31 Mei 2009

Antagonis v.s. Antagonis


Awal-awal tahun 80-an, saat saya sudah punya rasa terhibur pada filem kartun, saya menggemari filem-filem kartun serial tivi. Waktu saya masih kecil, cerita lisan sudah jarang sekali saya dengar. Karena itu saya mencari hiburan pada televisi. (Betul jika Albert B. Lord mengatakan, bahwa televisi termasuk salah satu pemangsa sastra lisan). Entah bagaimana sekarang.. Biasanya, jam tayang filem-filem ini mepet waktu Maghrib. Itulah sebabnya ayahku melarang nonton tivi dan berjanji tidak akan membeli tivi jika kebiasaan ini masih tetap padaku. Tak hilang akal, saya nonton di rumah Om: tivinya merek Sharp, hitam-putih, pakai aki 12 volt.


Di antara filem-filem kartun yang paling saya sukai adalah DoE (Defenders of the Earth) yang pakai kilat kayak PLN itu. Kisah para pembela bumi ini menampilkan (antara lain); Flash Gordon, Phantom, Mandrake, Jedda, dll. dan punya musuh abadi bernama Kaisar Ming. Saking demennya, tangan saya usil corat-coret “DOE” di sana-sini. Namun begitu, bukan berarti saya tidak menggemari Quick Silver, Centurion, Flinstones, dan “sedikit” Woody Si Burung Pelatuk. Saya juga cinta produk lokal, kok, semisal Si Unyil dan “sedikit” Si Huma..



Namun, di antara semua, yang paling top dalam peringkatku adalah “Tom and Jerry”. Alasannya, kartun ini sangat lucu. Imajinasinya luar biasa. Semua hal jadi mungkin dalam filem ini. Dan jika dibanding-bandingkan, imajinasi dalam “Tom and Jerry” juga berdekatan dengan imajinasi penyair dengan puisinya. Sentuhan Irvin Spencer dan Fred Quimby yang liar, yang memungkinkan seekor gajah masuk dalam pipa ledeng, atau tubuh tom jadi gepeng dan lonjong seteleh jatuh dari ketinggian, sama halnya ketika Afrizal Malna menulis: Sejak paskah itu, aku tahu, kita tak perlu bertemu lagi… Kursi telah malam. Piring telah malam juga. Kedua bandingan ini tidak masuk akal jika di lihat/dibaca dengan literal pada saat dianimasi/ditulis dengan metaforis.


Tapi, dari paling tapi setapi-tapinya, yang lucu-gila dari Tom and Jerry adalah karena semua tokohnya jarang terjadi pada pilem biasa, yang lazimnya menampilkan protagonis dan antagonis (atau juga tritagonis). Yang ini, ada dua tokoh dan semuanya sama-sama jahat, sama-sama usil, sama-sama antagonis; he…he….


27 Mei 2009

Karcis

Barangkali, pengalaman ini juga sering Anda alami: setiap keluar dari area parkir, saya merasa betapa karcis parkir nyaris tidak ada gunanya lagi. Mereka, para jukir itu, menarik uang, mulai dari Rp500 hingga Rp1.000 tanpa perlu menyerahkan karcis kepada kita. (biasanya, baru untuk tarip parkir di atas 1000 rupiah yang ada karcisnya).

Pengalaman gerah soal karcis ini bermula ketika saya hendak menyeberang di dermaga Ujung-kamal. Waktu itu hujan deras. Sementara itu, dermaga I dalam tahap perbaikan. Beberapa calon penumpang dialihkan ke dermaga darurat yang cause way-nya direkayasa dari sebuah kapal ferry Ro-Ro yang dipatok dan disandarkan ke pelabuhan. Dengan cara itu, ferry pengangkut dapat menaikkan/menurunkan kendaraan melalui dari ferry Ro-Ro yang dimodifikasi itu.

Waktu itu hujan deras, para calon pemumpang berseliwer, tergesa-gesa, juga panik karena hujan mendadak turun dan deras menderu. Bahkan, saat membayar uang tiket kapal untuk 1 mobil roda empat dengan 5 penumpang, saya tak diberi karcis. Tetapi, untunglah saya sempat memintanya kembali kepada petugas meskipun saya harus turun kembali dari mobil yang telah diparkir di dalam ferry dengan resiko basah kuyup terkena hujan.

(Dalam hati saya membatin, betapa banyak orang yang membayar ongkos penyeberangan dan tidak meminta karcis? Wah, pada ke mana tuh uangnya? Tidak jelas, kan?)

Tetapi, ini masih mending:

Kisah serupa terjadi di tempat yang sama, pada waktu berbeda. Persiotegngan terjadi satui-lawan satu antara calon penyeberang yang ngotot meminta uang kembalin Rp300 melawan petugas retribusi yang kawannya banyak dan dianggap telah menyepelekannya.

Alaah, Pak haji, tiga ratus rupiah saja kok diminta..”

Orang tua berpeci haji itu mencak-mencak dan marah besar. Katanya, “Saya bukannya kikir. Ngasih Anda sepuluh ribu pun saya oke. Tetapi cara Sampeyan ini yang gak betul! Ngéco’ (artinya: mencuri/korupsi)! Mana, kembalikan uang kembalian saya, 300!”

Petugas itu bersungut-sungut tanpa perlawanan, entah mangkel entah nyadar.


