06 November 2017

Liburnya Jumat, Bolosnya di Hari Ahad


Saya melangkah menuju madrasah tempat dulu saya belajar, MANJ. Tampak ada tiga orang guru di sana, sedang duduk-duduk. Saya menyalami mereka dan langsung memperkenalkan diri, siapa tahu beliau bertiga tak satu pun yang ingat saya.

"Pak, abdina Faizi, Sumenep, kalowar 1993, paper bimbingan Panjenengan, Pak Nasir!" kata saya kepada guru yang saya salami terakhir, Pak Nasir, sembari menjelaskan identitas diri selengkap-lengkapnya.
"Ooo, iya, ya, ya... Dalam rangka apa ini?"
"Enggak ada, Pak, cuma main saja ke sini."

Lalu terjadilah percakapan jangkar dengan satu guru lagi, dalam keadaan tetap berdiri. Saya akan segera pergi dan para guru itu tampaknya juga mau ke ruangan untuk istirahat.

"Mmm... Anu, Pak. Saya minta maaf," lanjut saya.
"Maaf apa, ya?" susulnya
"Dulu, beberapa kali saya, saya loncat di situ," sembari menunjuk ke ujung timur, "pergi ke Warung Buk Niti, pada saat jam masuk tapi saat tidak ada guru."
"Ya? Ha, ha," Pak Nasir tersenyum lebar, senyum memaafkan.
"Iya, Pak. Enggak sering, lho, hanya beberapa kali saja. Di antaranya adalah saat Panjenengan sedang piket. Saya lari berjinjit ke timur saat Panjenengan sedang menoleh ke barat."  Saya menahan tawa.
"Iya, ya, ya..." Tangan beliau yang kekar menepuk bahu saya yang ringkih.
"Doakan saya, Pak," pinta saya seraya menyalami lagi lalu bergerak meninggalkan madrasah.

Godaan Bolos di Hari Ahad

Pada hari Ahad, sama seperti hari yang lain. Semua madrasah masuk, tidak seperti di luar sana. Kampus pun juga, sama. Hari Ahad adalah hari yang biasa karena haris Kamis malam sebagai weekend kami dan hari Jumat-nya sebagai hari party.

Di pagi hari Ahad, seperti hari lain di luar Selasa dan Jumat, ada beberapa pengajian kitab. Kami bisa memilih, ke masjid atau ke langgar Dalem Barat. Di Masjid ada Kiai Zuhri. Di Delam Barat ada Kiai Hasan Abdul Wafi. Saya yang mondok di dalem Kiai Malthuf malah masih dapat keringanan lagi sebab kala itu komplek kami masih tidak terintegrasi dengan PP Nurul Jadid secara administrasi, melainkan mandiri.

Saat saya akan boyong, komplek kami akhirnya punya nama: “Daerah Jalaluddin Ar-Rumi” dan berafiliasi dengan “Gang A PPNJ” setelah nama daerah usulan kami sebelumnya, “Abu Nuwas”, ditolak oleh pengasuh. Alasan penolakan usulan kami itu sengaja memang tidak kami tanyakan karena takut suul adab.

Karena status komplek yang independen inilah kiranya yang membuat kami kadang arogan dan sok leluasa untuk tidak ikut pengajian di pagi hari. Saya dan kawan-kawan malah pergi ke Tanjung. Yang sering adalah pergi ke warung ketan, makan ketan dan minum kopi, duduk berjongkong di atas bangku, bersama para tetangga, abang becak yang banyak, juga petani sebelum ke sawah. Alangkah bebasnya! Pengurus yang kadang beroperasi pagi untuk mencari santri yang keluyuran tak berani bertanya, apalagi menegur. Sudah tahu mereka kalau kami, santri daerah Ar-Rumi tidak bisa diseret dengan pasal pelanggaran karena punya status sendiri, istimiwir.

Balik lagi ke soal Hari Ahad...

Hari Ahad sering bikin saya galau. Saya sering ngumpet di kamar, terutama kalau lepas istirahat jam pertama, pukul 09.00. Kebetulan, muter radio boleh di komplek kami, tidak seperti di kompelek yang lain. Syaratnya cuma “asal tidak keras dan berisik”. Dan ini merupakan salah satu yang membuat saya tertarik tinggal di komplek ini setelah tidak mampu bertahan lama di PP Madrasatul Qur’an, Tebuireng.

Ada dua hal yang merangsang untuk bolos di hari Ahad:

Pertama,  mendengarkan radio Suzanna di pagi hari, pukul 09.30-10.30. Jadi, sangat beruntung jikalau di jam segitu tak ada guru. Saya akan nyimak penyiar Bung Mario berceloteh tentang perkembangan musik rock dunia, mulai dari info terkini dari Billboard Top 40, majalah Kerrang atau Metal Edge. Program acara Bung Mario ini bertajuk MBR (mungkin “music by request”). Lagu-lagu era tahun 92, seperti “Pull Me Under” dari Images and Words-nya Dream Theater saya tahu darinya, sebelum ada radio lain yang memutarnya. Bung Mario terkadang menyelingi komentarnya dengan sedikit sesumbar, semacam ungkapan “kami memperdengarkan ini pertama kali untuk Anda karena album ini belum beredar di Indonesia”. Begitu pula, dari Bung Mario inilah saya tahu band-band rada asing (kala itu) seperti QueensrĂ¿che, The Almighty, tidak hanya seputar Warrant, Aerosmith, dan Bon Jovi.

Kedua, program “Rajawali Rock Line” asuhan Abas Fadli. Acara ini mulai pukul 15.00 dan berakhir pukul 16.00. Sayang sekali, acara ini kres dengan shalat jamaah salat ashar dan  pangajian Tafsir Ayatil Ahkam yang diampu oleh pengasuh. Nah, sayangnya lagi, saya tidak bisa bolos demi yang ini. Bukan karena program RRL lebih menarik dari MBR, bukan, melainkan karena susah cara bolosnya sebab pondok saya dekat sekali dengan mushalla. Pasti langsung ketahuan kalau saya tak hadir atau memutar terlalu keras. Jadi, hanya libur pengajianlah yang dapat menyelamatkan saya dari menikmati hidangan perkembangan musik rock dunia.

Kalau ingat masa SLTA di pondok, terasa senang sekarang. Kami belajar ‘nakal’ hanya pada tataran seperti itu, tidak berani keluyuran bareng lawan jenis di malam Jumat atau malam Ahad. Tapi, saat ini zaman sudah sangat pesat berubah, baik kemajuan maupun kemerosotannya. Coba saja perikasa lirik lagu zaman dulu ini: “Mati aku ayahku tahu / Aku sedang berjalan dengan pacarku / Mati aku ayahku tahu / Aku sedang berkencan dengan pacarku”.  Jalan berduaan saja, Rita Sugiarto itu sudah takut sekali, takut ketahuan, takut dipukul ayahnya. Lalu bandingkan dengan lagu/lirik berikut: “Kuhamil duluan sudah tiga bulan / Gara-gara pacaran tidurnya berduaan / Ku hamil duluan sudah tiga bulan / Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan”: hamil duluan saja malah diberitahukan sambil jogetan. Sungguh, jarak masa lagu yang pertama dan yang kedua itu tidak begitu lama, terbukti saya masih sama-sama menututinya.

Ngeri, kan?


5 komentar:

Unknown mengatakan...

Saya tidak bisa menahan tawa di paragraf terakhir.đŸ˜‚

Menunggu cerita berikutnya.

M. Faizi mengatakan...

komentar sudah dimonitor

Marom AlBanna mengatakan...

Bukankah Bung Mario itu siaran program bola pada jam segitu, Ra? World Soccer?

M. Faizi mengatakan...

Masa saya tahun 1991-1993

Mustafa Sudarto mengatakan...

Yu AL sudah jualan nasi tahun segitu cak?

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (2) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (4) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) fiksi (1) filem (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) humor (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog