11 Oktober 2014

Min Amin Pendek

Pernahkah Anda mendengar istilah ‘min-amin pande’ atau istilah sejenis di sekitar tempat Anda tinggal? ‘Amin yang pendek’, begitulah maksudnya. Ini merupakan acara tanpa acara, tanpa rundown, tanpa senarai acara apa pun selain datang-doa-makan.

Umumnya, acara-acara pernikahan atau selamatan itu relatif beragam. Ada yang versi komplit dan ada pula yang versi hemat. Ciri-ciri acara yang komplit biasanya ditandai dengan—salah satunya—acara pembacaan ayat suci Alquran bil mujawwad. Acaranya kurang lebih seperti ini:

1. Pembukaan (Pembacaan Surah Al-Fatihah)
2. Pembacaan Ayat Suci Alquran.
3. Aqad Nikah
4. Shalawat bil Julus wal Qiyam (duduk dan berdiri)
5. Sambutan pemasarahan (dari mempelai pria)
6. Sambutan (dari tuan rumah; mempelai perempuan)
7. Hikmatun Nikah
8. Doa (bisa satu-3 orang)

Nah, adapun yang disebut dengan min-amin pande’ itu adalah rangkaian acara untuk kegiatan yang sama namun tidak banyak ini-itunya. Acara dimaksud dirangkai sesingkat mungkin, seperti pembukaan-shalawat-doa. Yang lebih singkat lagi ada: acaranya hanya satu, yaitu doa, dan setelah itu langsung makan lalu bubar.

Min-amin pande' ini biasanya dilangsungkan di rumah mempelai pria (beberapa menit sebelum berangkat ke rumah mempelai wanita) ataupun di rumah mempelai perempuan (untuk akad nikah yang sudah berlangsung lama dan untuk undangan khusus). Oleh karena itu, disebut pande’ (pendek) adalah untuk mengistilahkan kalau acara ini sangat singkat. Dan karena adanya unsur 'pendek' ini, terkadang hanya dibutuhkan kisaran waktu 5 menitan saja untuk merampungkan acara.

19 Agustus 2014

Rapor Makan


Di depan saya, ada semangkok sup kepala kakap. Saya ambil piring bersih dan memindahkan satu kepala untuk mencabik-cabiknya. Di sampingnya, terdapat menu udang pedas manis. Masih dalam seperjakangkauan tangan, tampak kerang dan cumi-cumi dalam wadah yang lain. Posisi sajiannya menantang untuk diembat. Hanya gule berikut satenya, entah ayam entah daging, yang berada di luar batas panjang lengan. Tentu norak kalau saya mendekatkannya ke piring, lebih-lebih apabila justru saya yang mendekat ke arahnya, sebab di acara itu kami sedang makan dengan cara lesehan.

Akan tetapi, baru ¾ nasi putih yang saya telan, lauk-pauk sudah habis. Saya sadar, bukan saja dalam akuntansi, dalam hal hitung-hitungan suapan nasi agar imbang dengan lauk yang tersaji pun ternyata saya gagal. Ikan habis sementara nasi masih banyak. Karena nilai cara makan ini tidak akan dimasukkan ke dalam rapor, maka sesungguhnya saya masih punya banyak kesempatan untuk nambah lauk atau ganti selera lagi walaupun itu nanti saya akan dianggap gelojoh dan tidak sopan, kata orang “kurang tahu budi pekerti”.

Saya masih ingin gule dan sate. Eh, tidak, saya ingin gule dan sate dihabiskan dulu lalu mencoba cumi-cumi karena dalam kesempatan itu semua makanan adalah cuma-cuma. Tapi, itu tidak jadi saya lakukan karena terdengar sebuah bisikan agar saya menghabiskan nasi putih tanpa lauk apa pun, hanya bersama sedikit kuah yang tersisa dari sup kepala kakap tadi.

“Tahan! Makan saja yang tersisa, atau yang ada di dekatmu.”

Saya melihat sekilas sumber suara itu, melihat wajahnya; wajah dengan air muka yang datar; seorang lelaki yang sejak tadi hanya makan nasi tanpa lauk sama sekali. Mungkin ia mengidap kencing manis atau kolesterol tinggi.

“Menahan ingin dalam situasi serbamungkin itu lebih berat daripada ketika kita tidak punya kesempatan atau terlarang sama sekali.”

14 Juni 2014

Berita Bernasib Malang (2)

Memang, hanya butuh beberapa menit saja untuk mengetik ulang berita ini, dan tentunya jauh lebih singkat daripada si wartawan saat dia membuatnya. Ini penting untuk diketahui bahwa saat ini kita semakin sulit menemukan orang yang bekerja serius di bidangnya. Wartawan adalah pemburu berita tetapi juga diburu tenggat (deadline). Akan tetapi, harus diingat, ia harus menjaga etika jurnalistiknya dan menjaga profesionalitasnya.

Saya tidak mengerti mengapa ada "berita bernasib malang" dengan penulisan seperti ini. Berikut saya transkrip dengan tanpa mengubah ejaan, apostrof, bahkan juga huruf kapitalnya. Saya tuliskan sepersis-persisnya (kecuali nama koran dan wartawan yang saya rahasiakan. Sumber gambar dari sebuah akun di Facebook):


“H.Imam Mahdi sebagai kepala desa pragaan laok kec. pragaan kab Sumenep memang pantas di juluki sebagai lurah jelma’an jokowi. karena tingkah lakunya dan kepribadiannya persis seperti gayanya jokowi (Gubernur DKI Jakarta yang lebih kondang capres dari PDIPerjuangan).

H.Imam Mahdi sukanya blusu’an dan sering turun ke kampung-kampung untuk mengajak masyarakat petani biar lebih semangat lagi untuk bekerja. Bisa dibayangkan kades ini sudah dua periode menjadi kepala desa tapi kenyataannya dan keada’an dia nasih biasa biasa saja malahan kendara’annya yang biasa di pakai sepeda motor lawas yang sudah tidak ada nilai nya lagi.

Wartawan *DIRAHASIAKAN* sempat menemui sekdesnya. Yang menjelaskan kalau pak lurah saya patut di ajungi jempol karna pribadinya apa adanya, seperti adanya proyek yang sekarang ini dikerjakan (PPIP-BKD) panjangnya melebihi ukuran RAB yang ada. kenapa sampai lebih?. 

Sang sekdes Menjawab “Karena semua proyek yang di garap sekarang ini agar bisa nyampek ke plosok perkampungan atau ke pemukiman masyarakat, sisanya jalan tanggung”ujar sekdes. Jadi H. Imam Mahdi memang tegas dalam mengawasi agar cepat di selesaikan sampai ke plosok kampung, hingga yang terjadi tak ada untung, yang ada malah rugi Alias tekkor “Tapi P. Lurah sangat puas, yang penting rakyatku makmur sentosa” tuturnya (*RAHASIA*)"

Bagaimana pendapat Anda?

Tamu Sepeda (2)

Bersepeda adalah kegiatan yang menyenangkan, juga menyehatkan asalkan tidak sambil menghirup polutan. Bersepeda juga merupakan cara bepergian yang ramah lingkungan. Bersepeda itu, intinya, adalah kegiatan yang menyenangkan.


Di kota-kota besar, sekarang, banyak orang yang bersepeda ke kantor. Umumnya, mereka bukanlah orang yang tidak punya duit untuk membeli sepeda motor atau mobil. Mereka melakukan itu lantaran mempunyai wawasan berbeda dari orang kebanyakan, seperti ingin mendapatkan hiburan, melihat pemandangan sekitar lebih detil, menyadari terbatasnya energi fosil, dll.


Tamu saya kali ini, Wing Sentot, adalah satu dari tidak banyak orang yang bersepeda dengan cara yang ekstrem. Saya tidak pernah kenal dia sebelumnya dan entah siapa yang merekomendasikannya untuk kemari. Ia berangkat dari Lombok entah kapan dan tiba di tempat saya, Guluk-Guluk (Sumenep) pada Kamis 12 Juni 2014. Bermalam semalam, ia berbagi kisah berbagai hal. Esoknya, Jumat pagi, ia pergi, berangkat lagi entah ke mana. Ia berkata punya rencana untuk ke Riau, Sumatra. Lelaki yang sudah pernah touring ASEAN bersepeda ini juga telah berpengalaman naik sepeda di hampir semua pulau besar di Indonesia, seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dll.

“Anda tahu Paimo?” tanya saya.
“Ya, dia itu keren sekali,” jawabnya sambil tertawa. Dia sudah keliling Eropa dan sebagian benua Amerika serta kota-kota besar di dunia.”
“Saya tidak kenal Paimo, tapi pernah baca buku perjalanannya, ‘Bersepeda Membelah Pegunungan Andes’, hadiah dari Bu Sekar yang juga pernah tiba di sini sebagai "tamu sepeda" bersama suaminya, Pak Tedi, dan juga rekannya, Mas Nanang dan istrinya, Bu Liza.".
“Iya, iya, iya…” katanya.

Dalam satu kesempatan duduk-duduk, ia bercerita kepada saya bahwa dalam perjalanannya ini ia membawa misi lingkungan. Ia melakukan pentas di tempat-tempat yang ia singgahi, kadang berpuisi, kadang pula menyanyi. Termasuk di sini, Sentot pentas baca puisi bersama para santri. Beberapa orang bertanya pada saya, apakah Sentot itu punya anak dan punya istri? Kepadanya saya menjawab, “Itulah pertanyaan yang memang sengaja tidak saya tanyakan.”



 Selamat jalan, kawan. Selamat bersepeda.





Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog