05 Desember 2008

KALAU NGOMONG JANGAN KORMEDDAL


Suatu saat, ada tamu saya bernama Sakdi (semua nama yang disebut dalam cerita ini bukan nama sebenarnya). Dia cerita macam-macam tentang peruntungannya minggu ini. Terus, tak lama kemudian, datanglah Saiful. Saya pergi meninggalkan mereka berdua. Saya masuk ke kamar. Mereka berdua duduk di serambi depan.

Karena keduanya saling tidak mengenal, terjadilah percakapan seperti ini:
Sakdi: "Sakdi!"
Saiful: "Saiful.."
(mungkin, mereka sedang berjabat tangan, berkenalan)
Sakdi: "Dari mana?
Saiful: "Manding. Kamu?"
Sakdi: "Dasuk. Di mananya Pak Latip?''
Saiful: "E dhajana.. (di sebelah utaranya), "Maksud kamu, Pak Latip yang mulang di MAN itu kan?"
Sakdi: Ya, iya, Pak Latip botak yang killer itu. Semua tahu, kok, sama dia. aku kan alumni MAN. Huuhh, aku sering dihukum sama dia. Kamu akrab sama dia?
Saiful: Ya, beliau kakak ibu saya. Beliau paman saya.."

[Makanya, gini memang kalau tidak hat-hati. Bukan nyupir saja yang harus lihat kanan-kiri. Kalau ngomong, lihat-lihat spion, Mas! Jangan kormeddal!]


03 Desember 2008

Tepuk Tangan Para Guru

Selasa, tanggal 2 Desember 2008 kemarin, kami, para guru yang ikut lomba nasional kategori porseni, naskah pembelajaran, serta penulisan naskah buku bahan bacaan, berkumpul di gedung tenis indoor Senayan untuk mengikuti acara peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI yang ke-63 dengan tema "Guru yang Profesional, Bermartabat, Sejahtera dan Terlindungi, Mewujudkan Pendidikan Bermutu". Upacara ini sedianya jatuh pada tanggal 25 Nopember 2008 sebagaimana yang ditetapkan.

Para hadirin yang umumnya terdiri dari guru-guru, tenaga pendidik dan kependidikan, sangat bergairah di ruangan besar itu. Hal ini dibuktikan dengan tidak henti-hentinya tepuk tangan yang bahkan sangat mengganggu kekhidmatan acara: bagaimana tidak mengganggu, belum selesai bicara sudah ditepuktangani, berisik jadinya! Belum lagi gaya mereka guru-guru bahasa Indonesia yang tidak mengerti bahasa Indonesia: bagaimana tidak akan disebut tidak mengerti bahasa Indonesia, mereka tetap mengatur suara dering ponselnya keras-keras meskipun pembawa acara sudah memohon dengan hormat kepada hadirin agar ''dering'' diganti pada ''getar'', atau ponsel dimatikan.

Acara dimulai...

Himne guru yang dinyanyikan oleh paduan suara siswa dari berbagai sekolah SMP di Jakarta, bergema memenuhi dome tenis indoor Senayan yang megah itu. Catatan: ada yang berubah pada akhir lirik lagu itu sekarang: guru sebagai ''pahlawan tanpa tanda jasa'' diubah menjadi ''pendidik insan cendekia". Hal ini, mungkin agar selaras dengan tema yang telah disebut di atas, yaitu ''profesional dan sejahtera".

Mana para ustad yang datang memakai sarung ke ruang-ruang kelas di kampung? Mereka tidak tampak hadir di ruangan ini. Kemana gerangan? Ada di kursi pojok manakah mereka yang mengajar tanpa santunan/dengan tunjangan namun tidak memadai? Mereka tidak ada di sini karea korp Persatuan Ustad Seluruh Nusanrara (PUSN) belum terbentuk. Sedih deh...

Tepukan paling keras terdengar manakala presiden SBY, dengan suara yang mantap, mengumumkan bahwa sejak tahun 2009 nanti, guru akan duduk sejajar dengan manusia ''profesional dan sejahtera'' seperti dokter dan notaris. Dengan tercapainya alokasi dana 20% untuk pendidikan, para guru akan digaji minimal 2 juta per bulan untuk masa kerja "nol tahun" alias di tahun pertama bekerja. Uang sejumlah itu mungkin wajar jika mengingat, dari 210 T dana pendidikan, 110 T-nya untuk gaji guru, fantastis. Dalam pidato ini, saya merasakan betapa SBY tampak yakin, pendukungnya akan melimpah jika dia kembali mencalonkan diri untuk menjadi presiden yang kedua kalinya.

Ada hal penting yang patut kita perhatikan sekarang; akan terjadi sebuah pergeseran persepsi dan pandangan masyarakat terhadap guru! Demikian pula, banyak/tidak, akan ada guru yang akan mengubah, atau berubah, cara pandangnya terhadap pendidikan terkait profesionalisme dan kesejahteraannya. Akan kembali hangat pembicaraan dan pertimbangan zakat profesi. Bahkan, petugas akta dan catatan sipil, juga akan bersiap-siap untuk menambah jenis pekerjaan baru di dalam KTP: "Guru".

Acara selesai. Rasa capek tersisa di badan, rasa gelisah tersangkut di pikiran: maukah pemerintah menganggap ustad (yang mulang Ta'limul Muta'allim dan Alfiyah Ibnu Malik misalnya) sebagai guru berjenis pekerjaan profesional yang tentunya kelak juga BISA dicantumkan dalam KTP sehingga mereka tidak melulu dibuat tidak jelas nasib dan statusnya dengan selalu dianggap "wiraswasta"? Soalnya, dalam banyak hal, wiraswasta terkadang menjadi ameliorasi, kata penghalus bagi "pengangguran".

Hai orang-orang yang berselimut, bangunlah! Jangan terus-menerus melungker dengan selimutmu. Hai orang-orang yang bersarung, bangkitlah. Jadilah, satu orang saja di antara kalian, seorang presiden, atau paling tidak menteri pendidikan nasional, agar dapat membuat keputusan penting bagi dunia pendidikan (pesantren).

Kenapa jadi Mendiknas dan tidak jadi Menag saja? Iya, ya, kenapa, ya? Saya kok baru nyadar... Tapi, kalau di Depag, rekan-rekan kalian itu sudah terlalu banyak di situ. Cari tempat lain saja. Soalnya, kalau ngumpul ''sesama jenis'', cenderung memunculkan ide untuk ...

(bersambung)

BASA BASI


Si Tanya: "Pak, bagaimana hasil panen kali ini?''
Si Jawab: "Yaah.. Alhamdulillah, lumayan.''
Si Tanya: "Dapat untung berapa?"
Si Jawab: "Ya, sedikit, Pak, cuma lima juta."
Si Tanya: "Modal berapa?
Si Jawab: "13 jutaan.."

Untung besar saja ngomongnya lumayan. Coba kalau rugi, akan mengeluh seperti apa, ya, Si Jawab ini. Begitulah, kita memang benar-benar selalu merasa kurang terhadap pemberian.

Si Tanya: "Dapat juara berapa, Kang?"
Si Jawab: "Juara harapan, Boss! Situ?"
Si Tanya: "Saya juara 2."
Si Jawab: "Wah, lumayan, ya! Tapi, sebetulnya saya gak nyangka lho masuk final.. Saya ikut kompetisi ini tanpa persiapan."
Si Tanya: "Tanpa persiapan saja Situ masuk final, coba persiapan lebih lama, pasti juara pertama.."
Si Jawab: "Saya hanya bersiap dua bulan. Tapi, sebetulnya naskah saya dipuji juri, lho, Boss. Sayang, kata ketua dewan jurinya, naskah saya kurang sublim dan masih butuh editing pada bagian-bagian awalnya.."

Sudah dapat juara harapan, bilangnya tanpa persiapan. Sudah dapat penghargaan, mengajukan alasan untuk mengeluh macam-macam. Itulah kita, penuh basa-basi dan kurang pandai bersyukur. Coba kalau Si Jawab ini dapat juara pertama: apa kata dunia!!?

Pernah megalami hal seperti ini, kan? Basa-basi itu memang tidak dapat dipungkiri. Eufimismus, yang dikenal tidak hanya di Timur melainkan juga di Barat, merupakan salah satu bukti keberadaan basa-basi. Bahasa iklan umumnya basa-basi.
Oya, kalau iklan caleg yang dipajang di tepi-tepi jalan itu, yang menampilkan foto tokoh jadi ganteng-gagah dan cantik-muda karena rekayasa komputer, boleh tidak dianggap basa-basi

.....asalkan

yang jadi sponsornya bukan partai politik, tapi "Sampoerna A Mild").


01 Desember 2008

Sopir dan Guru

Tidak banyak orang yang punya anggapan baik terhadap sopir: pernyataan ini didasarkan dari ungkapan masyarakat yang beberapa kali saya dengar: "Cari sopir yang bilu' (bengkok) itu sulit. Yang banyak adalah sopir yang noq-calennoq (bengkok berkeluk-keluk)".

Pernyataan di atas menunjukkan suatu anggapan minor masyarakat terhadap sopir: bahwa sopir itu cenderung diberi label sifat tidak relegius, keras, dan banyak sifat tidak bersahabat yang lain.

Sopir sebagai pilihan pekerjaan merupakan sebuah keputusan yang sulit; tanggung jawab seorang sopir sungguh berat. Di samping itu, pelekatan sifat buruk yang diberikan masyarakat, sungguh sangat tidak mengenakkan.

Tapi, ini perkecualiannya: dialah Haji Jajang. Haji Jajang ini pengemudi di Lorena Group. Dia sopir Karina asal Purwakarta. Malam 28 Nopember 2008 kemarin, dia bawa Karina dari Pamekasan menuju Lebak Bulus (Jakarta). Kesan saya terhadap sopir ini sudah muncul sejak di terminal Pamekasan. Sewaktu sholat Jumat, dia berada pada shaf depan.

Haji Jajang bawa Karina dari Pamekasan sampai Tuban. Diganti sopir cadangan, dan dia kembali nyetir dari Semarang sampai Cirebon. Dan di sepanjang perjalanan malam Semarang-Cirebon ini, lamat-lamat aku mendengar ini sopir bergumam-gumam. Nah, kaget juga saya ketika duduk di kursi navigator (kursi buat kenek itu). Saya dengar dia membaca surat-surat pendek, Yasin, tahlil, dan shalawat secara bergantian. Santai sekali ini sopir menjalankan Mercedes Benz Jumbo Intercooler 1725 (?) ini sambil bershalawat.

Ada pula kisah Ibu Suyanti! Jika banyak perempuan mengemudi sedan, itu biasa; mengemudi busway, itu juga banyak; tapi jika menjalankan profesi sebagai sopir bus malam dengan trayek ratusan kilometer, nah, mungkin ini yang jarang dimiliki oleh perempuan selain orang Wonogiri bernama Mbak Yanti ini. Ibu Suyanti adalah sopir bus malam GMS (Gajah Mungkur Sejahtera), jurusan Jakarta-Wonogiri. Karena keterdesakan hidup, Suyanti menjadi sopir: sebagai kederdesakan, bukan pilihan pilihan pekerjaan sebagaimana pekerjaan sopir-sopir ''lelaki''pada umumnya?

Sudah bicara sopir, kita ganti bicara guru: kata seseorang yang saya hormati pendapat-pendapatnya, ''guru'' itu ''dilahirkan'', bukan ''diciptakan''. Nah, adakah yang menjadi guru--dengan mengacu kisah mbak Yanti tadi--dengan anggapan sebagai ''keterdesakan'' (karena untuk mau berini-itu sudah tidak bisa berbuat lebih banyak lagi) dan bukan sebagai ''pilihan''?

Mana kutahu!
Jawab saja sendiri!!

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog