28 Desember 2011
Rapat
Setiap ada undangan rapat, saya merasa malas untuk menghadirinya. Mengapa? Setiap kali menghadiri undangan rapat, biasanya, dan hal ini berkali-kali saya alami, saya hanya mendengar orang mengeluh. Peserta rapat umumunya menyampaikan keluhan.
Nah, dari keluhan yang satu muncul keluhan yang lain. Keluhan salah seorang peserta rapat memancing gairah peserta yang lain untuk juga mengeluh. Misalnya begini, jika ada salah seorang peserta menyampaikan keluhan tentang kebiasan buruk orang yang suka membuang sampah bukan pada tempatnya, peserta yang lain cenderung menambah persoalan serupa, tentang kebiasaan buruk yang lain. Ia juga menyampaikan keluihan, bukan turut membantu menyelesaikan masalah yang sedang dibicarakan
Dalam rapat, saya berusaha untuk tidak menambah beban kerutan kening peserta rapat. Saya jarang berkomentar untuk hal-hal yang seperti itu. Karena itulah, saya berusaha hanya menyampaikan komentar yang menyengkan, sekurang-kuranganya dapat menetralkan kekalutan air muka para peserta, misalnya dengan ucapan: “Para peserta rapat, nanti kita akan makan siang dengan menu ikan bakar dan nasi rawon.”
Semoga itu menjadi menu untuk rapat mendatang.
20 Desember 2011
Dilarang Parkir
“Bu, rujak, satu.” Saya mengacungkan jari telunjuk.
“Bungkus?”
“Tidak, makan di sini.”
Si ibu menghilang dari pandangan, mengaduk kacang dan tentu mengupas mentimun setelah itu. Dia menunaikan tugas untuk satu pesanan rujak, untuk saya. Larangan parkir tidak berlaku lagi.
05 Desember 2011
Waktu Indonesia bagian Lenteng
“Rang-terrang tana” (waktu matahari belum terbit tetapi sudah sangat terang); “Manjing dluha” (saat matahari setinggi tombak atau sekitar 15 menit setelah terbit matahari); “Ban-aban laggu” (nah, ini yang tidak jelas, yaitu waktu antara pagi menjelang siang), sama juga dengan penanda waktu “Sar-Ashar mabha” (setelah shalat ashar tetapi sudah agak sore menjelang Maghrib).
Ada pula yang lebih tegas, yaitu penanda waktu berdasarkan waktu shalat, antara lain, bakda Maghrib, bakda Isya’, dan bakda-bakda yang lain. “Bakda” artinya “setelah”. Bakda Maghrib atrinya setelah shalat Maghrib secara sempurna. Penanda waktu seperti ini biasanya digunakan untuk acara tahlilan dan lain sebagainya. Namun, untuk acara walimah/akad nikah, masyarakat menggunakan penanda waktu angka sebagaimana lazimnya, seperti pukul 10.00 WIB, atau pukul 1 siang istiwa’, dan seterusnya.
Molor? Ya, saya sering menghadapi dan mengalami keadaan seperti ini, kecuali untuk acara walimah/akad nikah di daerah Pore dan Cangkreng sekitarnya (kecamatan Lenteng, Sumenep). Saya sangat kagum terhadap komitmen masyarakat di sana terhadap waktu karena nyaris tidak pernah molor dalam menentukan acaranya.
14 November 2011
Poligami dan Kejujuran
09 November 2011
Sarmo dan Ponar
Di Madura, di daerah tempat saya tinggal, ada istilah “sarmo” dan “ponar”. Dua istilah ini selalu disebut secara berdampingan. Sarmo berarti akur. Misalnya, dua mempelai itu telah sarmo. Istilah ini menandakan bahwa pada umumnya, perjodohan antarpasangan biasanya direncanakan oleh orang tua kedua pihak dan tanpa kehendak pasangan bedua. Karena itu, banyak pasangan yang tidak saling mengenal satu sama lain, seperti umumnya di kota-kota yang kenal lebih dulu (pacaran). Mereka baru berkenalan di pelaminan, tentunya setelah akad nikah.
Sementara ponar adalah jenis makanan. Ia adalah ketan berwarna kuning. Apakh filosofi warna ini? Entahlah. Yang jelas, ponar diberi warna agar ia tidak dianggap ketan biasa, atau sebagai makanan biasa. Ponar adalah makanan istimewa, makanan pertanda. Hanya saja, adanya hantaran (ter-ater) atau suguhan ponar kepada tetamu menunjukkan bahwa kedua mempelai telah sarmo alias akur alias telah tidur bersama.
Saat ini, ponar masih terus disuguhkan. Namun, keberadaan ponar mulai kehilangan pelambangan/simbolisasinya karena ia telah mulai menjauh dari pengertian asalnya. Ponar mulai tidak berdampingan lagi dengan sarmo. Ponar, ya, ponar sebagai makanan semata. Demikian pula, istilah sarmo kini sungguh jarang dibicarakan mengingat lebih banyak pasangan yang kenal lebih dulu sebelum mereka berdua beranjak ke pelaminan.
11 Oktober 2011
Pungli, "Yang Biasa"
17 September 2011
Layang-Layang Cangka
16 Agustus 2011
Minyak Wangi dan Konsentrasi
08 Agustus 2011
Keinginan, Nasib, Rezeki (Edisi Ramdhan)
Keinginan teman saya ini sederhana, tetapi butuh spekulasi yang tinggi: menang undian/lotere sekitar 1 milyar. Semua duitnya akan didepositokan dan dia tidak akan bekerja atau investasi apa pun. Dia hanya akan menikmati hidup dengan duduk baca koran di pagi hari, siang nonton tivi, dan jalan-jalan sampai malam. Ia hanya ingin hidup dari bunga bank. Cukup.
Ada pula seorang yang sungguh sangat kagum dan bernafsu menjadi pegawai. Pokoknya pegawai, apalagi pegawai negeri. Karena dengannya, kata dia, hidup dia akan terjamin setiap bulan. Kelak, dia juga akan tenang menghabiskan hari-hari di masa tua. Namun, kasihan yang ini: dia belum meraih cita-cita itu sampai sekarang meskipun telah banyak menghilangkan sawah dan ladang orang tuanya. Entah untuk apa.
Satu lagi. Dia yang ingin menjadi orang terkenal. Keinginan ini berdasar pada faktor dendam. Dan dia tidak tidak main-main untuk ini. Ia belajar menyanyi, bersengau-sengau kalau bicara, dan sangat mencintai cermin. Rambutnya selalu rapih, pakaian bersih, dan punya hobi bersisir. Ia ingin jadi sejenis artis, sekurang-kurangnya masuk tabloid showbiz lah. Tujuan akhirnya bukanlah duit, melainkan dengannya dia berharap bisa memilih pasangan yang paling cantik lalu menunjukkan kepada perempuan-perempuan desanya yang telah menolak cintanya.
Ada yang lurus-lurus saja; ini beda lagi. Jalan hidupnya seperti kereta api. Serongnya tidak diketahui. Pikirannya seperti kubus: kotak-kotak. Ia seoalah-olah tidak pernah punya cita-cita. Nasib membuatnya menikah dengan tunangannya yang kebetulan kaya mendadak. Lalu, kebetulan lagi, si putri anak tunggal yang didukung oleh kebetulan lainnya lagi; baru menikah, mertua meninggal. Lelaki itu kini belajar mengemudi, punya mobil mendadak. Dia itu sangat mencintai kebetulan.
Sungguh, ini adalah macam-macam keinginan, pekerjaan, dan nasib. Kiranya, tidak ada yang salah dengan keinginan itu. Saya menulis catatan ini hanya karena tiba-tiba menyadari, betapa banyak cara pandang orang untuk mengetahui cara memperoleh rezeki, bahkan termasuk dengan cara yang jahat, seperti korupsi. Masih mending jika itu hajat dasar hidup, seperti makan. Yang aneh adalah tetap menempuah cara yang haram hanya untuk bermewah-mewah.
Satu lagi: di antara semua teman yang saya kenal, keinginan Udin yang paling remeh. Ini buktinya: “Perempuan seperti apa yang kamu inginkan, Din?”/ “Tidak perlu cantik karena aku juga tidak tampan. Tidak perlu kaya karena aku juga masih pengangguran. Yang seimbang lah. Tapi kalau boleh berharap…” / “Iya, apa harapanmu menyangkut perempuan calon istrimu itu, Din?” / “Punya rumah di tepi jalan.” / “Hanya itu?” / “Iya. Karena aku sudah bosan tinggal di pedalaman selama 20 tahun, jauh dari jalan raya dan lalu lintas kendaraan.” Sungguh. Ini keinginan beneran dari manusia beneran.
Terus terang, karena saya bukan pekerja kantoran, tidak memperoleh pendapatan yang pasti setiap bulan, maka wajar jika saya selalu khawatir, sudah murnikah makanan yang saya telan? Apakah rezeki itu saya peroleh dari jalan yang suci dan benar-benar bebas dari sogokan? Nah, di bulan suci ini, kiranya masih banyak yang menikmati rezeki dari jalan yang kotor. Bahkan, terkadang untuk kepentingan suci di tanah suci, benar-benar ada orang yang membiayainya dari rezeki yang tidak benar-benar suci.
Na’udzubillahi minas sogok, ya, Rabbi..
06 Juni 2011
Syaikh Abdul Basith Abdus Shamad dan Teknik Qiraahnya
Terbitan ini saya naikkan demi permohonan teman yang secara tidak sengaja menemukan kerinduannya pada masa lalu, tepatnya pada suara Syaikh Khalil al-Husari pada terbitan saya yang berjudul “Al-Hujurat dan Ar-Rahman Versi Syaikh Mahmud al-Husari”.
Syaikh Abdul Bastih Abdus Shamad dan Syaikh Mahmud Khalil al-Husari hidup hampir semasa. Berdua mereka sama-sama berasal dari Mesir. Namun, popularitas syaikh Abdul Bastih Abdus Shamad ini dikenal lebih baik karena dia memiliki teknik bacaan yang istimewa dan beda daripada qari’ yang lain. Aritnya, syaikh ini tidak saja berbekal kebagusan suara saja. Dalam amatan saya, salah satu teknik sari syaikh Abdul Bastih Abdus Shamad yang menonjol adalah teknik “membuka-menutup mulut dengan tangan kanan guna menimbilkan efek derau” (seperti bunyi hujan yang dibawa nagin: kadang nyaring, kadang hilang). Anda bisa saksikan teknik seperti ini di dalam video-videonya yang mudah Anda temukan di internet.
Syaikh Abdul Bastih Abdus Shamad, menurut cerita yang saya peroleh dari Paman Abdul Bastih Bahar, pernah datang ke Indonesia, tepatnya di Gondanglegi, Malang. Qiraah yang beliau bacakan ini (silakan diunduh pada tautan di bawah) konon dibacakan pada sebuah haflah para qari’ yang ketika itu syaikh datang sebagai peserta biasa, bukan sebagai undangan. Namun, semua hadirin ketika itu takjub dan terkagum-kagum kepada suara beliau yang sama seklai tidak diduga sebelumnya. Tentang kebenaran riwayat di atas, saya kurang tahu persis karena berita ini saya dapat hanya dari mulut ke mulut.
(setelah membaca terbitan ini, saya mohon Anda mengirimkan sedekah surat Al-Fatihah untuk beliau. Untuk file mp3 Surat Ad-Duha, silakan unduh di sini)
02 Juni 2011
Tambal Ban dan Pekerjaan Sampingan
Pak Sander adalah tukang tambal yang langka karena dia tidak akan marah dan tidak menggerutu jika dibangunkan tengah malam sekali pun. Namun, sisi lain dari kebaikan ini, ada pula terkadang orang yang memanfaatkannya. Misalnya, ada pengendara sepeda motor lalu meminta tolong ditambalkan bannya, tengah malam, dibikinkan kopi, dan meningglakan utang dengan alasan tidak membawa uang receh atau ketinggalan dompet. Utang-utang itu pun terus tak terlunasi sampai sekarang, sampai Pak Sander telah berpulang. Kasihan.
* * *
Tadi malam, saya menemukan hal serupa. Sewaktu numpang ojek dari Prenduan ke Guluk-Guluk pukul 02.10 dinihari, saya ikut ojek Pak Ram. Ban depan motor Kaze-nya pecah setelah kira-kia 4 kilometer perjalanan. Pak Ram ini menepikan kendaraannya di sebuah rumah di tepi jalan. Ia mengetuk sebuah sambil memanggil sebuah nama. Si tukang tambal keluar sambil kucek-kucek mata. Saya tidak melihat dia merengut. Ia mengeluarkan perkakas dan segera menambal. Kira-kira 20 menit, pekerjaannya selasai kami pun berngkat kembali. Pak Ram berkata, “Memang dia begitu. Dia mau dibangunkan kapan saja jika ada orang yang membutuhkan pertolongannya.”
Saya menjawab, “Orang seperti dia itu pasti sudah jarang kita temukan, ya, Pak.” Pak Ram mungkin tidak mendengar perkataan saya karena desir angin atau suara saya kalah pada bunyi knalpot sepeda motor. Saya meneruskan di dalam hati, “Dia yang bekerja jadi tukang tambal ban tidak semata sebagai sumber penghidupan, melainkan juga sebagai upaya menjadi manusia yang suka menolong.”
19 Mei 2011
For Example
Singkat cerita, ketika Om Amal, paman saya, menginstal netbook itu, dia bertanya, “Computer name-nya mau dikasih nama apa?”
“Ya, sembarang-lah. Kasih saja seperti contoh, for example Mr. John.” Saya tersenyum nyaris tertawa. “Misalnya, kasih nama For Example M. Faizi,”kata saya.
Seminggu lamanya saya pegang itu netbook, tiba-tiba kebutuhan banyak datang berbarengan, menyerbu kocek saya; listrik, telepon, kopi, dan macam-macam yang lain. Saya kelabakan. Dan karena saya merasa telah melanggar perjanjian saya dengan diri sendiri, bahwa cicilan untuk netbook itu akan saya upayakan dengan cara ‘bikin honor’ sementara seminggu ini saya hanya main facebook, habislah niat mencicil saat itu pula. Beban cicilan netbook yang hanya berusia seminggu dan kurang lebih 3 X charging itupun berpindah ke paman saya, Man Naqib.
Sejak saat itu, saya menyesal telah main-main. Ya, saya menyesal telah memberi nama computer name itu dengan embel-embel “for example” di depan nama saya. Betul, mungkin ini hanya main-main, tetapi kemungkinan lainnya, cara ini, jika berbarengan dengan kehendak Allah, akan juga menjadi sebuah pengharapan, dan nyata.
03 Mei 2011
Paguyuban Becak: Korban Kesetiakawanan
* * *
Saya naik angkutan dari Guluk-Guluk, turun di Prenduan, lalu oper, naik angkutan lagi dan turun di Gurem. Saya berteduh sejenak dan hujan yang deras mengguyur, deras luar biasa. Dari Gurem saya oper lagi ke angkutan yang ke arah selatan untuk selanjutnya turun di Silur itu. Semua perjalanan saya dariGuluk-Guluk ini benar-benar perjalanan melawan hujan deras. Usaha saya memperoleh hasil sekitar 70% kering dan 30% dari basah dari total pakaian.
Namun, dari Silur itu, saya memanggil abang becak dan naik di depan.
“Mana?” tanyanya.
“Astah, Soklancar,” jawab saya singkat.
Becak dikayuh cepat. Tapi…
“Pak, mana ini tutup plastiknya?” tanya saya kepada si abang yang membiarkan saya terkena hujan.
“Gak ada,” enteng dia menjawab.
“Kenapa tidak diberi plastik?”
Sambil mengayuh cepat, dia menjawab, “Becak saya sudah diberi tudung plastik, tetapi kawan-kawan sesama kawan paguyuban becak selalu menyobeknya.”
“Lho, kok?”
“Iya, kata mereka biar sama-sama tidak pakai tutup plastik, dan penumpang tidak pilih-pilih becak kalau hujan begini..”
Astaga! Akhir cerita, saya tiba di lokasi dalam keadaan basah kuyup.
21 April 2011
The Audience is Listening
Barusan saya naik bis bumel dari Tanah Merah (Bangkalan) sampai Prenduan (Sumenep). Dari Blega, naiklah dua orang bercelana, bertambang mahasiswa S2. satu di antaanya ngomong tiada henti, dan terus ngomong hampir sejam lamanya, sampai bis tiba di terminal Sampang karena dia tidur. Saya senang. Setelah itu yang terdengar hanya bunyi mesin, klakson, dan knalpot. Eh, kok hanya dalam tujuh menit, dia bangun lagi dan mulailah dia ngomong lagi. Kawan duduknya hanya mendengarkan. Sesekali menanggapi. Saya meliriknya, dan dia tidak peduli dengan air muka saya yang menunjukkan kalau saya tidak suka. Adapun kata-kata kunci yang dibicarakannya adalah penguatan, pemberdayaan, pembangunan, dan sejenisnya.
Orang-orang desa yang bertampang kumuh di dalam kabin bis tua itu diam. Tidak ada orang yang berbicara secara keras. Merekalah yang justru diam. Rasanya, butuh adanya pelatihan untuk menjadi pendengar yang baik, bukan saja pelatihan untuk menjadi pembicara yang baik.
29 Maret 2011
Terjepit Undangan
Pagi harinya, pukul 07.10, lagi-lagi saya berangkat untuk acara akad nikah di daerah Payudan. Jaraknya berkisar 28 kilometer pergi-pulang. Begitu acara akad nikah selesai, saya langsung minta izin pulang sebelum hidangan disajikan mengingat jam 09.30 saya terlanjur mengikat janji dengan bis P.O. Haryanto yang akan membawaku ke Jakarta, juga untuk undangan. Bedanya, ini adalah undangan untuk menghadiri pameran bis dan truk serta alaat-alat berat di The Indonesia International Bus, Truck & Components Exhibition atau IIBT di Jakarta International Expo, Kemayoran.
Berangkat Kamis siang, saya tiba Jumat pagi di Jakarta. Pagi hari Jumat langsung menyusuri sudut-sudut kota Jakarta dengan sepeda motor, sore lihat pameran, malam bertandang ke rumah kawan. Sabtu esoknya kembali ke rumah. Menempuh perjalanan 18 jam lebih, akhirnya saya tiba di rumah pada hari Ahad pukul 06.30. Setengah jam saya gunakan untuk bikin kopi dan cuci muka, karena pada pukul 07 sudah kembali berangkat untuk acara walimah (lagi) di Paojajar, Prancak. Pukul 10.30 siang saya pulang dari lokasi. Namun, tak ada waktu istirahat karena saya dan keluargaku, juga ibuku, kembali berangkat ke Bangkalan untuk menghadiri acara resepsi pernikahan (lagi). Ya, apa boleh buat, perjalanan 133 kilometer (sekali jalan) pun ditempuh.
Dan inilah akibat dari semua itu: karena dalam perjalanan ke Bangkalan itu pun saya tidak sempat memejamkan mata, rupanya kecapekan dan kengantukan terakumulasi dan mengakibatkan “kartu merah”. Di lokasi resepsi, saat MC memegang mike untuk membuka acara, saat itu pula saya tertidur dalam posisi tetap duduk manis di kursi. Saya terbangun oleh tepukan tangan. Saya melihat sepiring nasi dijulurkan ke haribaan.
“Loh, aneh. Biasanya, acara makan itu ada di akhir acara.”
“Sudah selesai, Kak!” kata adik sepupuku yang duduk di samping kiriku.
Rupanya, sepanjang acara saya tertidur. Ya, apa lacur. Demikianlah, saya datang ke kondangan itu hanya untuk tidur dan makan. Yang pasti, barakallahu lahuma deh pokoknya.
21 Maret 2011
Mobil Irit BBM
Si adik memberi saran, “Mas, Sampeyan ganti mobil Lovina saja. Saya pergi ke mana-mana, wah, bensinnya nggak habis-habis tuh. Apalagi jika dibandingkan dengan kendaraan Hayas milik Sampeyan ini, kendaraanku sungguh ini akan tersa sangat irit.
Tak perlu menunggu lama, saudara yang satu si pemilik Hayas langsung menjawab, “Iya, betul, tapi punyamu itu boros pada pembelian.”
14 Maret 2011
Sarang (tolak hujan)
“Siapa sih yang pawang (hujan) acara ini?” tanya Sabri iseng, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Kenapa? Siapa lagi kalau bukan Samrawi,” jawab As’ad. Samrawi adalah paman daripada Sabri yang kebetulan juga ada di tempat itu. As’ad tertawa karena menganggap Sabri salah ambil langkah dalam bertanya.
Bukannuya kikuk, Sabri malah berdalih.
“Untung Paman Samrawi yang sarang. Coba bukan dia, mungkin banjir malam ini.”
13 Maret 2011
Duel Meet Dua Penceramah
Ceramah adalah suara satu arus. Tugas penonton hanya mendengarkan, ya the audience is listening. Maka dari itu, materi-materi yang disampaikan dalam ceramah, di satu sisi, akan selalu aman mengalir sampai ke telinga pendengar. Namun, pernyataan ini bukan berarti penceramah boleh semena-mena dengan gagasan yang disampaikannya.
Di Madura, sering kali ada acara yang menampilkan lebih dari seorang penceramah. Bahkan, pada acara-acara haflatul imtihan atau kegiatan tutup tahun sebuah madrasah, atau maulid nabi, ada yang menampilkan tiga penceramah sekaligus. Suatu peristiwa terjadi berkaitan dengan hal ini: seorang penceramah secara berapai-api mengungkapkan gagasannya di atas panggung. setelah satu jam lebih, ceramah selesai dan dia turun dari panggung.
Mungkin, karena statemen dari si penceramah pertama ini dianggap membahayakan atau khawatir disalahpahami, waktu dimanfaatkan oleh penceramah kedua untuk memberikan tanggapan balik. Sayang, tanggapan baliknya ini cenderung mengadung kritik terhadap pesan yang telah disampaikan oleh penceramah pertama tadi.
Di sana, di bawah panggung, penceramah pertama yang kini duduk di sofa baris depan bersama tuan rumah, tampak mulai gelisah. Ia menoleh ke kanan dan kiri, berbisik kepada teman duduknya. Ia sampaikan bahwa yang tadi telah disampaikananya telah disalahpahami oleh penceramah kedua. "Padahal saya tidak bermaksud demikian," katanya. "Saya tidak sembarangan begitu."
Siapa yang bingung? The audience is listening.
22 Februari 2011
Tamu-Tamu Online
05 Februari 2011
Ditilang, Mengancam
Ini adalah adegan percakapan antara penumpang dan petugas. Sopir mobil carteran terlanjur pasrah dan diam karena STNK dan SIM-nya sudah berpindah ke tangan petugas.
“Kendaraan Anda kelebihan penumpang!” kata petugas dengan nada tegas.
“Beh, Pak! Kami ini mau pergi ziarah ke Syaikhona Kholil, Pak!”
“Iya. Itu urusan Anda, mau ke mana saja terserah Anda. Tapi kendaraan ini kelebihan penumpang dan tetap harus ditilang. Mari, mari kita selesaikan di pos.”
“Lha... Pak! Pak! “Orang tua itu memanggil-manggil petugas. Sementara si sopir pasrah karena membayangkan denda yang harus dibayarkan, di pos atau di pengadilan.
“Pak!!” Kali ini, lelaki itu memanggil petugas dengan nada nyaris berteriak, “Sampeyyan ini mau tilang kami? Benar? Sampeyyan ndak takut kena tola (tulah)? Kami ini mau ziarah ke pasarean Syaikkona Kholil lho. Awas, ya. Saya ndak tanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan Sampeyan besok.”
04 Februari 2011
Plat M
“Jangan! Jangan mutasi mobilmu ke plat M kalau memang mau digunakan perjalanan ulang-alik Madura-Jawa..”
Testimoni ini, dulu, kerap kali saya dengar di sela-sela pembicaraan antarpengemudi atau para pemilik mobil carteran. Di Madura, sebagaimana lazim diketahui di era pertengahan 80-an hingga awal 90-an, banyak sekali kendaraan MPV/station wagon (berupa Colt T 120, Hiace, L300, atau Suzuki Carry, yang digunakan mobil carteran. Umumnya, mobil-mobil ini disewa untuk kepentingan kondangan ke Jawa, ziarah, atau lainnya.
Dulu, saat semua kendaraan harus melewati penyeberangan Kamal untuk tiba di Ujung (Jawa), kendaraan-kendaran plat M, kata gosip yang berkembang di kalangan sopir, senantiasa jadi santapan empuk dalam urusan tilang. Biasanya, pelanggaran tersebut mencakup urusan tuduh-menuduh seputar “taksi gelap”, dan lain-lain. Mengapa palt M? Anehnya, ini juga kata gosip yang mereka kembangkan, kendaraan serupa akan relatif lebih aman asalkan plat nomornya non-Madura (bukan plat M), lebih-lebih plat L (Surabaya). Karena itu, banyak pemilik kendaraan yang beroperasi di lintasan ini justru memutasi nomor polisinya menjadi plat L.
Bagaiamana ketakutan ini bisa terbentuk? Saya tak mengerti, mengapa, kapan, dan bagaimana kenyataan semacam ini terjadi, berjalan, dan rasanya terus berlangsung hingga hari ini. Boleh jadi, hal ini diakibatkan oleh banyaknya kasus pelanggaran tatib di masa lalu yang telah dilakukan oleh mobil-mobil berplat M. Tapi, seberapa banyak yang melanggar? Mengapa teror itu berlangsung hingga hari ini? Dampaknya, “mereka yang berjalan di jalan yang benar” akhirnya terkena dampak perasaan inferior juga, ikut-ikutan minder. Di atas semua itu, saya juga tidak tidak tahu, berapa banyak mobil bodong yang berkeliaran di luar sana dan karena penampilannya yang keren dapat terlepas dari jerat pelanggaran tatib ini.
Apakah ini merupakan bagian dari persoalan identitas; pencitraan yang tercipta sejak era kolonial; dampak buruk dari entologi yang berkembang?
Waduh, kok jadi bertanya terus menerus sih? Eh, kok malah tambah bertanya? :-)
10 Januari 2011
Pertanyaan yang Dipertanyakan
Ento menggeleng, “Enggak. Emang kenapa? Mana HP-mu?”
Lelaki penanya bertampang klimis itu mengeluarkan ponsel Nokia E 66-nya dari kantung celana dengan tangan kiri dan memberikannya pada si Ento. Tangan kanan si empunya ponsel tetap sibuk di atas layar sentuh ponselnya yang lain.
Kira-kira semenit kemudian, setelah Ento mencari tahu informasi lewat internet, Ento menjelaskan begini-begininya pada si kawan duduk itu. Ia menjelaskan, lebih tepatnya membacakan ulang berita yang dia baca di sebuah situs, berikut penyebab begitu-begitunya sehingga anggaran daerah kabupaten Anu bermasalah.
Si pemilik HP malah terkaget dan bertanya, “Jadi, ponselku ini bisa dibuat internetan, ya?”
Ento kaget, lalu bertanya, “Lho, emang kamu beli dua ponsel mahal begini untuk apa? Untuk main potret-potretan saja?”
01 Januari 2011
Malam Tahun Baru di Desaku
Sejak habis shalat Isya, yang terdengar dari balik kamarku, hanyalah suara merdu Syaikh Mahmud Khalil al-Husari melagukan surat Al-Hujurat. Suara merdu ini terdengar cempreng melalui speaker TOA, di arah timur laut rumahku. Sementara, entah di arah mana, aku juga mendengar seseorang membunyikan lagu dangdut koplo dari seperangkat sound system, lumayan keras juga, sih. Di luar itu, bunyi-bunyian lainnya adalah rintik hujan dan bunyi kodok bersahutan.
Hingga Subuh, aku terus duduk di depan komputer. Tak ada pesta di sini, tak ada hura-hura, tak terdengar hiruk-pikuk terompet ataupun letusan kembang api. Aku hanya mendengar suara qurra’, pembacaan ayat-ayat suci akhir surat Ali Imran, dari pengeras suara masjid jamik yang berjarak sekitar 375-an meter dari rumahku. Ya, itulah qurra’ sebelum azdan Subuh dikumandangkan.