Sebetulnya, keinginan untuk menulis catatan kenangan ini muncul tak terduga. Saat saya ingin menulis sebuah prosa tetap tidak segera menemukan momen yang pas, istilahnya tidak mood, muncullah gagasan ini. Nah, tiba-tiba saya teringat sebuah buku. Mungkin, ini adalah buku fiksi pertama saya. Kala itu, saya masih kelas 5 madrasah ibtidaiyah (setara SD). Tulisan ini pernah saya publikasikan di facebook.

Kira-kira tahun 1985, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, antara kelas 5 atau 6, saya gemar membongkar-bongkar buku untuk dibaca di perpustakaan sekolah. Namun, perpustakaan yang saya maksud bukanlah perpustakaan madrasah ibtidaiyah tempat saya menuntut ilmu, melainkan Perpustakaan Madrasah Tsanawiyah Putri Annuqayah yang dikelola oleh kakek saya dan terletak di samping rumah).

Koleksi buku di perpustakaan tersebut sangat terbatas. Barangkali, karena alasan inilah kegemaran saya ini terbentuk. Meskipun tidak secara lahap, fiksi maupun nonfiksi, semua saya baca tak pandang buku. Di antara bahan bacaan yang paling saya suka adalah buku-buku inpres bertema ilmu pengetahuan alam. Buku-buku ini bergambar dan sifatnya serial, antara lain buku tentang sejarah kereta api, batu-batuan, listrik, mesin uap, dan pesawat terbang. Sayangnya, tidak satupun buku yang saya ingat judulnya, kecuali buku tentang pesawat terbang—kalau tidak salah—berjudul “Wilbur Wright Bersaudara” (untuk kategori non-fiksi) dan “Jarot Pahlawan Cilik” (untuk kategori fiksi).

Pada suatu hari, saya mendapatkan sebuah buku di luar perpustakaan. Saya tidak ingat, buku apa itu. Yang pasti saya ingat adalah: buku itu terbitan Gaya Favorit Press, beralamat di Jakarta. Berbekal alamat di sampul belakang buku serta kesukaan berkirim surat, dengan perasaan polos, saya mengirimkan selembar kartu pos berperangko Rp100,- kepada penerbit. Di sana saya tulis, bahwa saya adalah seorang pelajar di desa terpecil, kurang bahan bacaan, lengkap dengan alasan sedih ini-itunya; jujur dan tidak gombal. Paragraf kedua berisi permohonan. Paragraf ketiga, sudah barang tentu, ucapan terima kasih.

Selang beberapa minggu, bukan alang-kepalang saya gembira ketika melihat seorang petugas pos datang membawa amplop berwarna coklat. Saya buka; wow! Sebuah buku. Ya, itu buku yang tempo hari saya minta. Beruntung, dan kebetulan sekali, buku yang saya terima adalah buku fiksi kesukaan saya. Buku tersebut adalah buku kumpulan cerita pendek karya Darwis Khudori, “Gadis dalam Lukisan”.

Suatu hari, 21 tahun kemudian…

Siang itu, tepatnya tahun 2006, saat saya membaca sebuah buku kumplan cerpen berjudul “Odah dan Cerita Lainnya” karya Mohammad Diponegoro, entah mengapa tiba-tiba saya teringat buku kumpulan cerpen yang saya baca 21 tahun yang silam itu. Mendadak muncul keinginan untuk mencari tahu, di manakah si penulis buku “Gadis dalam Lukisan” itu kini berada.

Singkat cerita, saya mengirim pesan kepada Mas Mathori A Elwa. Dia membalas, “Aku gak tahu. Coba kau tanya Mustofa W. Hasyim, mungkin dia tahu.” SMS serupa akhirnya saya alihkan ke Mas Mustofa. Namun, dia juga hanya memberikan saran, “Coba kamu tanya si fulan di Yayasan Pondok Rakyat.” Setelah saya menghubunginya, seseorang itu meminta maaf karena ternyata dia juga tidak tahu-menahu. Namun, si fulan ini juga memberikan anjuran yang sama, yakni agar saya menghubungi seseorang yang lain di sana. Nah, dari seseorang yang lain inilah, akhirnya, saya mendapatkan alamat kontak Bapak Darwis Khudori.

Berdasarkan alamat emailnya, saya menduga, Pak Darwis Khudori tinggal di Perancis. Segera saya layangkan sebuah email kepadanya. Isi email tersebut antara lain berisi testimoni seorang pembaca kepada seorang penulis, tentang sebuah keinginan untuk mengenal lebih jauh sang sastrawan. Kurang dari sebulan, Pak Darwis membalas.

Bahagia rasanya mendapatkan balasan dari seseorang yang sejak bertahun-tahun silam saya kagumi karya-karyanya. Namun, yang lebih mengagetkan adalah sebuah pernyataan, bahwa kira-kira pada kisaran tahun 1978-an, saat saya masih berusia 3 tahun, beliau mengaku pernah tinggal di Annuqayah, di kampung saya itu, untuk beberapa waktu lamanya. Setelah saya cari informasi dari beberapa orang yang saya yakini tahu perihal beliau, seseorang yang datang dari jauh dan tinggal di Annuqayah pada kisaran tahun 1978 itu, mereka membenarkannya, meskipun mungkin mereka belum tahu kalau Darwis Khudori itu kini menjadi profesor di University of Le Havre.

Itulah kisah perjumpaan saya dengan sebuah buku (pertama) yang membangkitkan hasrat saya untuk menulis. Saya berusaha mengingat-ingat kembali kenangan itu sekarang, tentang sebuah keinginan yang kuat, tentu agar saya bersemangat lagi, kembali berapi-api.


Labels: ,




Bebas dari Plastik

Minggu, Desember 26, 2010


Apakah Anda dapat bebas dari ketergantungan akan plastik?

Setiap hari, hidup kita nyaris tidak bisa dipisahkan dari plastik. Barang ini ini begitu akrab dan dominan dalam kehidupan dan kebutuhan kita. Ya, ia adalah bagian penting dari kehidupan kita sendiri. Bahkan, ia nyaris menjadi gaya hidup kita. Mengapa sampai-samapi begini? Salah satu alasannya barangkali karena plastik begitu mudah, begitu simpel, dan tentu murah.

Air kemasan, misalnya. Meskipun air mineral dalam kemasan telah ada sejak pertengahan tahun 80-an, namun air kemasan sebagai bagian yang selalu ada bersama hidangan/prasmanan belumlah sepopuler seperti saat ini. Sekarang, kaya miskinpun sama-sama menggunakan air gelas dalam kemasan untuk minum di undangan, bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Di rumah, di dalam perjalanan, bahkan di dapur pun, mungkin dengan mudah kita menusukkan sedotan ke dalam air kemasan itu.

Barangkali memang tidak semua tahu bahaya sampah plastik. Barangkali masih sedikit yang tahu (atau tahu tapi tidak peduli), bahwa plastik tidak dapat diurai dengan mudah oleh tanah; butuh puluhan, atau ratusan tahun untuk itu. Karena itu, plastik tidak bisa dibuang dengan mudah/sembarangan karena alasan di atas. Kalau dibakar? Plastik tidak dapat dibakar karena berbahaya, tidak saja bagi kesehatan manusia, melainkan juga pada alam dan lingkungan kita. Repot, bukan?

Saya, bahkan kita semua, tentu sulit melepaskan diri dari plastik. Ia mengikuti dan menjebak semua sisi kehidupan kita. Barangkali, kita hanya bisa berusaha untuk mengurangi pemakaian plastik dengan nawaitu mengurangi bahaya-bahaya sejenis itu.

Ini kisahnya:

Suatu saat, saya masuk ke sebuah toko swalayan di Pamekasan. Saya membeli pengharum ruangan. Kasir membungkusnya dengan tas plastik (yang tidak berketerangan, bahwa plastik tersebut dapat diurai oleh tanah dan aman bagi lingukugan / “plastik ramah lingkungan”). Saya langsung berpikir.  

“Terima kasih plastiknya,” kata saya sembari melambaikan tangan kanan tanda menolak. “Saya bisa membawa belanjaan ini dengan tangan.”
“Oh, ini garits, Pak!” balas si kasir, datar tanpa senyuman.
“Iya, saya tahu itu. Biar saya bawa ini dengan tangan saya saja.”
Penjaga laci duit itu menjawab datar.
“Barang-barang yang dibeli di toko ini harus dibungkus dengan tas pasltik ini, Pak.”

Akhirnya, saya menyerah. Saya kalah. Kasir itu mengoper barang belanjaanku ke tukang bungkus yang berdiri di belakangnya. Si tukang bungkus ini kemudian menyerahkannya kepada saya. Nah, pada saat itu, saya ambil barang belanjaaku itu dan saya kembalikan tas plastik itu kepada si tukang bungkus sambil berkata.

“Ini, buat kamO!”


Labels: ,




Permohonan Tulisan

Jumat, Desember 10, 2010


Akhir tahun 2004, esai pertama saya dimuat di koran Jawa Pos, “Benang Kusut Industri Perbukuan”. Dengan adanya publikasi ini, saya senang sekali mengingat ini merupakan esai pertama yang saya tulis, sekaligus yang pertama dimuat di media massa sebesar Jawa Pos.

Cerita demi cerita, beberapa bulan sesudahnya, saya mendapatkan sebuah panggilan dari nomor PSTN/bukan seluler. Awalnya, saya menduga itu dari nomor kantor. Panggilan ke ponsel yang selama ini saya terima umumnya berkepala 031 (Surabaya) atau 021 (Jakarta). Ya, biasa, urusan buku atau honor. Nah, kali ini kepala 24 (Semarang). Sontak saya berpikir, apakah akhir-akhir ini saya pernah mempublikasikan karya saya di media area Semarang/Jateng? Rasanya tidak. Panggilan itu langsung membuat saya bangga seketika.

“Apa ini benar dengan Bapak M. Faizi?” suara dari seberang
“Iya, betul.” Saya membetulkan posisi ponsel agar mike-nya lebih pas ke telinga
“Begini, Pak. Kami dari redaksi majalah ingin meminta Bapak menulis untuk majalah kami.”
“Oh, ya?” saya sumringah, lalu melanjutkan “Puisi, prosa, atau apa?”
“Terserah Bapak.” Suara dari seberang masih datar-datar saja.
‘Lho? Kok bisa begitu? Eh, memang ini dari redaksi majalah apa?”

“Bobo” katanya, masih dengan intonasi yang sama dan langsung disusul dengan tawa. Ya, beberapa detik setelah itu, barulah saya sadar, bahwa saya dikerjaian oleh teman saya sendiri yang sekarang telah berpulang ke rahmatullah. Allahummaghfir lahu.


Labels:




Menanam untuk Orang Lain

Rabu, Desember 01, 2010


Suatu saat, beberapa bulan sebelum ayah saya wafat, beliau menanam pohon klengkeng di depan kamar. Klengkeng ini kami peroleh dari seorang teman. Kami merawat klengkeng ini dengan sangat hait-hati. Maklum, tanah di tempat saya kurang subur. Tanahnya pejal berbatu-batu. Pasti, klengkeng ini akan tumbuh secara lambat jika ditanam di sini, begitu pikir saya. 


Suatu hari, dua tahun kemudian, sebuah mobil tamu menabraknya saat berjalan mundur. Peristiwa itu terjadi ketika saya tidak sedang di rumah. Sungguh saya sangat geram melihat kejadian ini. Saya memaki-maki sendiri.

Seminggu yang lalu, saya menanam pohon klengkeng yang baru. Ya, tiba-tiba saja saya ingat percakapan dengan kakek ketika saya masih belia. Dulu sekali, kakek hendak menanam pohon asam di depan madrasah. “Untuk apa kakek menanam pohon asam itu” tanya saya. Saya berpikir ketika itu, untuk apa kakek menama pohon asam sementara dia – dalam hitungan saya – nyaris tak mungkin bisa mencicipi buah asamnya, tidak akan merasakan nikmatnya berteduh di bawah rimbun daunnya mengingat usia beliau sudah begitu lanjut, begitu pikir saya.

“Untuk kalian,” jawab kakek ketika itu. Nah, demikian pula, saya akhirnya berkesimpulan, menanam pohon, apalagi klengkeng yang butuh puluhan tahun agar besar dan rimbun, tentu tidak harus untuk kita ambil manfaat secara langsung untuk diri sendiri, melainkan untuk anak cucu kita. “Menanam untuk orang lain”, mungkin begitu kira-kira


Labels: ,




Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) becak. setiakawan (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (4) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (21) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog