Setelah rombongan takziyah pulang dari Besuki, dan aku terlena dibuai goyangan lembut Neoplan ex. Bis Bandara Soekarno-Hatta, aku terjaga. Kukucek-kucek mataku, menoleh, dan ternyata bis sudah diparkir rapi di depan Giant Probolinggo.
Para penumpang turun. Mereka berbelanja. Aku tidak. Uangku tidak sempurna untuk itu. tak dinyana, Aku melirik ke seberang jalan. Ada depot di situ. Aku pun masuk dan langsung kuamati sekeliling. Tak ada orang. Sepi.
Lalu, seorang pelayan datang mendekat, tetapi tidak mengajakku bicara, atau bertanya, seperti biasa. Aku mendongak, memperhatikan menu makanan dan minuman yang dipajang di dinding (memang, banyak depot/warung makan yang meletakkan menu di meja, tetapi ada pula yang memajangnya di dinding ruangan, bahkan ada yang lengkap dengan daftar harganya sekalian).
Kulihat di sana: Soto Daging Soto Ayam Rawon … … … dan banyak lagi yang lainnya.
Mungkin karena aku tak kunjung memesan, pelayan itu akhirnya mengawali pembicaraan.
“Mat, tolong karburator ini diantar ke aku. Sekarang aku jumatan di Masjid Karduluk. Kamu cari Yono. Suruh dia yang berangkat. Cepetan, Mat. Pokoknya, habis Jumatan, aku tunggu. Makasih. Wassalamualaikum…”
Aku mengakhiri panggilan dan langsung menuju tempat wudhu’, siap shalat Jumat di Masjid Karduluk. Singkat cerita, beberapa menit sehabis Jumatan, aku telepon lagi Si Mamat.
“Sudah berangkat Yono-nya, kak.” Sergah suara di seberang, lebih dulu menjawab pertanyaanku yang telah diduganya.
“Oke, Makasih.”
“Iya. Saya kasih tahu dia agar langsung ke Masjid Karduluk, dan dia langsung berangkat, kira-jkira lima menit yang lalu.”
Dalam hitungan normal, jarak waktu tempuh dari rumahku ke Masjid Karduluk berkisar 20 menit, atau 15 menit jika agak ngebut. Tapi, sudah 40 menitan aku menunggu, si kurir tak kunjung datang juga. Perasaan was-was mulai membayang, “Jangan-jangan ban sepeda motornya pecah; jangan-jangan kehabisan bensin dan dia sedang tidak membawa uang; jangan-jangan…”
[Aku tahu secara haqqul yaqin, Si Yono ini jelas tidak membawa HP]
“Mana, Mat?” Teleponku lagi dengan suara memburu.
“Loh? Belum nyampe, apa?” Mamat justru menunjukkan intonasi keheranan.
Akhirnya, kuputuskan saja untuk kembali ke rumah, dengan harapan: semoga nanti bisa berpapasan di tengah jalan. Aku pun meninggalkan Masjid Karduluk dengan kecepatan 40 km / jam dan terus konsentrasi ke arah depan, memperhatikan semua sepeda motor yang datang dari arah berlawanan. Dan betul! Aku menjumpainya di depan Masjid Mustaqbil, Prenduan. Kucegat, dan langsung aku semprot:
“Ke mana saja kamu? Kok lama?”
“Saya sudaha sejak tadi di sini.”
“Lho, kok?”
“Saya cari-cari, tapi gak ketemu, bahkan saya sudah sampai ke kantor Telkom di Aeng Panas?”
“Loh???”
Sekarang, aku mulai paham. Ada yang tidak beres dengan ini semua.
“Memang masjid Karduluk itu sebelum kantor Telkom atau sesudah kantor Telkom?” tanyaku menguji kecapakan geogafi dan peta dasarnya. Tapi, Si Yono ini hanya diam tanpa ekspresi. Aku segera menjelaskan, “Masjid itu masih jauh ke arah timur kantor Telkom, masih dua kilometeran lagi, Yon.”
Aku diam, menarik napas, dan mengambil bungkusan plastik berisi karburator itu dari tangannya.
Ini anak rupanya sudah mulai keterlaluan. Masak, bapaknya dibilang gila. Namun, dengan bekal kesabaran tingkat tinggi, sang Bapak tidak mengurungkan niatnya untuk membujuk si anak agar segera mandi. Ia coba-coba menggoada:
“Kalau bapak gila, kamu memang anaknya siapa?” Anaknya menjawab, “Anak orang gila.”