23 Desember 2012

Kopi Darat Blogger Madura

Hari ini, Ahad 23 Desember 2012, menjadi hari menyenangkan bagi saya. Pagi ini, pukul 09.00, saya bisa berkumpul dengan para blogger dari seluruh Madura yang tergabung dalam komunitas Nak-Kanak Blogger Plat-M. Sejak membuat blog pertama kali pada bulan Agustus 2005, hari ini adalah kali pertama saya kopdar dengan sesama blogger. Pertemuan dilaksanakan di Taman Adipura (Taman Bunga) Sumenep, sisi selatan.

Acara ini merupakan rangkaian peringan “toron tana”, bertepatan dengan ulang tahun Nak-Kanak blogger Madura yang ke-3. Mereka semula mendirikan komunitas ini di UTM (Universitas Trunojoyo Madura; dulu Unibang) di Bangkalan. Menurut Wahyu Alam, lurah Plat-M, acara bincang-bincang pagi tadi merupakan kali pertama yang mengangkat tema non-IT. Sebelumnya, acara diskusi atau bincang santai tak jauh-jauh dari tema internet, informasi, teknologi, dan sekitar-sekitar itu.

Dalam kesempatan itu, saya diminta bicara tentang “keindahan Madura”. Secara berkelakar saya katakan, jika “keindahan” dimaksud hanya selalu diacu pada panorama alam dalam konsep pariwisata seperti saat ini, maka sulit mencari keindahan itu di Madura. Lombang dan Slopeng di Sumenep, Jumiang dan Api Alam di Pamekasan, atau Nepa dan Waduk Klampis di Sampang, serta Rato Ebu dan Mertajasa di Bangkalan, belum cukup menarik orang luar untuh jatuh cinta berkali-kali pada Madura. Pandangan inferior selama ini harus diluruskan lebih dulu dengan keindahan Madura yang sejati, misalnya pada ketulusan menyambut tamu, kegigihan dalam bekerja, kesejatian dalam bersahabat, dst.

Terkadang arah pembicaraan saya juga ‘kormeddal’ alias ‘asal bunyi’, seenaknya. Akan tetapi, saya yakin, rekan-rekan blogger mamakluminya. Di luar itu, kepada mereka saya jelaskan, bahwa saya juga seorang blogger. Ngeblog, bagi saya, merupakan sebuah jalan untuk memberikan kemungkinan tertuangnya ide tulisan. Jika harus menulis untuk media massa konvensional, seperti koran, majalah, jurnal, sementara energi kita untuk menulis terlalu melimpah sementara media yang dimaksud itu terbatas, cara pandang ini akan berbahaya. Kita akan punya ketergantungan pada media cetak, dan itu jelas tidak sehat.

Sekadar tambahan informasi, hingga saat ini saya merawat 6 blog yang semua saya kelola dan saya perbarui. Memang, kebaruan masing-masing blog tidak sama satu dan lainnya. Adapun keenam blog tersebut saya rinci berdasarkan tema yang saya pilih sejak awal dibuatnya. Inilah blog-blog yang saya maksud:
1.     Sareyang di Blogspot: blog ini berisi puisi dan beberapa artikel sastra
2.     Sareyang di MySpace: berisi lagu dan artikel tentang musik
3.     Kormeddal di Blogspot: blog ini berisi kolom dan hal-hal unik, remeh-temeh, namun dianggap menarik untuk ditulis
4.     Kormeddal di Multiply: blog ini barisi banyak gambar dan catatan perjalanan
5.     Titosdupolo di Blogspot: blog ini merupakan catatan harian kendaraan tua yang saya miliki, Mitsubishi Colt T-120. Bahkan, boleh jadi ini merupakan sedikit dari yang sangat sedikit “kendaraan yang punya diary dan catatan perjalanan”
6.     Sabajarin di Wordpress: blog yang (sementara) terakhir saya buat ini merupakan blog untuk gagasan/pemikiran saya, umumnya features dan kolom
Tergoda untuk membaca? Silakan klik saja nama-nama blog tersebut. Dan saya ucapkan terima kasih bagi yang berkenan mengunjunginya.








08 Desember 2012

Foto Keluarga

Jika Anda bertamu ke rumah seseorang, kadang terpajang di serambi depan atau bagian lain di rumah itu; beberapa foto. Kadang ada foto seorang tentara; foto pernikahan; foto wisuda; foto keluarga, dan semacamnya. Kerap juga ditemukan foto-foto kiai dan tokoh keagaamaan di sana.

Foto-foto itu sepintas tampak hanya sebagai bagian dari seni dekorasi, seperti halnya lukisan atau gambar buah-buahan di ruang makan, ataupun kaligrafi di ruang khusus. Namun, sesungguhnya foto-foto itu memberikan informasi tentang identitas pemilik rumah. Foto berbicara banyak hal tentang arah dan kecenderungan orangnya.

Saya tidak sedang menulis sebuah analisa tentang hubungan foto pajangan dan pemilik rumah. Karena untuk memhami hal semacam itu sebetulnya cukup dengan cara membiasakan diri mengamati foto-foto di setiap rumah orang yang kita kunjungi. Saya tiba-tiba teringat sesuatu; foto keluarga, saat seorang teman bertanya tentang 'keluarga' saya beberapa bulan yang lalu.

Di banyak tempat, terutama luar negeri, pertanyaan tentang keluarga sebagai identitas amatlah krusial, sangat sensitif. Namun karena teman dan saya sama-sama mengerti satu sama lain, pertanyaan itu menjadi pertanyaan hiburan yang mengesankan keakraban. Dan justru dari situlah saya sadar bahwa selama ini, selama 9 tahun pernikahan, kami belum pernah foto bersama secara khusus untuk membuat sebuah "foto keluarga".

Belakangan saya tahu, ada banyak keluarga yang mengundang fotografer profesional untuk mengabadikan kebersamaan keluarganya dalam sebuah foto. Ada pula yang menyewa pakaian, berdandan, dan pergi bersama-sama ke sebuah foto studio untuk kepentingan foto bersama. Secara kebetulan, akhirnya kami bisa membuat foto keluarga setelah kedatangan tamu seorang instruktur foto di sebuah sekolah fotografi terkenal di Jakarta. Ya, hari itu, Bapak Tedi K. Wardhana mengambil gambar untuk foto keluarga kami untuk yang pertama kalinya.

30 November 2012

Seragam Bapak-Ibu

Baju “seragam bapak-ibu”, baju yang dibuat dari kain dan atau motif sama dan diguakan oleh seorang pasangan suami-istri, termasuk jenis yang tidak saya suka. Dari dulu saya tidak pernah membayangkan akan memiliki jenis pakaian seperti ini. Namun, sejak tahun 2006, ketika saya memperoleh hadiah dua potong kain yang tampaknya memang dirancang model seperti itu, maka saya pun membautnya untuk pertama kali.

Belakangan, saya memiliki pakaian sejenis tidak hanya satu. Ada beberapa motif yang sama dan akhirnya menjadi bagian dari penghuni lemari pakaian kami. Terus terang, saya masih tetap tidak suka menggunakan pakaian model semacam ini dengan alasan seperti mengesakan simbol harmonis yang dipaksakan. Mungkin, dugaan saya terlalu berlebihan. Akan tetapi, saya tidak menyalahkan model “seragam bapak-ibu” ini. Karena itu saya tidak bikin kampanye agar orang lain tidak mengenakannya juga. Saya hanya kurang suka tanpa alasan yang dibuat-buat, dan itu bergantung kepada selera saya pribadi.

Suatu hari, tepatnya tanggal 2 Maret 2012, saya pergi ke sebuah pesta pernikahan teman di Tulungagung. Karena ingin simpel, saya hanya membawa sebuah tas selempang kecil, berisi 1 sarung dan 1 baju ganti. Saya berangkat dengan perkiraan waktu yang pas. Berangkat tengah malam dari rumah, kira-kira pukul 10 lewat sedikit saya sudah tiba di Tulungagung. Acara akan dilangsungkan bakda Jumat.

Menjelang shalat Jumat, saya numpang mandi di rumah tuan rumah. Begitu hendak akan mengenakan baju ganti itu, ternyata saya salah bawa pakaian. Yang saya bawa dalam tas selempang itu ternyata pakaiain istri saya yang motif dan bentuknya nyaris sama. Kala itu pula, sontak bertambahlah rasa enggan saya untuk memiliki “seragam bapak-ibu” seperti ini. Apa boleh buat, akhirnya saya tetap memakai baju yang telah saya pakai 12 jam yang lalu dan sudah menempuh perjalanan 300-an kilometer. 

23 November 2012

Iman dan Tanda Tangan


“Tanda tangan dua kali lagi, Pak, di sini dan di sini!”
Petugas bank itu menunjuk bagian yang mestinya saya tanda tangani. Saya pun lalu melakukan perintahnya. Setelah selesai, petugas melihat tanda tangan tersebut dengan cermat. Dahinya berkerut. Alisnya bertaut.

Dia menatap saya sambil berkata, “Kok tanda tangan Bapak beda satu sama lain?”
Saya tersenyum dan menjawab enteng, “Iman seseorang saja berubah-ubah, Mas, apa lagi cuma tanda tangan.”

Petugas itu tersenyum. Mungkin karena sudah terbiasa nasabah dengan berbagai gaya dan watak, dia tenang saja menjawab.
“Ya, tidak bisa begitu, Pak. Kalau urusan tanda tangan di bank, harus sama, Pak! Mari, Bapak tanda tangan sekali lagi.”

* * *

Saya ingat akan perkataan itu, perkataan yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Saya masih ingat hingga sekarang. Apa pasal? Saya merasa bersalah karena telah sembarangan berkata-kata. Dalam istilah anak muda di Madura, itu yang diebut “kormeddal”, yakni “asbun” atau asal bunyi. Ya, memang benar apa yang saya katakan, tapi tentu tidak tepat diucapkan di hadapan petugas bank itu, pada waktu itu.

Benar dalam ucapan belum tentu tepat saat disampaikan. Waktu dan situasi tetap harus menjadi bagian yang harus dipertimbangkan. Saya rasakan sekarang. Terlalu percaya diri, bagi orang lain, terkadang sungguh menyebalkan.

25 Oktober 2012

Pamer Kebaikan

Nabi menganjurkan kita bersedekah dan beramal baik. Salah satu keutamaan sedekah adalah dengan cara merahasiakannya. Karena itu, ada istilah “shadaqah sirr”, yaitu sedekah dengan merahasiakan penyantunnya. Dengan redaksi yang berbeda, mungkin kita bisa menjabarkan cara ini dalam kalimat berikut: “Hendaknya, amal baik yang telah dilakukan oleh tangan yang kanan tidak sampai diketahui oleh tangan yang kiri.”

Ungkapan di atas menyiratkan sebuah pelajaran agar kita terbiasa bersikap dan bersifat ikhlas, yaitu melakukan sesuatu setulus hati. Dengan ungkapan seperti itu, kita diajari berbuat baik tanpa perlu sanjungan dari orang lain. Kita senantiasa merahasiakan amal-amal baik yang kita lakukan.

Namun, belakangan, adanya jejaring sosial seperti blog, facebook, dll. telah membuat cara pandang manusia berubah. Kita melupakan hal ini. Banyak orang yang selalu bergairah untuk narsis. Semua amal kebaikannya dipamerkan kepada orang lain, seolah-olah orang lain harus juga tahu bahwa ia telah melakukan amal baik.

Sungguh, saya berlindung dari cara yang seperti ini.


29 Agustus 2012

Menghitung Spion dan Lampu Ekor

Jumat pagi, 24 Agustus lalu, saya naik kendaraan dari Pamekasan ke Guluk-Guluk. Sambil lalu, saya menghitung jumlah sepeda motor yang mendahului/didahului oleh saya. Jumlah totalnya adalah 42 sepeda motor. Jarak penghitungan dimulai dari Accemmanis (Pamekasan) hingga Guluk-Guluk (Sumenep). Adapun total jumlah jarak yang ditempuh adalah 30 kilometer. Waktu lama perjalanan berkisar 45 menit.

Apa yang ingin saya catat dari sepeda motor itu? Saya menghitung berdasarkan kaca spion. Dari jumlah total 42 sepeda motor, hanya ada 17 sepeda motor yang menggunakan 2 spion standar; ada 9 sepeda motor tidak memakai spion sama sekali, dan 16 tersisa hanya menggunakan “spion-spionan”, yaitu spion kecil/kaca datar yang jelas-jelas tidak dapat memantulkan onjek bergerak/kendaraan yang ada di belakangnnya karena terhalang oleh lengan atau tangan si pengendara.

Hampir dua tahun yang lalu, di suatu malam, saya juga melakukan penghitungan serupa. Bedanya, kali itu saya menghitung jumlah sepeda motor yang tidak menggunakan lampu belakang (lampu ekor). Hasilnya, dari 24 sepeda motor yang didahului, ada 9 sepeda motor yang mati lampu belakangnya. Angka ini sangat menakjubkan mengingat jalan itu adalah jalan raya, bukan jalan pedesaan yang mana arus lalu lintas sangat padat dan kendaraan yang melintas pun begitu ramai.

Setiap kali menempuh rute ini, ada satu atau dua momen kaget. Momen kaget ini hampir pasti saya alami setiap lewat di jalur tersebut, baik berupa belok mendadak tanpa lampu sein, aksi melongok dengan mata kepala karena tidak ada spion standar, dan jenis kecerobohan yang lain. saya berharap agar operasi lalu lintas tidak hanya getol di siang hari, yang notabene hanya mengecek kelengkapan surat-surat kendaraan. Betul, mengecek kelengkapan surat-surat itu berhubungan dengan pajak. Namun juga mengecek kelengkapan lampu di malam hari, menurut saya, akan banyak membantu masyarakat menyelamatkan nyawa agar tidak hilang percuma di jalan raya.

Betul, soal mati kapan dan di mana itu urusan Tuhan. Namun sikap hati-hati adalah ikhtiar yang wajib dilakukan. Wajib hukumnya, bukan main-main.

bacaan terkait:

1. Lampu Kota

2. Spion

31 Juli 2012

Ngebut Tapi Tidak Terburu-Buru

Saya mendapatkan cerita ini dari seseorang. Memang sih tidak persis seperti yang saya ceritakan ini, namun sekurang-kurangnya inti cerita adalah sebagai berikut:

Pada suatu malam, seorang kakek dibonceng cucunya dengan sepeda motor. Dengan kecepatan kira-kita 70 km / jam mereka berdua melaju. Karena perjalanan tersebut berlangsung di malam hari, lagi pula di jalan kecamatan, mereka berdua tidak menggunakan helem. Jamak diketahui, di desa, pengendara sepeda motor banyak yang tidak takut pada aspal jika mungkin mereka selip dan jatuh. Mereka menggunakan helem hanya karena takut terkena razia lalu ditilang.

Singkat cerita, perjalanan yang kurang dari 5 kilometer itu pun hanya ditempuh kurang dari 10 menit. Singkat. Setibanya di tempat tujuan, mereka pun turun dari sepeda motor lalu duduk. Ya, mereka berdua cuma duduk duduk, tidak melakukan kegiatan apa-apa.

“Kamu keburu mau kencing?” tanya si kakek.

Cucu menggeleng. Ia tetap duduk, melongo.

“Kok ngebutnya minta ampun? Saya kira kamu sedang kebelet pipis!”

Si kakek lalu merenungkan ulang kejadian barusan. Ia berkesimpulan sementara, bahwa ngebut dengan sepeda motor merupakan kebiasaan si cucu, dan mungkin juga kebiasaan teman-teman si cucu yang telah mempengaruhi kebiasaan cucunya itu. Mereka ngebut bukan karena mengejar sesuatu atau sedang terburu-buru. Ya, ngebut itu adalah kebiasaan mereka saja.


23 Juni 2012

Petugas SPBU versus Mobil Bergincu

Sabtu pagi menjelang siang, 2 Juni 2012, saya masuk ke SPBU Kangenan, Pamekasan. Letak stasiun pengisian bahan bakar umum ini berada di sebelah barat ruas jalan Pamekasan-Larangan Tokol. SPBU ini tergolong SPBU tua di Madura mengingat sejak saya ingat, di masa kecil dulu, jika kami hendak bepergian ke Jawa, biasanya sopir mobil selalu mengisi bahan bakar di SPBU ini.

Saat saya antri di pompa bensin sisi kiri, seorang petugas tampak bercakap dengan pengemudi Suzuki Carry 1.5 berwarna biru, plat merah. Petugas tampak senyum-senyum, tapi yang diajak bicara menampakkan wajah serius, bahkan cenderung tegang. Saya tidak mendengar tema pembicaraan itu karena saya masih di atas kendaraan. (saya menyesal tidak mencatat nopol. mobil karena saya memang tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan).

Saat tiba giliran saya, mesin dimatikan, tutup corong bensin dibuka, sambil menyodorkan selembar uang 50.000-an, saya mencoba mengulik.
“Tadi kok kelihatan tegang, Pak? kenapa?”
“Itu lho, bapak yang nyopor Carry tadi minta diisi premium. Saya ledek, ‘biasanya kalau plat merah harus isi pertamax, Pak’, kata saya kepada dia. Eh, malah dia emosional. Dia bilang, ‘suka-suka saya’. Tapi saya bantah, ‘saya sih hanya petugas biasa. Tugas saya hanya menerima uang dan memasukkan bahan bakar sesuai dengan jumlah uang itu.”
“Kok bisa sampai marah?” Saya menyela.
“Mungkin karena saya bilang begini, ‘saya kan hanya petugas, Pak. Mau pertamax, mau premium, itu terserah bapak. Cuma apa bapak nggak malu dengan perarutan yang telah ditetapkan?’

Petugas itu tertawa sambil menarik nozzle dan menautkannya ke mesin pompa. Saya tersenyum memberikan respon. Dan dia berkata lagi ketika saya menutup corong bensin dan menguncinya

“Ya, gitu, Mas. Repot kalau berhadapan dengan orang yang kurang tahu malu. Mungkin dia gengsi karena terlanjur emosi.”

Saya pun pergi dari SPBU itu sambil membayangkan andaikan saya menjadi petugas SPBU itu, atau andaikan saya menjadi sopir Suzuki Carry dengan plat nomor bergincu merah itu.

07 Juni 2012

Andaikan Anda Tak Punya Anak

Saya pernah dibikin sakit hati oleh seseorang. Pasalnya, baru kenal dia langsung ceramah di depan saya. Topiknya masalah rezeki. Kala itu, saya baru menikah, ya, mungkin sekitar 1 tahun. Dia tahu, kami belum dikaruniai momongan, sedangkan tamu ini, sebut saja namanya Jojon, sudah punya seorang anak. Usianya mungkin 3 tahunan.

Jojon mengantar istrinya bertandang ke rumah saya. Kebetulan, istri Jojon dan istri saya dulu teman sekolah. Kami duduk berhadapan. Camilin dihidangkan. Basa-basi dimulai.

“Sudah punya putra berapa?”

“Belum.”

“Wah, gimana?”

“Ya, nggak tahu. Saya sudah berusaha, tapi belum keparing sama Gusti Allah.”

“Eh, kamu ndak usah takut, ya. Rezeki anak itu ada tersendiri. Jangan khawatir.”

Ceramahnya ini disampaikan dengan intonasi seolah saya sangat bodoh. Nah, coba Anda bayangkan jika kalimat di atas ini diucapkan oleh orang yang baru saja kita kenal. Meskipun itu pernyataan yang benar, tapi dia telah menyampaikan dengan cara yang tidak benar. Bukan hikmah yang didapat, malah marah.

Belum cukup sampai di situ, si Jojon ini malah mengutip ayat Alquran, Surat Hud, ayat ke-6, yang menyatakan jaminan rezeki dari Allah untuk semua dabbah (binatang melata, termasuk manusia). Hari itu, saya benar-benar tampak sebagai orang awam di hadapannya.

“Iya, Anda kok bilang begitu,” kata saya mulai naik pitam. “Emang anak Anda itu Anda yang bkin? Cuma titipan to? Nabi Zakariya saja sampai usia 125 tahun belum dikarunia putra.”

“Iya, tapi itu kan nabi?” Orang ini ngeyel.

“Lah, iya. Seperti Nabi Nuh. Bagaimana jika anak kita membangkang kelak, seperti Kan’an misalnya. Apa Anda sanggup?”

Jojon terdiam. Saya benar-benar sakit hati dibuatnya. Baru bertamu sudah berfatwa. Suasana baru mereda ketika kami akhirnya makan bersama.

Mengolok-olok orang yang tidak dikaruniai keturunan (anak) sungguh merupakan olokan yang paling menyakitkan, terutama apabila yang mengolok-olok itu sudah ketibaan rezeki anak lebih dulu. Namun, banyak orang yang secara kormeddal ngomong sembarangan dan menganggap olokan macam ini termasuk dari jenis basa-basi semata. Saya menghindari cara itu karena saya sudah tahu betapa sakit hati orang yang tidak punya keturunan ketika mendapat olok-olok tentang kemandulan justru dari orang yang sudah punya anak.

* * *

Beberapa waktu yang lalu, setelah cerita di atas terjadi sekitar 8 tahun yang silam, istri Jojon menelepon istri saya dan bertanya, sudah punya anak apa belum? Kami lama tidak saling berkomunikasi. Istri si Jojon ini curhat karena dia ingin anak lagi, tetapi anak baru satu sejak dulu. Ekonominya kurang bagus sehingga ia harus merantau ke tempat yang jauh. Istri saya bilang alhamdulillah kalau kami sudah dikaruniai dua momongan, laki-perempuan.

Bagaimana kabar si Jojon sekarang? Saya ingat dia. Saya kasihan kepadanya, sekarang.

09 Mei 2012

Kerja di Mana?

Saya selalu merasa risih setiap menerima pertanyaan “kerja di mana?”. Tentu, hal ini disebabkan oleh, antara lain, karena saya sendiri adalah seorang “pengangguran”. Pengangguran? Ya, kalau pun saya bekerja sebagai penulis, sebagai penerjemah misalnya, sebagai guru ngaji umpamanya, semua jenis pekerjaan yang tekuni itu tidak dapat dicantumkan di dalam KTP. Mengapa? Ya, karena pekerjaan itu, oleh pandangan umum, dianggap “bukan jenis pekerjaan”. Buktinya, penghasilan dengan menjadi penulis an sich di negeri ini nyaris tidak dapat diandalkan untuk menjadi jawaban yang meyakinkan kepada calon mertua ketika kita hendak melamar anaknya.

Oleh karena itu, terus terang, saya tetap merasa risih ketika ada orang yang bertanya profesi dan jenis pekerjaan itu. Masa saya mau bilang wiraswasta? Rasanya itu kok hanya alasan yang dibuat-buat. Sungguh, saya selalu merasa risih untuk menjawab pertanyaan seperti itu sama risihnya dengan—andaikan—ada orang yang bertanya “Apa agama Anda?”. Umumnya, pertanyaan seperti ini memang cuma pertanyaan basa-basi yang terjadi karena pertemuan singkat di suatu tempat, di atas kendaraan umum misalnya. .

Begitulah, masih banyak orang yang selalu mengidentikkan pekerjaan itu dengan PNS, ngantor, dan jenis pekerjaan harin/rutin lainnya. Bagaimana nasib pekerjaan yang berada luar jenis seperti itu? Mari, kita datang bersama-sama ke kantor catatan sipil untuk menanyakan jawabannya.

22 April 2012

Kiri !

Tersebutlah Abdul Muin. Ia berasal dari Sumber Lancar, Sumber Anyar, Kecamatan Larangan Tokol, Pamekasan. Orang Sumber Anyar memanggilnya dengan nama kesayangan, yaitu Dul Kéhé'. Yang lebih muda usianya memanggilnya Kak Dul Kéhé'.

Asal-usul nama panggilan itu tidak saya selidiki. Yang saya tahu bahwa beliau sering pergi pulang ke Jawa, terutama tujuan Situbondo. Banyak orang Sumber Anyar maupun orang Jawa yang membutuhkan tenaganya untuk mengantar barang, surat, pesan-pesan, dan sebagainya. Terkadang, ia pergi ke Jawa 2 kali dalam seminggu.

Karena tujuan utama Situbondo, Kak Dul Kéhé' biasanya nunut AKAS IV (AKAS warna abu-abu) yang memang memiliki trayek Kalianget - Surabaya - Situbondo - Banyuwangi - Muncar. Di atas bis, beliau istirahat/tidur. Beliau hanya punya satu kata kunci "Kiri!" untuk menghentikan laju bis setibanya di Toko Silur, pertigaan paling dekat dengan kediamannya.

Nah, konon kalau beliau sedang tidur di rumah atau di mana pun dan kita kesulitan untuk membangunkannya, maka disarankan agar kita mengucapkan kata "kiri!!" dengan tekanan suara yang agak keras. Biasanya beliau langsung bangun, mungkin karena dia selalu merasa
sedang naik bis, bahkan dalam keadaan tidur di rumah sendiri sekalipun.

04 Maret 2012

Ketika Makmum Membalap Imam


Di daerah saya, di Madura, tidak sulit menjumpai kegiatan pembacaan tahlil. Tidak harus menunggu ada orang meninggal lebih dulu untuk mengikuti kegiatan seperti ini. Hampir setiap saat saya bisa mengikuti orang membacakan tahlil.

Orang-orang yang ada di majlis tahlil itu tidak kesulitan mengikuti bacaan yang dipimpin oleh seorang imam (yang memimpin pembacaan/kegiatan). Hal ini menunjukkan bahwa pembacaan tahlil sudah merupakan kegiatan yang biasa saya jumpai dalam kehidupan bermasyarakat di daerah saya, di Madura khususnya. Umunnya, masyarakat sudah hapal dan tahu apa yang akan dibaca, mulai dari pembacaan surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Mu’awwidzatain, Al-Fatihah lagi, awal surat Al-Baqarah, dan seterusnya. Bahkan, di beberapa tempat yang lain, pembacaan tahlil ini didahului oleh pembacaan Surat Yasin bersama, kadang pula dirangkai dengan pembacaan Surat Al-Mulk (Tabarak) sekaligus. Para hadirin cukup lancar mengikuti imam tanpa perlu sontekan.

Namun, contoh di atas adalah contoh untuk aktivitas yang tidak semua muslim melakukannya. Bagaimana dengan shalat, dalam hal ini shalat berjamaah? Ya, semua muslim tahu apa yang harus dilakukannya dalam melakukan shalat berjamaah. Semua makmum, yakni anggota shalat yang berada di belakang imam, akan mengikuti semua gerakan dan aktivitas yang dilakukan oleh imam tanpa perlu panduan lagi. Sebab, shalat berjamaah adalah shalat yang nyaris tidak berbeda dengan shalat yang dilakukannya sendirian, kecuali dalam hal pahala (Shalat berjamaah 27 derajat lebih utama daripada bershalat seorang diri). Hal ini sudah dimaklumi. Makmum akan mengawali shalatnya dengan takbiratul ihram, tentu setelah imam melakukannya. Setelah itu, mereka lalu melakukan bacaan maupun gerakan yang telah mereka ketahui urutannya, sekali lagi, tentu dengan syarat mengikuti imam.

Baik tahlil maupun shalat, jika kedua amal ini dilakukan secara berjamaah, harus dilukakan atas “panduan” seorang pemimpin, yakni imam, walaupun kita sudah paham dan hapal bacaan dan gerakan yang akan kita lakukan. Namun dalam kenyataannya, banyak orang yang tidak mengindahkan hal ini. Sebagian makmum melakukan gerakan/bacaan sesuai urutan yang mereka ketahui saja, bukan mengikuti imam. Akibatnya, tidak jarang saya jumpai orang yang sedang bershalat dan ia sudah bangkit untuk i’tidal pada saat sang imam masih melakukan ruku’; atau bangkit di antara dua sujud ketika sang imam masih sedang dalam keadaan bersujud.

Gambaran di atas membuat saya paham bahwa masih banyak orang yang beranggapan bahwa “berjamaah” itu hanyalah sekadar melakukan kegiatan yang sama secara bersama-sama, tanpa perlu terlalu mengindahkan sang imam. Mereka tidak sadar posisi. Mereka lupa posisinya sebagai makmum, yaitu bahwa di samping melakukan apa yang dilakukan oleh imam, makmum juga diharuskan untuk tidak “melampaui komando” sang imam. Padahal, saya yakin, sesungguhnya terdapat nilai-nilai luhur kebersamaan, organisasi, kordinasi, kolektivitas, dan banyak filosofi penting lain dalam “berjamaah” ini, tentu dengan syarat jika kita senantiasa sadar akan posisi itu, baik sebagai imam maupun sebagai makmum.

28 Februari 2012

Kecerdasan untuk Lampu Jalan

Sering saya melihat ada lampu jalan yang menyala sepanjang siang. “Lampu jalan yang dulu menggunakna lampu jenis gas merkuri itu tentu banyak sekali menghabiskan daya,” pikir saya. “Masih mendingan sekarang, lampu jalan sudah menggunakan lampu hemat energi (LHE).” Tapi, yang menjadi persoalan adalah: mengapa lampu jalan ini, di tiang-tiang yang tidak menggunakan otomat, selalu menyala di siang hari?

Betul, tiang lampu jalan umumnya berdekatan dengan rumah penduduk, sehingga, atau semestinya, mereka bisa ikut merawat lampu jalan jalan ini. Namun, seringkali mereka, atau kita, merasa tidak perlu memperhatian nasib lampu jalan ini. “Itu urusan dishub, itu urusan orang lain, itu bukan urusan saya.” Maka, lampu jalan itu pun menyala sepanjang malam dan sepanjang siang. Ia menyala dalam seminggu, terus-terusan, dan seterusnya. Toh, meksipun tiang bersaklar itu berdekatan dengan rumah penduduk, namun si pemilik ruamah, atau ketika ada orang yang kebetulan lewat di dekatnya, tidak punya inisiatif untuk memadamkannya saat pagi tiba.

Hal ini menunjukkan bahwa rasa kepemilikan kita tehadap fasilitas umum masih rendah. Tidak hanya soal lampu yang biayanya diambil dari rekening kita, masih banyak fasiltias lain yang tidak bisa dijaga, antara lain halte, telepon umum yang nyaris tidak berfungsi lagi, dan sebagainya. Apakah perhatian kita akan muncul hanya jika ada bayaran yang secara khusus dibebankan pada kita?

Di sisi lain, sebenarnya pemandangan buruk ini berhubungan juga dengan etiket dan kebiasaan kita. Sungguh masih sangat banyak orang yang karena dia mampu, dia berani menghambur-hamburkan sesuatu yang sebetulnya tidak perlu. Contoh, menyalakan lampu lebih banyak dan tidak perlu memadamkannya (ini di rumah sendiri) hanya karena dia mampu membayar tagihan listrik. Atau, dia mampu berjalan kaki untuk jarak tertentu tetapi dia menggunakan sepeda motor hanya karena mampu membeli premium. Sungguh, hemat itu bukan takdir untuk orang miskin. Hemat itu adalah etiket, atau anjuran agama.

Jika ada orang yang sudi memadamkan lampu jalan ketika dia lewat di dekat tiang itu pada saat hari sudah siang, pasti dia punya kecerdasan yang berbeda dengan orang yang tidak memadamkannya meskipun tiang lampu jalan itu ada di dekat rumahnya, bahkan lampu itu untuk menerangi lingkungan tempat dia tinggal. Nah, jika kecerdasan jenis ini ada skornya, saya yakin bahwa jenis orang yang pertama akan mempunyai kecerdasan yang lebih baik daripada orang yang kedua. Namun, saya tidak tahu, kecerdasan apa ini namanya.


22 Februari 2012

Cari Kerja


“Saya mohon sambung doa, saya mau cari kerja ke Malaysia,” kata lelaki 40 tahunan itu kepada kiai.
“Kenapa kami tidak bertani saja?”
“Saya sudah bertani berkali-kali. Untungnya tidak seberapa, tidak cukup untuk anak istri.”
“Sudah mencoba yang lain, beternak ayam, misalnya? Mungkin kamu cocok jika beternak ayam petelur,” Kiai mencoba membujuk agar dia tak berangkat ke Malaysia meninggalkan anak istrinya. Banyak kasus, di daerah situ: si suami pergi merantau, anak istri ditinggal. Eh, setahun kemudian datang mengirim kabar kawin lagi.
“Tapi saya sudah terlanjur berniat mantap, kiai. Sekali lagi, saya mohon sambung doa mau cari kerja di negeri tetangga saja. Karena saya lihat teman-teman saya lebih bagus perekonomiannya sepulang dari sana.”
Kiai menarik napas dan berkata, “Baiklah, jangan lupa, kalau sudah dapat rezeki, segera kirimkan uang ke rumah, untuk anak dan istrimu.”

Setehu kemudian, lelaki 40 tahunan itu kembali sowan kepada kiai.

“Lho, kapan datang?”
“Kemarin pagi, Kiai.”
“Kok sudah pulang dari Malaysia? Ada rencana kembali?”
“Tidak kiai, kapok. Saya rugi. Kerja 11 bulan dan hanya 7 bulan yang dibayar ringgit. Sisanya ditunda pembayarannya, entah sampai kapan.”
“Oh, apes nasipmu, ya. Kasihan.”

Lelaki 40 tahunan itu terus menunduk. Kini ia ingat, saat dulu sebelum berangkat, di tempat itu, ia pernah berkata kepada kiai bahwa kepergiannya ke Malaysia adalah untuk “cari kerja”, bukan cari duit. Seperti tampak sepele, namun rupanya ia baru sadar bahwa setiap ucapan sejatinya merupakan doa.

05 Februari 2012

Knalpot dan Klakson


Saya tinggal di dekat jalan desa, mungkin kelas III-B. Jarak dari pintu depan dengan jalan kurang dari 15 meter. Jika ada sepeda motor yang dipacu hingga lewat RPM 3000, suara knalpotnya akan terdengar sangat bising sampai ke dalam kamar. Kalau diklasifikasikan, ada tiga suara penting di jalan itu; knalpot, klakson, dan mesin. Bagi saya, deru mesin hanya berada di urutan ketiga dalam tingkat kebisingannya.

Saya termasuk orang yang tidak suka dengan suara klakson. Di lampu merah (APILL), sering saya mendengar orang membunyikan klakson berbarengan dengan lampu yang berubah menjadi hijau. Bunyi klakson itu sama artinya dengan “Ayo jalan, cepat. Tuh sudah hijau!”. Tapi, ada pula orang yang suka membunyikan klakson di mana pun ia berkendara. Saya mengherankan cara ini. Bagi saya, kebiasaan ini diawali oleh cara awal yang salah dalam mengmudi, baik mengemudi sepeda ktoor ataupun mobil. Akhirnya, kita cenderung menggunakan klakson sebagai bagian penting dan vital dari berkendara. Sebentar-sebentar klakson. Suatu waktu, saya pernah mendengar orang membunyikan klakson mobilnya sebanyak 11 kali hanya pada jarak kurang dari 700an meter. Gila, kan? Saya pikir. Betapa telinga kita akan stress mendengar bunyi itu. Padahal, pada saat itu jalan tidak begitu ramai.

Itu soal klakson. Bagaiamana kabar knalpot? Setiap mesin memproduksi kebisingan. Teknologi otomotif menciptakan inovasi demi inovasi pada knalpot untuk meredam kebisingan itu. Namun, kita juga tahu ada knalpot “telo”, knalpot yang bentuknya seperti ubi kayu itu. Knalpot macam ini sangat bising. Lalu, apa cita-cita dari knalpot seperti ini, ya?

Jika semakin hari jumlah penggemar knalpot telo ini semakin bertambah, bukan tidak mungkin pabrik kendaraan bermotor (terutama sepeda motor) akan mengeluarkan varian khusus sepeda motor dengan knalpot yang bising. Buktinya? Bengkel memodifikasi sepeda motor bebek dengan rem cakram, maka keluarlah varian sepeda motor bebek dengan rem cakram. Bengkel lain memodifikasi sepeda motor bebek dengan kopling ganda, keluar pula varian seperti itu dari dealer. Contoh, FIZ-R dan Supra XX.

Sebelum varian sepeda motor berknalpot bising diluncurkan, ada baiknya saya usulkan kepada pabrikan agar nanti, jika varian ini benar-benar diluncurkan, corong knalpotnya diletakkan di tengah, yakni dari manifold mesin langsung ditekuk ke atas, dekat dengan telinga si pengendara. Dengan cara ini, pengendara akan dapat menikmati suara knalpot dengan sempurna. Bahkan, saya akan mengusulkan agar knalpot tersebut dilengkapi dengan “manual equalizer”, sehingga pengendara dapat menentukan selera dan tingkat kebisingannya: mau nge-bass ataupun cempreng sama-sama bisa.

Selamat berinovasi. Teruskan cita-citamu, Knalpot!

referensi lain tentang klakson yang ramah telinga: di sini

15 Januari 2012

Secangkir Kopi untuk Sertifikasi Guru


Setiap kali pulang dari Jawa naik bis, saya selalu digoda oleh rasa penasaran pada suatu tempat, yaitu warung kopi di perempatan Masjid Sotok, Pademawu Barat, Pamekasan. Yang paling menarik perhatian adalah karena walaupun warung ini kecil dan agak kotor, bangunannya buruk, dindingnya banyak yang bolong, tetapi tamu-tamunya selalu banyak.

Rasa penasaran itu akhirnya saya bayar kemarin lalu. Pagi sekali, sekitar pukul 6 pagi lewat sedikit, saya duduk di ujung bangku panjang warung tersebut. Seperti seorang pelancong yang tidak tahu arah jalan, saya memesan secangkir kopi untuk memulai pembicaraan. Namun, busana dan tampang, mungkin juga gerak-gerik saya, membuat lelaki berpeci haji bermotif sulam emas dan mengenakan celana pendek itu bertanya, ‘Dari mana?’.

“Guluk-Guluk,” jawab saya singkat.
“Dekat rumah Haji Muzammil?”
“Tidak tahu.” Saya menautkan alis, merapatkan kerutan jidat.
“Itu, lho, pedagang sepeda motor.”
“Oh..” Sekarang saya tersenyum tanda mengerti. “Itu Haji Jamil namanya.”
Lelaki berpostur sedang itu menambahkan keterangan, sejenis testimoni. “Saya sering ke pesantren Guluk-Guluk, cuma belum pernah mampir ke rumahnya.”
“O, iya. Eh, Pak, kalau mau ke arah kota, bisa lewat jalan di depan itu, ya?”

Merupakan kebiasaan masyarakat Madura (sebab beberapa kali saya memperhatikan hal ini): jika Anda menanyakan alamat kepada sekelompok orang yang sedang berkumpul, umumnya mereka menjawab serempak, saling menunjukkan, dan hampir bersamaan. Akibatnya, ketika itu, saya tidak mampu membagi lirikan mata untuk suara di satu mulut dan suara satunya di mulut yang lain karena 2-3 orang yang ada di warung kopi itu ngomong semua, menunjukkan arah semua. Betapa “gateh” (grapyak) mereka itu, ya? Demikian hati kecil saya berkata.

Teknik pengalihan isu kali ini berhasil. Perhatian si lelaki berpeci yang duduk di dekat saya dan naga-naganya akan mengurus asal dan identitas saya pun teralihkan. Nah, ini salah satu kebiasaan orang Madura yang lain dan oleh kalangan tertentu kurang disukai: mengurus asal-usul, termasuk rumah, tetangga, dan bahkan jenis pekerjaan yang kita tekuni. Dengan menjawab pertanyaan dan segera menyusulkan pertanyaan tentang arah, umumnya mereka tidak akan menanyakan lebih jauh soal asal-usul. Mereka akan lebih sibuk menunjukkan tempat/arah yang kita tanyakan.

* * *

Kopi sudah disuguhkan dalan sebuah cangkir keramik kecil. Biasanya, di bawah cangkir tertera jenama yang sangat terkenal, “Sango –Made in China”. Saya mengelih. Tampaknya, biji-biji kopi itu baru ditumbuk. Aromanya masih semerbak dan kuat. Saya pun menduga, biji kopi ini hasil tumbukan, bukan hasil gilingan mesin mengingat tampak “sa’ar” (biji kopi yang tidak terlalu halus dan tidak larut/mengendap; kemerumpul) yang memenuhi permukaan cangkir.

Saya minum, menyalakan rokok, dan mengudarkan pandangan ke sekitar. Bis-bis antarkota melintas. Satu bis dari Jakarta, Pahala Kencana, juga lewat. Orang-orang bersepeda motor, pejalan kaki, ojek, anak-anak berseragam sekolah dengan sepeda kayuhnya, mulai lalu-lalang di  perempatan yang ramai itu.

Mengapa perempatan itu disebut “Masjid Sotok”? Kurang dari 100 meter dari warung itu terdapat sebuah masjid. Letaknya persis di pojok tenggara perempatan. Bis antarkota lewat di sini. Angkutan pedesaan juga melewatinya. Karena itu, tempat ini sangat ramai. Wajar jika orang membangun toko atau warung di sekitarnya.

Secara harfiah, dalam bahasa Madura, Masjid Sotok berarti Masjid Dorong. Konon, dulu, masjid tersebut tidak terletak di kordinat seperti saat ini. Entah pada era kepemimpinan siapa, masjid kemudian “e-sotok” (didorong) ke posisi yang sekarang ini. Kedengarannya lucu dan aneh, tapi demikianlah kenyataan yang didasarkan pada cerita yang berkembang. Saya tidak begitu kaget mendengar cerita asing ini sebab di Bagandan (Pamekasan) juga ada “Langgar Ngalle” (langgar/surau yang berpindah tempat). Adapun "Langgar Ngalle" terletak sekitar 300 meter arah barat daya kantor Bupati Pamekasan. Masyarakat setempat percaya bahwa langgar beratap jerami yang erat hubungannya dengan sejarah Raden Asyhar Seda Bulangan itu dulunya juga tidak berada di posisi yang sekarang. Namun, langgar ini lantas “berpindah sendiri” dari tempatnya yang semula.

Saya menyeruput kopi sehirup lagi, berbarengan dengan seorang lelaki berseragam cokelat muda, dibalut jumper abu-abu, yang masuk, duduk, dan memesan kopi.

“Kok pagi sekali, Di?” tanya lelaki berpeci sulam emas yang duduk di dekat saya kepada yang lelaki yang baru datang.
“Iya. Ada urusan sebentar.”
“Kalau ada tugas mengajar, langsung berangkat ke sekolah, jangan jualan ayam dulu.”

Yang bertanya barusan meneruskan ucapannya diiringi tawa kecil. Sementara lelaki berbaju seragam cokelat muda diam saja, mengeluarkan rokok dan menyalakannya. Dari pembicaraan dua arah ini saya tahu kalau lelaki yang baru datang tersebut adalah seorang guru yang mungkin kebetulan juga nyambi jualan ayam.

“Yah, kalau sudah dapat sertifikasi kerjanya yang betul. Jangan datang ke kelas pukul 8 dan masih suka pulang sebelum Duhur,” Satu suara menimpali.
“Iya. Sekarang cuma namanya saja dapat sertifikasi, kerjanya tetap sama dengan sebelumnya, tidak ada perubahan.” Lelaki ber-jumper itu menjawab, seperti membela diri.
“Kalau aku malah kasihan sama si sukwan-sukwan (sukarelawan) itu. Pukul 6 pagi sudah di sekolah. Mereka terima tugas ganti dari si penerima sertifikasi. Guru bersertifikasi malah pulang lebih awal. Tugasnya diberikan pada si sukwan.”

Dalam hati saya membatin, terus terang, tampang orang yang pakai celana pendek ini ini mirip—maaf kalau saya sebut—pengayuh becak, namun omongannya mirip orang dinas dari sebuah direktorat jenderal di Kemendiknas. Bedanya, dia hanya cukup mengenakan celana pendek untuk mengucapkan kata-kata bijaksana ini.

Hari sudah mulai tinggi. Orang-orang di jalan semakin ramai. Saya beranjak dari kursi dan membayar harga secangkir kopi.

“Seribu,” kata ibu tua penjaga warung.

Setelah membayar, mengucapkan salam, saya pun melangkah ke arah sepeda motor. Masih sempat saya dengar lanjutan perkataan tambahan dari lelaki tadi, “Sertifikasi cuma demi duit. Uangnya diambil, kerjanya tetap sama seperti yang sudah-sudah.”

Setelah saya menyalakan mesin dan menjalankan sepeda motor, tentu saya tidak tahu apa lagi yang akan disampaikan lelaki setengah baya itu. Yang jelas, pagi itu, saya melepas seribu rupiah untuk secangkir kopi dan sebuah pelajaran penting tentang “sertifikasi guru” dari seorang lelaki berpeci haji namun bercelana pendek. Dia adalah lelaki yang omongannya mirip orang dinas dari sebuah direktorat jenderal di Kemendiknas. Bedanya, dia hanya cukup mengenakan celana pendek untuk mengucapkan kata-kata bijaksana ini.

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog