26 Juli 2017

Makanan Sebagai Obat atau Obat Sebagai Makanan?

  "Obat demam Sampeyan ini mudah, Mas," semprot Mbah Tomy kepada Mas Joni yang duduk jarak sedepa tepat di depan hidungnya. Sembari menepuk-nepuk bahu pasiennya ini, ia menambahkan, kali ini dengan suara lebih pelan. "Obat Sampeyan itu bukan paracetamol, tapi soto!"
"Serius?" Mas Joni melongo, ragu.
"Ya, habis ini Sampeyan pulang, cari soto, minta tambahan bawang goreng dan jangan lupa sambal cabe-nya yang banyak."
"Baik, Mbah Tabib. Tumben sekali hari ini: saya harus minum obat yang enak sekali."
"Tapi, nganu... Mas," imbuh Mbah Tomy, "berfantasinya dikurangi, ya!"


***


Di kesempatan terpisah, saya mengonfirmasi kedua belah pihak, apa cerita di atas itu benar atau tidak, ternyata benar adanya. Menurut Mbah Tomy, meskipun sama-sama berfungsi sebagai obat batuk, kukusan kembang blimbing wuluh, jahe hangat, jeruk nipis bertandem kecap, beda peruntukannya. “Masing-masing resep bergantung pada cuaca dan kondisi pasien. Herbal itu tidak mudah, justru berada pada kasta tertinggi di ‘maqam’ pengobatan ala kedokteran Timur. Makanya, soal reaksi cepat atau tidaknya sangat dipengaruhi oleh ketepatan komposisi dan caranya,” jelasnya.

Di dalam buku “Mutiara yang Terpendam” (saya lupa nama penyusun dan penerbitnya, yang pasti negera terbitnya adalah Malaysia, kapan-kapan saya susulkan jika ketemu bukunya), dijelaskan bahwa pola makan sangat berpengaruh pada kesehatan seseorang, bahkan ia menjadi kunci obat yang paling mujarab. Sementara ini, kita dibentuk oleh persepsi umum bahwa “makan itu tiga kali sehari”, sementara dalam tradisi kuno—termasuk leluri Islam, makan itu, ya, kalau lapar dan berhenti menyuap ketika perut mendekati kenyang alias sebelum kenyang. Yang mana yang kita pilih? Atau, makan melulu enggak kenyang-kenyang?

Sementara itu, Prof. Hiromi Sinya—saya tahu nama ini dari akupunkturis Mudhar nan Asyik—bahwa ia telah mengobati ratusan panderita kanker hanya dengan mengubah pola makan, salah satunya adalah dengan cara mengunyah (hingga 70 kali dalam sekali suap). Kunyahan sebanyak itu bukan sekadar hanya untuk menghaluskan nasi yang dimakan, melainkan demi produksi enzim. Dan cara ini sebetulnya telah diajarkan oleh nenek moyang kita (atau saya) karena begitulah anjuran dari Nabi Muhammad saw, hanya saja klta manut-manut saja karena beriman, bukan karena tahu alasan ilmiahnya sebagaimana baru-baru ini ditemukan oleh penelitian sains.

Saya lantas ingat kakak saya yang sakit. Dia dianjurkan untuk mengunyah sampai halus. Karena capek, kakak saya pakai cara “moderen”: dia masukkan nasi, kuah, dan lauknyasekaligus ke dalam blender, dimesin, lalu dituang ke dalam piring dan diminum (karena sudah jadi kayak bubur). Cepat sekali cara dia makan. Namun, kalau ingat enzim, ya, sekarang saya tahu, mesin blender tidak menghasilkan enzim karena itu berproduksi dari mulut/liur.

Pada penutup kata pengantar buku “The Miracle of Enzyme”-nya Prof. Hiromi Sinya ini, Dahlan Iskan menulis: “Yang mengembirakan dari buku Prof. Hiromi Sinya MD ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim induk bertambah.” Jadi, usahakan Anda merasa makan sate kambing meskipun yang Anda hadapi adalah sate tahu. Tapi, apakah ini mungkin?

Nah, kebetulan, ketika saya menulis esai ini, saya sedang diserang batuk. Makanya, ketika ditelepon teman, suara saya mungkin terdengar kurang mesra. Lantas dia pun bertanya.

"Anda kedengarannya kurang sehat, ya?" Tanya kawan di seberang telepon.
"Iya, agak batuk, Mas."
"Oh, obatnya gampang: jeruk nipis sama kecap."
"Sudah, Mas, tadi malam, tapi reaksi kurang jos. Apa saya salah resep, ya?"
"Emang dibagaimanakan, Mas? Kan cuma diiris, kasih kecap, telan. Gitu aja, kan?'
"Ndak, Mas, sama saya kecap dan irisan jeruknya dimasukkan ke dalam semangkok soto."

Jadi, makanan itu sebetulnya adalah obat kalau kita mempersepsikannya begitu. Kerja obat herbal juga reaktif, asal tepat takaran dan penggunaannya, seperti cerita obat batuk di atas ini.


17 Juni 2017

Menuju Keselamatan Berkendara



Macet di Bawen, truk nyaris 'adu banteng' dengan bis (9 Peberuari 2013) 
Pendahuluan: artikel ini merupakan rangkuman dan juga pengembangan dari artikel Riyanto Hino yang mula-mula diterbitkan di mailinglist bismania pada 14 November 2010 dengan subjek ‘Defensive Driving Behavior Development’ (terbagi dalam empat rangkaian pesan: bagian ke-1, ke-2, ke-3, dan ke-4). Menurutnya, artikel disusun berdasarkan pengalaman penulis sebagai pelaku, teknisi, dan dari hasil workshop keselamatan berkendara. Artikel ini boleh disebarkan. Penyuntingan dan penambahan dilakukan oleh saya (M. Faizi).

* * *


Beberapa pakar menyatakan bahwa terjadinya kecelakaan lalu lintas tidak pernah disebabkan oleh satu hal saja. Artinya, tidak ada kecelakaan karena faktor tunggal.  Setiap peristiwa kecelakaan selalu didukung oleh faktor lainnya. Jadi, kecelakaan tidak identik dengan takdir, dengan maksud bahwa melalui usaha dan upayanya, manusia mestinya dapat menghindari kecelakaan. Secara teoretis, kecelakaan kendaraan bermotor dapat dicegah karena ia merupakan kumpulan beberapa kesalahan: unsur manusia, kendaraan, dan lingkungan.
Anda pernah mendengar slogan “kecelakaan selalu didahului oleh pelanggaran”? Polisi lalu lintas mengkampanyekan hal ini di papan-papan dan poster di tepi jalan. Memang betul, slogan tersebut berlaku umum. Contohnya begini: Apabila ada mobil yang menyalip pada pandangan tidak bebas, lalu terjadi tabrakan “adu kambing”, itu bukan takdir. Ia telah dengan sengaja membuka lebar kemungkinan terjadinya kecelakaan karena menyalip tidak pada tempatnya, yakni menyalip di tikungan (marka jalan: garis-putih-sambung). Ada pula kasus truk yang terperosok ke jurang. Kesalahannya tidak pernah tunggal. Kemungkinan, truk melanggar beberapa aturan: sopir tidak konsentrasi; rem tidak pakem karena tidak dicek oleh montir yang ahli; muatan melebihi kemampuan (overload; melampaui batas tonase), dll.
Kalau misalnya ada seorang polisi lalu lintas (polantas) mengalami kecelakaan di jalan, (anggap saja karena “kecelakaan tunggal”), apakah hal itu lantas boleh membuat kita membikin anggapan umum bahwa kecelakaan itu takdir dan karenanya siapa saja mungkin mengalami celaka sebab seorang polantas pun mengalaminya? Berhentilah mengambil sudut pandang seperti itu. Dalam kasus ini, kita harus melihat banyak faktor pendukung: laka lantas terjadi di ruas jalan yang rusak (faktor Dinas Pekerjaan Umum); si polantas menghindari pengendara sepeda motor yang belok mendadak (faktor manusia di luar dirinya); jalan licin karena ada longsoran tanah (faktor alam); atau memang karena hal itu adalah kasus perkecualian, seperti bahwa dia adalah oknum polantas yang memang melanggar aturannya sendiri, seperti menerima panggilan telepon sambil berkendara, misalnya. Ingatlah silogisme. Karena itu, perkecualian tidak dapat dijadikan pandangan umum.
Sekarang, mari kita pelajari faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor.


I. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN

Kondisi lalu lintas berhubungan erat dengan perkembangan wilayah dan sosial ekonomi. Demikian pula, ia berhubungan dengan para pelaku (manusia), terkait tingkat pendidikan dan wawasannya.  Penyebab lainnya berhubungan dengan kerjasama antar-lapisan masyarakat, termasuk antar-instansi. Jika pemerintah (melalui Polri, Dishub, dll,) hanya bekerja sendirian, keselamatan berkendara hanya akan menjadi slogan saja. Jika tokoh-tokoh masyarakatnya gemar melanggar, anak-anak mudanya dibiarkan sembrono tanpa tindakan, perusahaan transportasi tidak memberikan bekal wawasan keselamatan yang baik kepada para pekerjanya, maka slogan “keselamatan berkendara” dan “nol kecelakaan” hanya akan jadi omong kosong belaka.

A. Faktor Yang Berpengaruh Langsung

Ada beberapa faktor penyebab terjadinya kecelakaan yang sebetulnya dapat dikendalikan secara langsung. Bagian ini meliputi unsur pengemudi dan kendaraan.

  1. Faktor pengemudi: aspek kesadaraan akan bahaya serta keterampilan mengendarai merupakan penentu utama. Berdasarkan studi para ahli di DOT USA, dan “National Safety Council”, penyebab kecelakaan kendaraan bermotor—dari segi kuantitas—dapat digambarkan sebagai berikut: tidak mengenal bahaya, tidak fokus, kurang terampil mengendarai, kurang sehat.
  2. Faktor kendaraan: meliputi faktor teknis kendaraan. Secara berurutan, penyebabnya adalah: kemampuan sistem rem (tromol; cakram; ABS; dll); ban pecah/gundul; suspensi/kerusakan mekanis; kerusakan mesin.

B. Faktor Yang Berpengaruh Tidak Langsung

Selain faktor yang berpengaruh langsung, ada pula penyebab kecelakaan yang tidak bersifat langsung, antara lain: kondisi jalan dan lingkungan (karena cuaca dan unsur alam); kebijakan pemerintah (seperti tidak adanya pertimbangan dampak kemacetan akibat adanya penyempitan jalan [jalan leher botol] pada simpul-simpul wilayah baru); rendahnya penegakan hukum (mobil tidak berlampu rem tapi lolos dari tilang karena uang sogokan); dll.


II. MENGENAL PERILAKU PENGEMUDI: OFENSIF DAN DEFENSIF

“Pengemudi ofensif”: Mudahnya, tipe ini dapat disebut sebagai tipe pengemudi ‘ganas’. Mereka cenderung memiliki sikap tidak taat norma-norma lalu lintas, kurang memperhatikan kepentingan dan hak-hak pemakai jalan lainnya. Pengemudi semacam ini memiliki potensi sangat besar sebagai penyebab kecelakaan. Sementara “pengemudi defensif” (gampangnya kita sebut pengemudi tipe ‘kalem’), tidak termasuk di dalam kelompok accident prone (mudah mendapat kecelakaan) karena telah memiliki pengetahuan keselamatan dan kehati-hatian, namun mungkin saja menjadi korban ulah pengemudi ofensif tersebut.

Beberapa Faktor Penyebab Perilaku Ofensif:  

            Adanya tipe pengemudi ofensif (ganas) dan defensif (kalem) bagaimana mata ulang dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Kehadiran mereka selalu ada di jalan raya. Jika kita perhatikan, di negara-negara maju, kemunculan tipe pengemudi ofensif jauh lebih kecil daripada tipe pengemudi defensif. Maka sebab itulah, angka kecelakaan di jalan rayanya pun sangat rendah. Apa saja penyebab yang membuat seorang pengemudi bertabiat seperti ini? Banyak alasannya, antara lain:

1.            Latar belakang pendidikan (tidak pernah belajar teori, terlalu percaya diri pada skil yang tidak dilandaskan pada ilmu namun hanya spekulasi; tidak pernah atau menolak ditegur oleh orangtua/keluarga/senior)
2.            Pengalaman: tidak paham medan jalan, hanya pernah mempelajari kasus kecelakaan untuk pencegahan
3.            Bakat/sifat bawaan: temperamental, mudah emosi (disebut juga ‘sumbu pendek’), suka ambil menang sendiri alias tidak pernah mau mengalah  
4.            Motivasi: pengemudi tidak paham tugasnya sebagai pengemudi. Ia tidak sempat memikirkan tanggung jawabnya sebagai pengemudi, bahwa ia membawa kendaran yang berpengaruh pada orang lain, pada penumpang, dll. Apa dan mengapa ia melakukan manuver, misalnya, tidak dilandaskan pada pertimbangn yang matang, hanya karena suka-suka saja.
5.            Beban mental: beban pikiran saat mengemudi, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, dll, dapat mengurangi konsentarasi di jalan dan dapat mengganggu aktivitas saat mengemudi
6.            Lingkungan: lingkungan yang menganggap biasa sebuah pelanggaran akan membuat mental seorang yang disiplin berubah wataknya, yakni ikut-ikutan untuk gemar melanggar juga.

III. EMPAT SYARAT MENJADI PENGEMUDI DEFENSIF:

Untuk menjadi pengemudi defensif (pengemudi kalem, berwawasan aman), seseorang harus melewati beberapa tahap pembelajaran. Pengemudi yang telah membekali dirinya dengan wordshop, pelatihan, memperkaya bacaan, kursus, akan lebih mudah memiliki karakter ini. Ia tidak serta merta ada, melainkan harus dipelajari, diupayakan. Adapun syarat-syaratnya, antara lain, adalah sebagai berikut:

1.            Kesadaran akan bahaya dan resiko (risk awareness). Pengendara harus paham soal ini. Contohnya: jika kita menyalip di tikungan, di siang hari, maka kemungkinan terjadinya tabrakan adu kambing/adu banteng sangat besar karena munculnya kendaraan dari arah lawan sama sekali tidak dapat ditebak. Jika tidak sadar akan bahaya resiko, orang akan mudah melakukan apa pun hanya berdasarkan emosi dan suka-suka saja di jalan raya.
2.            Manajemen perjalanan. Termasuk dari manajemen perjalanan adalah mengajukan pertanyaan sebelum berangkat: ‘Apakah fisik dan mental saya siap dan mampu untuk melakukan perjalanan? Apakah kendaraan saya laik jalan, seperti rem dan kemudi dalam keadaan normal?’. Jika tidak, atau tidak mungkin, atau harus dilakukan tapi situasinya berbeda, ajukan pertanyaan lagi: ‘Apakah perjalanan ini perlu dilakukan? Tidak bisakah ditunda? Atau, bisakah perjalanan ini menggunakan kendaraan lain seperti bis, kereta api, pesawat udara, atau kapal laut?’. Semua pengajuan pertanyaan ini merupakan bagian pengujian dalam manajemen perjalanan yang harus dilakukan oleh para “pengemudi defensif”.
3.            Perawatan kondisi kendaraan. Cek kendaraan secara berkala, terutama bagian vital, seperti rem, tekanan angin, stir, adalah tindakan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan dan masalah di jalan. Adapun kontrol bagian lain, seperti pengecekan air, oli, dll, menempati peran berikutnya. Tindakan ini lebih-lebih diperlukan jika kendaraan yang akan Anda gunakan adalah kendaraan rental/bukan pegangan sendiri. Anda—misalnya—dapat sembari melakukan pengecekan rem pada kecepatan rendah dan kecepatan sedang, mengecek steering, dll., tentu dalam situasi jalan yang aman.
4.            Penguasaan teknik mengendarai (low risk driving techniques). Ia meliputi kemampuan menganalisa dan menyikapi ancaman terhadap bahaya.  Kemampuan indera mata adalah alat utama yang dapat digunakan. Pahami cara mengerem, menikung, juga mempertimbangkan jarak aman saat akan menyalip, dll.

IV. TAMBAHAN

Banyak orang tidak sadar bahwa mengendarai dan menjalankan kendaraan itu adalah aktivitas yang beresiko tinggi. Oleh sebab itu, aturan lalu lintas dibuat untuk membantu kelancaran dan keamanannya. Karenanya, kita harus menjaga keamanan dan keselamatan mulai dari diri sendiri. Caranya: sadar dan tahu apa yang dilakukan; mengenal bentuk dan macam-macam bahaya yang dihadapi; mengetahui resiko yang timbul/muncul dan dapat menyikapinya dengan cepat dan tepat, serta; menguasai teknik mengendarai kendaraan bermotor dengan benar.
Terkait hal tersebut, penting bagi kita untuk mengetahui resiko dan manajemen resiko serta mengenal kemungkinan bahaya di jalan raya.
“Manajemen Resiko”: Pemahaman dan penguasaan resiko adalah pengetahuan manajemen resiko. Secara naluriah, manusia akan sepontan menghindari hal-hal yang mempunyai potensi merugikan dirinya. Kenyataannya, meskipun banyak kejadian yang menunjukkan bahwa aktivitas mengemudi telah menimbulkan kerugian, baik nyawa maupun harta, aktivitas mengemudi tetap saja digeluti. Lemahnya pemahaman terhadap manajemen resiko menyebabkan kecelakaan dan berbagai sabab-musababnya (di jalan raya) tidak dipelajarinya/tidak dijadikan pelajaran (dianalisa).
“Bahaya”: Bahaya adalah suatu obyek, kondisi fisik atau pengaruh fisik, yang mempunyai potensi untuk menyebabkan suatu kehilangan, kerusakan, kehancuran, atau kerugian, bahkan kematian. Bahaya itu selalu ada dan resiko akan muncul bilamana terjadi aktivitas di jalan raya karena jalan raya adalah suatu tempat berkumpulnya segala macam bahaya (pejalan kaki, pengendara, kendaraan bermotor, kepadatan pemakai jalan, kondisi permukaan jalan, cuaca).  Jika kita dapat mendeteksinya, maka kita harus segera mengambil sikap untuk menghindarinya.
“Resiko”: Resiko adalah akibat dari suatu aktivitas. Resiko—dalam konteks “health, safety, and environmental”—didefinisikan sebagai ukuran kemungkinan terjadinya suatu insiden dan potensi keparahan dari insiden tersebut. Dengan demikian, jika dikatakan bahwa bahaya akan selalu ada, maka resiko adalah sebaliknya: tidak pasti harus ada. Faktor yang hilang dalam mata rantai di sini adalah aktivitas. Artinya, jika Anda melakukan aktivitas maka akan ada resiko. Tingkat resiko terdiri dari tingkat yang minim hingga tingkat yang serius. Frekuensi aktivitas Anda berhubungan dengan tingkat resiko: semakin tinggi tingkat frekuensinya, maka semakin tinggi pula potensi resiko yang akan diterima.
Dengan begitu, orang bijak akan dapat menekan resiko kerugian dari aktivitas yang dilakukan serendah-rendahnya. Ia akan memulai sesuatu setelah mengetahui secara pasti: apa saja yang akan ia lakukan; mengapa ia harus lakukan, dan; bagaimana ia melakukannya dengan benar. Semua ini diawali dengan langkah-langkah, antara lain, sebagai berikut: mengetahui segala bahaya dan potensi resiko; mengkaji kembali mengapa dan bagaimana menyikapi bahaya dan resiko-resiko yang akan dihadapinya, dan; membuat rencana aktivitas yang akan dilakukan. Jika ini dijabarkan di dalam aktivitas mengemudi, maka seorang pengemudi diharapkan betul-betul mengerti dan mampu mengoperasikan kendaraan dengan benar, mempunyai alasan yang kuat untuk mengoperasikan, fokus di dalam mendeteksi segala bahaya dan bereaksi dengan cepat dan tepat terhadap segala ancaman.
Itulah beberapa hal dasar yang dapat dipelajari untuk kita terapkan di jalan raya. Intinya, berjalan dengan benar saja tidak cukup karena kita juga harus berhati-hati sebab kerapkali muncul orang yang sembarangan dan berperilaku serampangan di jalan. Tidak perlu tergesa-gesa jika harus melakukan pelanggaran terhadap aturan lalu lintas sebab jika itu kita lakukan, maka tempat yang kita tuju akan semakin jauh, bahkan tidak tercapai, jika kita telah mengalami kecelakaan.

Bijaklah di jalan raya. Jalan raya milik bersama. 

15 Mei 2017

Dilarang Sakit di Hari Jumat

Saya pernah membesuk seorang pasien di rumah sakit. Ia masuk Jumat sore dan baru dikunjungi dokter di hari senin siangnya. Saya membayangkan, ngapain saja dia selama kurang lebih 70 jam di sana? Saat itulah benar terasa: betapa menunggu itu benar-benar membosankan. 

Orang sakit sungguh tidak menginginkan apa pun selain kesembuhan. Orang sakit tidak suka buah naga dan klengkeng atau roti. Kalau kamu bawa itu sebagai buah tangan saat menjenguk, yang memakannya pastilah si penjaga, bukan si pasien. Tapi, si penjaga juga tidak nikmat-nikmat amat saat menyantapnya karena ia pun punya cita-cita yang sama: membawa pulang pasien dari rumah sakit karena hal itu jauh lebih nikmat daripada makan buah dan ngemil penganan apa pun.

Rumah sakit begitu senyap. Ini mungkin peran kerja psikologis meskipun sebetulnya rumah sakit tidaklah senyap. Lihatlah, orang-orang berseliweran. Muka mereka tampak serius, tegang. Jalannya bergegas, mengurus diri sendiri. Itulah satu hal yang membuat rumah sakit tetap ‘menakutkan’ meskipun di pintu masuknya kita disambut dengan koridor penuh bunga dan taman yang indah. Lobi UGD yang berpendingan dan bersofa tebal tetaplah tidak bisa membuat kita betah demi hanya duduk-duduk santai di sana.

Pengalaman di Rumah Sakit

Saya pernah menjaga pasien di Rumkital/RSAL pada tahun 2005 dan di RS Dharmo di tahun berikutnya (kedua rumah sakit ini terletak di Surabaya). Yang heroik dari penjagaan ini adalah karena ia berlangsung pada saat hariraya. Pengalaman lainnya: saya pun pernah menginap satu malam di rumah sakit, sebagai pasien. Saya menjalani operasi ‘bisul’ di lengan kanan. Kata dokter bedah yang bernama Husnul Ghoib, bisul itu bukan sembarang bisul, melainkan “benjolan masa lalu”. Istilah kerennya adalah—jika saya tak salah dengar—“traumatic kist” (keluarga besar ‘kista’ mungkin) atau mungkin yang disebut dengan kista-tulang-traumatik.

Balik lagi ke omongan semula…

Masuk rumah sakit, intinya, sangatlah bikin galau, lebih-lebih jika hari masuk pasien adalah hari Jumat. Jika “masuk Jumat sore, pulang Senin siang” itu disebut “liburan dan nginap di hotel”, maka kalau Anda di rumah sakit, definisinya agak beda sedikit: “masuk Jumat sore, dikunjungi dokter Senin siang”. Demikianlah pandangan saya berdasarkan hasil curhatan orang-orang yang pernah saya besuk.  Saya sendiri tidak pernah mengalaminya sendiri, dan memang tak ingin. Mereka selalu bilang, mereka hanya bertemu dengan perawat dan dokter jaga. Entahlah kalau di rumah sakit besar. 

Mestinya, aktivitas di rumah sakit itu harus sama: buka terus selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu, 365 hari dalam setahun, tidak ada acara libur-liburan sebab sakit datang tak kenal waktu. Saya berharap, ada gubernur (apalagi presiden) yang bikin peraturan: “Tidak ada libur(an) di rumah sakit. Kalau mau libur(an) pergilah ke pantai atau ke gunung.” Soal bagaimana mengatur jadwal dan teknis lainnya, ya, jangan bebani saya untuk memikirnya. Biar yang ahli saja yang melakukan dan memetakan persoalan lanjutan karena mereka akan dibayar untuk itu. 

Pada suatu saat, saya pernah masuk (maksudnya melintasi saja, bukan tinggal)  rumah sakit Mount Elizabeth. Rekan saya bercerita begini.

“Ada kawanku yang nginap di sini selama 40 hari." 
“Wah, habis berapa, Bang?”
“Kayaknya sekitar 4M.”
“Sekarang?”
“Dia meninggal di hari ke 41.”
"Oh, kasihan."

Kami terus melangkah dan keluar, menuju Orchard. Sembari berjalan santai, kawan saya ini ngomong, “Ada, lho, pejabat Indonesia yang kalau cek darah saja dia pergi ke sini. Aku pernah memergokinya, kok.”

Si kawan menyebutkan satu nama. Ah, ruapanya nama itu, nama kesohor seorang koruptor. Dugaan saya, mengapa si koruptor itu cek darah di sini? Mungkin karena dia tidak perlu pulang hari Senin andai saja dia masuk hari Jumat. Menghabiskan uang dengan cara kelayapan ke Pulau Sentosa dan mal-mal Singapura tentu lebih menyenangkan daripada menghabiskan dolar hanya untuk berbaring menunggu dokter demi tensi dan cek darahnya. Begitu mungkin pikirnya.

Bang Muk, si kawan saya itu, bicara lagi. Hanya saja, kali ini, kata-katanya tertelan deru mesin kendaraan sehingga saya tidak dapat menyimaknya, tapi saya masih dapat menangkap maksudnya, tentu saja dengan perkiraan saja: "bis malam saja jalan terus setiap hari, meskipun sopirnya kadang berbeda-beda, gantian. Masa aktivitas rumah sakit kalah sama bis antarkota?"

09 Mei 2017

Di Pasar Prenduan

Pada suatu hari Rabu, saya pergi ke Pasar Prenduan. Pasar ini merupakan pasar desa di kecamatan Pragaan. Sebuah pemandangan unik saya saksikan dengan kepala sendiri. Pagi yang mulai panas itu jadi menyenangkan sekali.

Tampak seseorang yang menggiring anak kambing di sisi selatan jalan dan seorang lain ada orang yang menawarnya.

“Eyocola berempa?” (mau dilepas berapa [harga kambing itu])?
“Nemseket.” (650 ribu rupiah)
“Ta’ ekenning lemaratos?” (Enggak bisa kalau dilepas dengan harga 500 ribu?)
“Engko’ keng pas ta’ eparoko’a?” (Lalu, saya lantas enggak mau dikasih uang jajan buat sekadar beli rokok?). 

Pertanyaan retoris di atas ini adalah ungkapan populer masyarakat Madura. Meskipun bentuknya pertanyaan, tapi yang dimaksudkannya adalah bahwa ia keberatan dengan harga tersebut karena itu artinya sama dengan uang modal. Kalau dilepas dengan harga segitu (500 ribu), bahkan ia tidak akan dapat keuntungan sama sekali, meskipun hanya sekadar untung buat beli rokok). Ya, semacam basa-basi saja, sih.

“Yeh, lema’ seket lah.” (Ya udah, 550 ribu dah…)

Se penjual kambing kini melangkah tegap ke arah depan, tidak menoleh lagi seperti sebelumnya. Maklum, dari tadi, tawar-menawar ini terjadi di dua tempat yang bersisian, dipisahkan oleh jalan raya: Yang menggiring kambing berjalan di selatan jalan, yang menawarnya berada di utara jalan. Mereka berdua sama-sama berjalan ke arah arat, menuju ke pasar. Ya, mereka melakukan tawar-menawar sembari berjalan.

* * *

Betapa asyiknya mereka berdua, pikir saya.  Mereka begitu ceplas-ceplos melakukan tawar-menawar barang dagangan dan hal itu terajadi di kedua sisi jalan yang berbeda. Bagi bukan warga setempat, terutama mereka yang tinggal di Jawa dan sama sekali tidak paham Bahasa Madura, pemandangan ini mungkin tampak seperti dua orang yang sedang bertengkar karena nada suaranya begitu tinggi. Maklum, suara mereka harus lantang agar mampu mengalahkan deru kendaraan bermotor yang memisahkan mereka berdua.

Bagi orang yang terbiasa masuk ke dalam toko waralaba dan bermodel swalayan itu, saya yakin, akan kaget melihat pemandangan seperti ini. Biasanya, mereka disambut sapa pelayan, senyum kasir. Kata-kata yang ramah dan lembut sama sekali tidak ada di tempat ini. Orang tawar-menawar saja kayak orang bertengkar. Tapi, ya, mau apa lagi? Mereka sudah terbiasa begini dalam melakukan transaksi dan semua itu berlangsung asyik-asyik saja. Saya melihatnya begitu.

Makanya, saya suka belanja ke pasar dan toko kelontongan itu karena masih ada basa-basi, ada tawar-menawar dan ada pula obrolan tidak penting yang kadang tidak berhubungan langsung dengan barang dagangan. Semua itu tidak akan terjadi di toko yang semua harganya sudah dipatok dan tidak dapat ditawar lagi. Bahkan, ke toko seperti ini, kita dapat melakukan transaksi dengan tanpa bicara sama sekali, sama sekali, namun itu tidak mungkin terjadi di pasar, di toko kelontong.

Duh, asyiknya belanja di toko tetangga dan pasar yang sayangnya kini sudah mulai tidak begitu diminati lagi.


Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) Merusak Bumi dari Meja Makan (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) plastik sekali pakai (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sampah plastik (1) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog