin itu lebih berat daripada ketika kita tidak punya kesempatan atau terlarang sama sekali.”
14 Juni 2014
Berita Bernasib Malang (2)
Memang, hanya butuh beberapa menit saja untuk mengetik ulang berita ini, dan tentunya jauh lebih singkat daripada si wartawan saat dia membuatnya. Ini penting untuk diketahui bahwa saat ini kita semakin sulit menemukan orang yang bekerja serius di bidangnya. Wartawan adalah pemburu berita tetapi juga diburu tenggat (deadline). Akan tetapi, harus diingat, ia harus menjaga etika jurnalistiknya dan menjaga profesionalitasnya.Saya tidak mengerti mengapa ada "berita bernasib malang" dengan penulisan seperti ini. Berikut saya transkrip dengan tanpa mengubah ejaan, apostrof, bahkan juga huruf kapitalnya. Saya tuliskan sepersis-persisnya (kecuali nama koran dan wartawan yang saya rahasiakan. Sumber gambar dari sebuah akun di Facebook):
“H.Imam Mahdi sebagai kepala desa pragaan laok kec. pragaan kab Sumenep memang pantas di juluki sebagai lurah jelma’an jokowi. karena tingkah lakunya dan kepribadiannya persis seperti gayanya jokowi (Gubernur DKI Jakarta yang lebih kondang capres dari PDIPerjuangan).
H.Imam Mahdi sukanya blusu’an dan sering turun ke kampung-kampung untuk mengajak masyarakat petani biar lebih semangat lagi untuk bekerja. Bisa dibayangkan kades ini sudah dua periode menjadi kepala desa tapi kenyataannya dan keada’an dia nasih biasa biasa saja malahan kendara’annya yang biasa di pakai sepeda motor lawas yang sudah tidak ada nilai nya lagi.
Wartawan *DIRAHASIAKAN* sempat menemui sekdesnya. Yang menjelaskan kalau pak lurah saya patut di ajungi jempol karna pribadinya apa adanya, seperti adanya proyek yang sekarang ini dikerjakan (PPIP-BKD) panjangnya melebihi ukuran RAB yang ada. kenapa sampai lebih?.
Sang sekdes Menjawab “Karena semua proyek yang di garap sekarang ini agar bisa nyampek ke plosok perkampungan atau ke pemukiman masyarakat, sisanya jalan tanggung”ujar sekdes. Jadi H. Imam Mahdi memang tegas dalam mengawasi agar cepat di selesaikan sampai ke plosok kampung, hingga yang terjadi tak ada untung, yang ada malah rugi Alias tekkor “Tapi P. Lurah sangat puas, yang penting rakyatku makmur sentosa” tuturnya (*RAHASIA*)"
Bagaimana pendapat Anda?
Tamu Sepeda (2)
Di kota-kota besar, sekarang, banyak orang yang bersepeda ke kantor. Umumnya, mereka bukanlah orang yang tidak punya duit untuk membeli sepeda motor atau mobil. Mereka melakukan itu lantaran mempunyai wawasan berbeda dari orang kebanyakan, seperti ingin mendapatkan hiburan, melihat pemandangan sekitar lebih detil, menyadari terbatasnya energi fosil, dll.
Tamu saya kali ini, Wing Sentot, adalah satu dari tidak banyak orang yang bersepeda dengan cara yang ekstrem. Saya tidak pernah kenal dia sebelumnya dan entah siapa yang merekomendasikannya untuk kemari. Ia berangkat dari Lombok entah kapan dan tiba di tempat saya, Guluk-Guluk (Sumenep) pada Kamis 12 Juni 2014. Bermalam semalam, ia berbagi kisah berbagai hal. Esoknya, Jumat pagi, ia pergi, berangkat lagi entah ke mana. Ia berkata punya rencana untuk ke Riau, Sumatra. Lelaki yang sudah pernah touring ASEAN bersepeda ini juga telah berpengalaman naik sepeda di hampir semua pulau besar di Indonesia, seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dll.
“Anda tahu Paimo?” tanya saya.
“Ya, dia itu keren sekali,” jawabnya sambil tertawa. Dia sudah keliling Eropa dan sebagian benua Amerika serta kota-kota besar di dunia.”
“Saya tidak kenal Paimo, tapi pernah baca buku perjalanannya, ‘Bersepeda Membelah Pegunungan Andes’, hadiah dari Bu Sekar yang juga pernah tiba di sini sebagai "tamu sepeda" bersama suaminya, Pak Tedi, dan juga rekannya, Mas Nanang dan istrinya, Bu Liza.".
“Iya, iya, iya…” katanya.
Selamat jalan, kawan. Selamat bersepeda.
29 Mei 2014
Maburu Labhed (Lovebird)
Paman reya orengnga
ekenning koca’ sogi, mangkana
kan pas entar umroh. Paman andhi’
toko rajha e pasar, e seddi’na
romana, sela jariya garus. Biyasana, bhu-obhuwanna oreng sogi reya mun ta’ motor, ya, mano’. Laaa…, Paman reya lebhur ka mano’ labhed (lovebird). Sa’ellana mangkata ka umroh abareng binina ban mattowana, Paman menta ater ka Kacong se lebbi pangalaman.
E BANDARA
Paman: “Ellu’ gallu, pae’ mun gun jeng-manjeng edinna’, Cong. Tadha’ barung kobhi
(kopi) edinna’?”
Kacong: “Badha, Nom, keng larang.”
Kacong: “Badha, Nom, keng larang.”
Paman: “La iyye rah. Tekka’a la larang, masa’ pas ta’
kellara majar?”
Kacong: “Enggi tore nyare. Beh, Bhibbi’ ma’ ta’ eyajak,
Nom?”
Paman: “Enja’, sengka ca’na. Dhina bhibbi’na ma’ neng ban
emma’na e lowar.”
Kacong: “Enggi tore pon.”
Kacong pas ngajak pamanna entar ka kafe se bagus. Gi’ ta’ toju’ kana, pas Paman ngoca’
laju atanya.
“Mun edinna’ olle aroko’, Cong?”
“Olle, Nom!”
Paman pas langsung nyolet rokok, pas ngoca’ pole:
“Sengko’ messenagi
kopi luwak!”
“Tak anapa tekka’a larang?”
“La pah messen koh, ja’ nya’ bannya’ rembhak.”
Ella ra poko’na. Samarena pi-kopian ban ko’-roko’an, Paman
pas ngajak mole.
Paman: “Tanya’ agi, Cong, abi’ barempa kowah!”
Kacong pas atanya abi’na. Kopi luwak du cangker gun ban roti
pas temmo abi’ 350 ebu.
Kacong: “Tello’ saeket
ca’na, Nom!”
Paman: “Apa? Tello’
saeket apa jiya?”
Kacong: “Beh, enggi tello’ saeket ebu, Nom…”
Paman: “Adduana’… palang!”
Mare majar, Paman ban Kacong pas nyengla sambi ajalan
na-ta’mana, Paman pas ngoca’ ka Kacong.
“Daggi’ ba’na se ngoca’ ka bhibbi’na, ya, Cong! Kabhala ja’
engko’ gi’ buru maburu labhed kowah, yeh!!”
---
Editor Bahasa Madura: Nurul Hidayat
Langganan:
Postingan (Atom)