Saya merasa baik setelah tiket penumpang untuk penyeberangan sekali jalan Ujung-Kamal kini menjadi Rp3.700 (setelah sebelumnya Rp 4.000). Bayangkan, saat dulu tiket ini ditarip Rp 1.950 per penumpang. Nah, pada pergi ke mana tuh uang Rp.50,-an untuk uang kembalian dari setiap dua lembar uang ribuan yang dibayarkan? Sungguh hampir mustahil ada orang membayar 1.950 dengan uang pas. Yang lumrah mereka membayar 2 ribu rupiah dan terus melenggang. Bayangkan jika terjadi korupsi Rp.50 dalam setiap 5 detik, tinggal kalikan saja selama 24 jam, kalikan lagi selama sepekan, kalikan lagi, kalikan lagi...


21 Mei 2009

Teror Mata Sapi

Karena Hari Ini Adalah 21 Mei…


Banyak orang mengenang hari ini. Namun, umumnya tentang kenangan pahit, minimal célo’. Kenangan tentang teror, sebuah upaya menciptakan suasana ngeri dan takut dalam ketenangan hidup. Teror adalah sakit yang tidak kasat mata. Ketakutan dari jenis ini sangat menukik, tetapi tidak di-belasungkawa-i sahabat dan famili karena tidak kelihatan. Sakitnya bukan ke badan, tetapi pada mental dan perasaan. Sulit melawan teror karena kita tidak sedang berhadapan dengan “yang kelihatan”.


Kasus-kasus teror di Timor-Leste, ditulis sangat apik-deskriptif oleh Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan cerpen “Saksi Mata”. Seno menulis ini konon karena di zaman Orba, ngomong kormeddal atas kepincangan sikap adil pemerintah dapat berakibat subversi dan si empunya ide akan raib entah ke mana rimbanya. Bahkan, tak ketahuan nasib dan makamnya. Karena itu, kata Seno, ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Fakta pun difiksikan, disamarkan, untuk menyampaikan kebenaran.


Kasus Trisakti dan Kudatuli adalah serangkaian cerita horor. Namun, di balik itu semua, sesungguhnya, ada sejumlah kisah teror yang tidak sembarang jadi berita. Lazimnya, teror berupa ancaman tak langsung karena lawan sadar penuh dirinya mengandung banyak sifat asam dan masih butuh, antara lain, pada Zirconium Tetrachlorohydrex Glycine, PPG-14 Butyl Ether, Cyclomethicone agar dirinya tak jadi kecut se-asam penakut.



ponsel protolan milik Out of Topic (O-O-T)


Teror dalam perkomunikasian dan pertelponan dan perhapean dan per-sms-an, dalam keseharian kita, terkadang muncul, antara lain, melalui: kawan yang sering gonta-ganti nomer ponsel (usaha pemerintah mewajibkan pendaftaran nomor ke 4444 ternyata kurang berhasil), SMS ancaman dari nomor tak dikenal, panggilan pribadi/private number, telepon mendadak pada hari Jumat jelang siang berisi kabar hadiah/hibah dengan syarat segera menyetor uang muka (dengan berharap kita lengah; diberi kesempatan berpikir tergesa karena terbentur jam tutup kas bank di hari Jumat dan Sabtu-Minggu yang rehat); semua ini juga anak-pinak teror, lho…


Nah, rugi kiranya kita mudah terteror oleh SMS-SMS bersayang-sayang dari nomor tak dikenal. Sebab, melayani yang tak dikenal/tidak jelas rasanya memang kurang berfaedah kecuali untuk mengisi waktu luang (sebagai ganti dari teka-teki silang, kelebihan pulsa, dan jempol yang terlalu berotot buat balas SMS).


“Pa kbr, Sayang….”

“Baik-baik, Sayur! Nih, aku lg makan ama teror mata sapi..."”


18 Mei 2009

Hubungan Sandal dengan Puisi



Suatu pagi, tetangga saya, dengan membawa main keponakannya, bertandang ke rumah. Siang harinya, dia menelepon, menyampaikan berita kalau si keponakan menangis karena sandalnya ketinggalan. Dia bilang, “Nanti ashar saya ambil, ya!”


Saya jawab, “Silakan, tetapi saya tidak di rumah. Biar saya letakkan sandal itu di depan pintu dan kamu tinggal mengambilnya..”


Agar tidak tertukar, saya sandingkan sandal-si-keponakan-kawan itu bersama sandal kemaharajaan-ku karena khawatir akan tertukar lagi dengan sandal anakku.


Kesimpulan: cara singkat membuat definisi (untuk memperkenalkan sesuatu kepada orang lain) sebetulnya cukup dengan mengenali/memperkenalkan ciri-cirinya, atau sesuatu yang dekat dengannya. Dakwah, demikian atau iklan, saya kira cukuplah dengan memberi ciri, biarlah orang lain membuat pengertian sendiri berdasarkan persepsinya.Ciri-ciri mobil, misalyna, antara lain: beroda empat , berbahan bakar, berkemudi, berkabin, dll.




Namun, sandal yang sebelah kanan di atas mirip puisi. “Sandal ban” biasanya berbahan ban bekas. Dan itu, itu tu…, bukanlah sandal yang berbahan ban bekas. Ia terbikin dari ban anyar Bidgestone Turanza 16” ukuran 60 X 205 yang langsung dibeli dan dipotong-potong untuk dibuat sandal. Tujuannya: mengurangi selip di jalan rumah saya yang licin-padas menjadi satu.


Nah, mengapa kita sulit memahami puisi? Ya, karena puisi menyimpan definisi dan ciri yang tidak terduga, dan karena yang majazi cenderung dibaca dengan hakiki, yang metaforis selalu diterima secara literal; sekurang-kurangnya, seperti sandal itu.


Karena itu, yooook berhenti berburuk sangka atau shu’out dhown (gak baik bagi otak dan bisa mematikan komputer!) Siapa tahu yang ada di hadapan Anda itu puisi pada saat Anda membacanya dengan pandangan hakiki.


(nyambung gak nyambung yang penting menjadi satu, itulah Indonesia)


Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog