Sekadar tambahan informasi, hingga saat ini saya merawat 6 blog yang semua saya kelola dan saya perbarui. Memang, kebaruan masing-masing blog tidak sama satu dan lainnya. Adapun keenam blog tersebut saya rinci berdasarkan tema yang saya pilih sejak awal dibuatnya. Inilah blog-blog yang saya maksud:
23 Desember 2012
Kopi Darat Blogger Madura
Sekadar tambahan informasi, hingga saat ini saya merawat 6 blog yang semua saya kelola dan saya perbarui. Memang, kebaruan masing-masing blog tidak sama satu dan lainnya. Adapun keenam blog tersebut saya rinci berdasarkan tema yang saya pilih sejak awal dibuatnya. Inilah blog-blog yang saya maksud:
08 Desember 2012
Foto Keluarga
Foto-foto itu sepintas tampak hanya sebagai bagian dari seni dekorasi, seperti halnya lukisan atau gambar buah-buahan di ruang makan, ataupun kaligrafi di ruang khusus. Namun, sesungguhnya foto-foto itu memberikan informasi tentang identitas pemilik rumah. Foto berbicara banyak hal tentang arah dan kecenderungan orangnya.
Saya tidak sedang menulis sebuah analisa tentang hubungan foto pajangan dan pemilik rumah. Karena untuk memhami hal semacam itu sebetulnya cukup dengan cara membiasakan diri mengamati foto-foto di setiap rumah orang yang kita kunjungi. Saya tiba-tiba teringat sesuatu; foto keluarga, saat seorang teman bertanya tentang 'keluarga' saya beberapa bulan yang lalu.
Di banyak tempat, terutama luar negeri, pertanyaan tentang keluarga sebagai identitas amatlah krusial, sangat sensitif. Namun karena teman dan saya sama-sama mengerti satu sama lain, pertanyaan itu menjadi pertanyaan hiburan yang mengesankan keakraban. Dan justru dari situlah saya sadar bahwa selama ini, selama 9 tahun pernikahan, kami belum pernah foto bersama secara khusus untuk membuat sebuah "foto keluarga".
Belakangan saya tahu, ada banyak keluarga yang mengundang fotografer profesional untuk mengabadikan kebersamaan keluarganya dalam sebuah foto. Ada pula yang menyewa pakaian, berdandan, dan pergi bersama-sama ke sebuah foto studio untuk kepentingan foto bersama. Secara kebetulan, akhirnya kami bisa membuat foto keluarga setelah kedatangan tamu seorang instruktur foto di sebuah sekolah fotografi terkenal di Jakarta. Ya, hari itu, Bapak Tedi K. Wardhana mengambil gambar untuk foto keluarga kami untuk yang pertama kalinya.
30 November 2012
Seragam Bapak-Ibu
23 November 2012
Iman dan Tanda Tangan
“Tanda tangan dua kali lagi, Pak, di sini dan di sini!”
Petugas bank itu menunjuk bagian yang mestinya saya tanda tangani. Saya pun lalu melakukan perintahnya. Setelah selesai, petugas melihat tanda tangan tersebut dengan cermat. Dahinya berkerut. Alisnya bertaut.
Dia menatap saya sambil berkata, “Kok tanda tangan Bapak beda satu sama lain?”
Saya tersenyum dan menjawab enteng, “Iman seseorang saja berubah-ubah, Mas, apa lagi cuma tanda tangan.”
Petugas itu tersenyum. Mungkin karena sudah terbiasa nasabah dengan berbagai gaya dan watak, dia tenang saja menjawab.
“Ya, tidak bisa begitu, Pak. Kalau urusan tanda tangan di bank, harus sama, Pak! Mari, Bapak tanda tangan sekali lagi.”
* * *
Saya ingat akan perkataan itu, perkataan yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Saya masih ingat hingga sekarang. Apa pasal? Saya merasa bersalah karena telah sembarangan berkata-kata. Dalam istilah anak muda di Madura, itu yang diebut “kormeddal”, yakni “asbun” atau asal bunyi. Ya, memang benar apa yang saya katakan, tapi tentu tidak tepat diucapkan di hadapan petugas bank itu, pada waktu itu.
Benar dalam ucapan belum tentu tepat saat disampaikan. Waktu dan situasi tetap harus menjadi bagian yang harus dipertimbangkan. Saya rasakan sekarang. Terlalu percaya diri, bagi orang lain, terkadang sungguh menyebalkan.
25 Oktober 2012
Pamer Kebaikan
Ungkapan di atas menyiratkan sebuah pelajaran agar kita terbiasa bersikap dan bersifat ikhlas, yaitu melakukan sesuatu setulus hati. Dengan ungkapan seperti itu, kita diajari berbuat baik tanpa perlu sanjungan dari orang lain. Kita senantiasa merahasiakan amal-amal baik yang kita lakukan.
Namun, belakangan, adanya jejaring sosial seperti blog, facebook, dll. telah membuat cara pandang manusia berubah. Kita melupakan hal ini. Banyak orang yang selalu bergairah untuk narsis. Semua amal kebaikannya dipamerkan kepada orang lain, seolah-olah orang lain harus juga tahu bahwa ia telah melakukan amal baik.
Sungguh, saya berlindung dari cara yang seperti ini.
29 Agustus 2012
Menghitung Spion dan Lampu Ekor
Jumat pagi, 24 Agustus lalu, saya naik kendaraan dari Pamekasan ke Guluk-Guluk. Sambil lalu, saya menghitung jumlah sepeda motor yang mendahului/didahului oleh saya. Jumlah totalnya adalah 42 sepeda motor. Jarak penghitungan dimulai dari Accemmanis (Pamekasan) hingga Guluk-Guluk (Sumenep). Adapun total jumlah jarak yang ditempuh adalah 30 kilometer. Waktu lama perjalanan berkisar 45 menit.
Apa yang ingin saya catat dari sepeda motor itu? Saya menghitung berdasarkan kaca spion. Dari jumlah total 42 sepeda motor, hanya ada 17 sepeda motor yang menggunakan 2 spion standar; ada 9 sepeda motor tidak memakai spion sama sekali, dan 16 tersisa hanya menggunakan “spion-spionan”, yaitu spion kecil/kaca datar yang jelas-jelas tidak dapat memantulkan onjek bergerak/kendaraan yang ada di belakangnnya karena terhalang oleh lengan atau tangan si pengendara.
Hampir dua tahun yang lalu, di suatu malam, saya juga melakukan penghitungan serupa. Bedanya, kali itu saya menghitung jumlah sepeda motor yang tidak menggunakan lampu belakang (lampu ekor). Hasilnya, dari 24 sepeda motor yang didahului, ada 9 sepeda motor yang mati lampu belakangnya. Angka ini sangat menakjubkan mengingat jalan itu adalah jalan raya, bukan jalan pedesaan yang mana arus lalu lintas sangat padat dan kendaraan yang melintas pun begitu ramai.
Setiap kali menempuh rute ini, ada satu atau dua momen kaget. Momen kaget ini hampir pasti saya alami setiap lewat di jalur tersebut, baik berupa belok mendadak tanpa lampu sein, aksi melongok dengan mata kepala karena tidak ada spion standar, dan jenis kecerobohan yang lain. saya berharap agar operasi lalu lintas tidak hanya getol di siang hari, yang notabene hanya mengecek kelengkapan surat-surat kendaraan. Betul, mengecek kelengkapan surat-surat itu berhubungan dengan pajak. Namun juga mengecek kelengkapan lampu di malam hari, menurut saya, akan banyak membantu masyarakat menyelamatkan nyawa agar tidak hilang percuma di jalan raya.
Betul, soal mati kapan dan di mana itu urusan Tuhan. Namun sikap hati-hati adalah ikhtiar yang wajib dilakukan. Wajib hukumnya, bukan main-main.
2. Spion
31 Juli 2012
Ngebut Tapi Tidak Terburu-Buru

Saya mendapatkan cerita ini dari seseorang. Memang sih tidak persis seperti yang saya ceritakan ini, namun sekurang-kurangnya inti cerita adalah sebagai berikut:
Pada suatu malam, seorang kakek dibonceng cucunya dengan sepeda motor. Dengan kecepatan kira-kita 70 km / jam mereka berdua melaju. Karena perjalanan tersebut berlangsung di malam hari, lagi pula di jalan kecamatan, mereka berdua tidak menggunakan helem. Jamak diketahui, di desa, pengendara sepeda motor banyak yang tidak takut pada aspal jika mungkin mereka selip dan jatuh. Mereka menggunakan helem hanya karena takut terkena razia lalu ditilang.
Singkat cerita, perjalanan yang kurang dari 5 kilometer itu pun hanya ditempuh kurang dari 10 menit. Singkat. Setibanya di tempat tujuan, mereka pun turun dari sepeda motor lalu duduk. Ya, mereka berdua cuma duduk duduk, tidak melakukan kegiatan apa-apa.
“Kamu keburu mau kencing?” tanya si kakek.
Cucu menggeleng. Ia tetap duduk, melongo.
“Kok ngebutnya minta ampun? Saya kira kamu sedang kebelet pipis!”
Si kakek lalu merenungkan ulang kejadian barusan. Ia berkesimpulan sementara, bahwa ngebut dengan sepeda motor merupakan kebiasaan si cucu, dan mungkin juga kebiasaan teman-teman si cucu yang telah mempengaruhi kebiasaan cucunya itu. Mereka ngebut bukan karena mengejar sesuatu atau sedang terburu-buru. Ya, ngebut itu adalah kebiasaan mereka saja.
23 Juni 2012
Petugas SPBU versus Mobil Bergincu
07 Juni 2012
Andaikan Anda Tak Punya Anak
Saya pernah dibikin sakit hati oleh seseorang. Pasalnya, baru kenal dia langsung ceramah di depan saya. Topiknya masalah rezeki. Kala itu, saya baru menikah, ya, mungkin sekitar 1 tahun. Dia tahu, kami belum dikaruniai momongan, sedangkan tamu ini, sebut saja namanya Jojon, sudah punya seorang anak. Usianya mungkin 3 tahunan.
Jojon mengantar istrinya bertandang ke rumah saya. Kebetulan, istri Jojon dan istri saya dulu teman sekolah. Kami duduk berhadapan. Camilin dihidangkan. Basa-basi dimulai.
“Sudah punya putra berapa?”
“Belum.”
“Wah, gimana?”
“Ya, nggak tahu. Saya sudah berusaha, tapi belum keparing sama Gusti Allah.”
“Eh, kamu ndak usah takut, ya. Rezeki anak itu ada tersendiri. Jangan khawatir.”
Ceramahnya ini disampaikan dengan intonasi seolah saya sangat bodoh. Nah, coba Anda bayangkan jika kalimat di atas ini diucapkan oleh orang yang baru saja kita kenal. Meskipun itu pernyataan yang benar, tapi dia telah menyampaikan dengan cara yang tidak benar. Bukan hikmah yang didapat, malah marah.
Belum cukup sampai di situ, si Jojon ini malah mengutip ayat Alquran, Surat Hud, ayat ke-6, yang menyatakan jaminan rezeki dari Allah untuk semua dabbah (binatang melata, termasuk manusia). Hari itu, saya benar-benar tampak sebagai orang awam di hadapannya.
“Iya, Anda kok bilang begitu,” kata saya mulai naik pitam. “Emang anak Anda itu Anda yang bkin? Cuma titipan to? Nabi Zakariya saja sampai usia 125 tahun belum dikarunia putra.”
“Iya, tapi itu
“Lah, iya. Seperti Nabi Nuh. Bagaimana jika anak kita membangkang kelak, seperti Kan’an misalnya. Apa Anda sanggup?”
Jojon terdiam. Saya benar-benar sakit hati dibuatnya. Baru bertamu sudah berfatwa. Suasana baru mereda ketika kami akhirnya makan bersama.
Mengolok-olok orang yang tidak dikaruniai keturunan (anak) sungguh merupakan olokan yang paling menyakitkan, terutama apabila yang mengolok-olok itu sudah ketibaan rezeki anak lebih dulu. Namun, banyak orang yang secara kormeddal ngomong sembarangan dan menganggap olokan macam ini termasuk dari jenis basa-basi semata. Saya menghindari cara itu karena saya sudah tahu betapa sakit hati orang yang tidak punya keturunan ketika mendapat olok-olok tentang kemandulan justru dari orang yang sudah punya anak.
* * *
Beberapa waktu yang lalu, setelah cerita di atas terjadi sekitar 8 tahun yang silam, istri Jojon menelepon istri saya dan bertanya, sudah punya anak apa belum? Kami lama tidak saling berkomunikasi. Istri si Jojon ini curhat karena dia ingin anak lagi, tetapi anak baru satu sejak dulu. Ekonominya kurang bagus sehingga ia harus merantau ke tempat yang jauh. Istri saya bilang alhamdulillah kalau kami sudah dikaruniai dua momongan, laki-perempuan.
Bagaimana kabar si Jojon sekarang? Saya ingat dia. Saya kasihan kepadanya, sekarang.
09 Mei 2012
Kerja di Mana?
Saya selalu merasa risih setiap menerima pertanyaan “kerja di mana?”. Tentu, hal ini disebabkan oleh, antara lain, karena saya sendiri adalah seorang “pengangguran”. Pengangguran? Ya, kalau pun saya bekerja sebagai penulis, sebagai penerjemah misalnya, sebagai guru ngaji umpamanya, semua jenis pekerjaan yang tekuni itu tidak dapat dicantumkan di dalam KTP. Mengapa? Ya, karena pekerjaan itu, oleh pandangan umum, dianggap “bukan jenis pekerjaan”. Buktinya, penghasilan dengan menjadi penulis an sich di negeri ini nyaris tidak dapat diandalkan untuk menjadi jawaban yang meyakinkan kepada calon mertua ketika kita hendak melamar anaknya.
Oleh karena itu, terus terang, saya tetap merasa risih ketika ada orang yang bertanya profesi dan jenis pekerjaan itu. Masa saya mau bilang wiraswasta? Rasanya itu kok hanya alasan yang dibuat-buat. Sungguh, saya selalu merasa risih untuk menjawab pertanyaan seperti itu sama risihnya dengan—andaikan—ada orang yang bertanya “Apa agama Anda?”. Umumnya, pertanyaan seperti ini memang cuma pertanyaan basa-basi yang terjadi karena pertemuan singkat di suatu tempat, di atas kendaraan umum misalnya. .
Begitulah, masih banyak orang yang selalu mengidentikkan pekerjaan itu dengan PNS, ngantor, dan jenis pekerjaan harin/rutin lainnya. Bagaimana nasib pekerjaan yang berada luar jenis seperti itu? Mari, kita datang bersama-sama ke kantor catatan sipil untuk menanyakan jawabannya.
22 April 2012
Kiri !
Asal-usul nama panggilan itu tidak saya selidiki. Yang saya tahu bahwa beliau sering pergi pulang ke Jawa, terutama tujuan Situbondo. Banyak orang Sumber Anyar maupun orang Jawa yang membutuhkan tenaganya untuk mengantar barang, surat, pesan-pesan, dan sebagainya. Terkadang, ia pergi ke Jawa 2 kali dalam seminggu.
Karena tujuan utama Situbondo, Kak Dul Kéhé' biasanya nunut AKAS IV (AKAS warna abu-abu) yang memang memiliki trayek Kalianget - Surabaya - Situbondo - Banyuwangi - Muncar. Di atas bis, beliau istirahat/tidur. Beliau hanya punya satu kata kunci "Kiri!" untuk menghentikan laju bis setibanya di Toko Silur, pertigaan paling dekat dengan kediamannya.
Nah, konon kalau beliau sedang tidur di rumah atau di mana pun dan kita kesulitan untuk membangunkannya, maka disarankan agar kita mengucapkan kata "kiri!!" dengan tekanan suara yang agak keras. Biasanya beliau langsung bangun, mungkin karena dia selalu merasa
sedang naik bis, bahkan dalam keadaan tidur di rumah sendiri sekalipun.
04 Maret 2012
Ketika Makmum Membalap Imam
28 Februari 2012
Kecerdasan untuk Lampu Jalan
Sering saya melihat ada lampu jalan yang menyala sepanjang siang. “Lampu jalan yang dulu menggunakna lampu jenis gas merkuri itu tentu banyak sekali menghabiskan daya,” pikir saya. “Masih mendingan sekarang, lampu jalan sudah menggunakan lampu hemat energi (LHE).” Tapi, yang menjadi persoalan adalah: mengapa lampu jalan ini, di tiang-tiang yang tidak menggunakan otomat, selalu menyala di siang hari?
Betul, tiang lampu jalan umumnya berdekatan dengan rumah penduduk, sehingga, atau semestinya, mereka bisa ikut merawat lampu jalan jalan ini. Namun, seringkali mereka, atau kita, merasa tidak perlu memperhatian nasib lampu jalan ini. “Itu urusan dishub, itu urusan orang lain, itu bukan urusan saya.” Maka, lampu jalan itu pun menyala sepanjang malam dan sepanjang siang. Ia menyala dalam seminggu, terus-terusan, dan seterusnya. Toh, meksipun tiang bersaklar itu berdekatan dengan rumah penduduk, namun si pemilik ruamah, atau ketika ada orang yang kebetulan lewat di dekatnya, tidak punya inisiatif untuk memadamkannya saat pagi tiba.
Hal ini menunjukkan bahwa rasa kepemilikan kita tehadap fasilitas umum masih rendah. Tidak hanya soal lampu yang biayanya diambil dari rekening kita, masih banyak fasiltias lain yang tidak bisa dijaga, antara lain halte, telepon umum yang nyaris tidak berfungsi lagi, dan sebagainya. Apakah perhatian kita akan muncul hanya jika ada bayaran yang secara khusus dibebankan pada kita?
Di sisi lain, sebenarnya pemandangan buruk ini berhubungan juga dengan etiket dan kebiasaan kita. Sungguh masih sangat banyak orang yang karena dia mampu, dia berani menghambur-hamburkan sesuatu yang sebetulnya tidak perlu. Contoh, menyalakan lampu lebih banyak dan tidak perlu memadamkannya (ini di rumah sendiri) hanya karena dia mampu membayar tagihan listrik. Atau, dia mampu berjalan kaki untuk jarak tertentu tetapi dia menggunakan sepeda motor hanya karena mampu membeli premium. Sungguh, hemat itu bukan takdir untuk orang miskin. Hemat itu adalah etiket, atau anjuran agama.
Jika ada orang yang sudi memadamkan lampu jalan ketika dia lewat di dekat tiang itu pada saat hari sudah siang, pasti dia punya kecerdasan yang berbeda dengan orang yang tidak memadamkannya meskipun tiang lampu jalan itu ada di dekat rumahnya, bahkan lampu itu untuk menerangi lingkungan tempat dia tinggal. Nah, jika kecerdasan jenis ini ada skornya, saya yakin bahwa jenis orang yang pertama akan mempunyai kecerdasan yang lebih baik daripada orang yang kedua. Namun, saya tidak tahu, kecerdasan apa ini namanya.
22 Februari 2012
Cari Kerja
05 Februari 2012
Knalpot dan Klakson
Saya tinggal di dekat jalan desa, mungkin kelas III-B. Jarak dari pintu depan dengan jalan kurang dari 15 meter. Jika ada sepeda motor yang dipacu hingga lewat RPM 3000, suara knalpotnya akan terdengar sangat bising sampai ke dalam kamar. Kalau diklasifikasikan, ada tiga suara penting di jalan itu; knalpot, klakson, dan mesin. Bagi saya, deru mesin hanya berada di urutan ketiga dalam tingkat kebisingannya.
15 Januari 2012
Secangkir Kopi untuk Sertifikasi Guru
Setiap kali pulang dari Jawa naik bis, saya selalu digoda oleh rasa penasaran pada suatu tempat, yaitu warung kopi di perempatan Masjid Sotok, Pademawu Barat, Pamekasan. Yang paling menarik perhatian adalah karena walaupun warung ini kecil dan agak kotor, bangunannya buruk, dindingnya banyak yang bolong, tetapi tamu-tamunya selalu banyak.
Rasa penasaran itu akhirnya saya bayar kemarin lalu. Pagi sekali, sekitar pukul 6 pagi lewat sedikit, saya duduk di ujung bangku panjang warung tersebut. Seperti seorang pelancong yang tidak tahu arah jalan, saya memesan secangkir kopi untuk memulai pembicaraan. Namun, busana dan tampang, mungkin juga gerak-gerik saya, membuat lelaki berpeci haji bermotif sulam emas dan mengenakan celana pendek itu bertanya, ‘Dari mana?’.
“Guluk-Guluk,” jawab saya singkat.
“Dekat rumah Haji Muzammil?”
“Tidak tahu.” Saya menautkan alis, merapatkan kerutan jidat.
“Itu, lho, pedagang sepeda motor.”
“Oh..” Sekarang saya tersenyum tanda mengerti. “Itu Haji Jamil namanya.”
Lelaki berpostur sedang itu menambahkan keterangan, sejenis testimoni. “Saya sering ke pesantren Guluk-Guluk, cuma belum pernah mampir ke rumahnya.”
“O, iya. Eh, Pak, kalau mau ke arah kota, bisa lewat jalan di depan itu, ya?”
Merupakan kebiasaan masyarakat Madura (sebab beberapa kali saya memperhatikan hal ini): jika Anda menanyakan alamat kepada sekelompok orang yang sedang berkumpul, umumnya mereka menjawab serempak, saling menunjukkan, dan hampir bersamaan. Akibatnya, ketika itu, saya tidak mampu membagi lirikan mata untuk suara di satu mulut dan suara satunya di mulut yang lain karena 2-3 orang yang ada di warung kopi itu ngomong semua, menunjukkan arah semua. Betapa “gateh” (grapyak) mereka itu, ya? Demikian hati kecil saya berkata.
Teknik pengalihan isu kali ini berhasil. Perhatian si lelaki berpeci yang duduk di dekat saya dan naga-naganya akan mengurus asal dan identitas saya pun teralihkan. Nah, ini salah satu kebiasaan orang Madura yang lain dan oleh kalangan tertentu kurang disukai: mengurus asal-usul, termasuk rumah, tetangga, dan bahkan jenis pekerjaan yang kita tekuni. Dengan menjawab pertanyaan dan segera menyusulkan pertanyaan tentang arah, umumnya mereka tidak akan menanyakan lebih jauh soal asal-usul. Mereka akan lebih sibuk menunjukkan tempat/arah yang kita tanyakan.
* * *
Saya minum, menyalakan rokok, dan mengudarkan pandangan ke sekitar. Bis-bis antarkota melintas. Satu bis dari Jakarta, Pahala Kencana, juga lewat. Orang-orang bersepeda motor, pejalan kaki, ojek, anak-anak berseragam sekolah dengan sepeda kayuhnya, mulai lalu-lalang di perempatan yang ramai itu.
Mengapa perempatan itu disebut “Masjid Sotok”? Kurang dari 100 meter dari warung itu terdapat sebuah masjid. Letaknya persis di pojok tenggara perempatan. Bis antarkota lewat di sini. Angkutan pedesaan juga melewatinya. Karena itu, tempat ini sangat ramai. Wajar jika orang membangun toko atau warung di sekitarnya.
Secara harfiah, dalam bahasa Madura, Masjid Sotok berarti Masjid Dorong. Konon, dulu, masjid tersebut tidak terletak di kordinat seperti saat ini. Entah pada era kepemimpinan siapa, masjid kemudian “e-sotok” (didorong) ke posisi yang sekarang ini. Kedengarannya lucu dan aneh, tapi demikianlah kenyataan yang didasarkan pada cerita yang berkembang. Saya tidak begitu kaget mendengar cerita asing ini sebab di Bagandan (Pamekasan) juga ada “Langgar Ngalle” (langgar/surau yang berpindah tempat). Adapun "Langgar Ngalle" terletak sekitar 300 meter arah barat daya kantor Bupati Pamekasan. Masyarakat setempat percaya bahwa langgar beratap jerami yang erat hubungannya dengan sejarah Raden Asyhar Seda Bulangan itu dulunya juga tidak berada di posisi yang sekarang. Namun, langgar ini lantas “berpindah sendiri” dari tempatnya yang semula.
Saya menyeruput kopi sehirup lagi, berbarengan dengan seorang lelaki berseragam cokelat muda, dibalut jumper abu-abu, yang masuk, duduk, dan memesan kopi.
“Kok pagi sekali, Di?” tanya lelaki berpeci sulam emas yang duduk di dekat saya kepada yang lelaki yang baru datang.
“Iya. Ada urusan sebentar.”
“Kalau ada tugas mengajar, langsung berangkat ke sekolah, jangan jualan ayam dulu.”
Yang bertanya barusan meneruskan ucapannya diiringi tawa kecil. Sementara lelaki berbaju seragam cokelat muda diam saja, mengeluarkan rokok dan menyalakannya. Dari pembicaraan dua arah ini saya tahu kalau lelaki yang baru datang tersebut adalah seorang guru yang mungkin kebetulan juga nyambi jualan ayam.
“Yah, kalau sudah dapat sertifikasi kerjanya yang betul. Jangan datang ke kelas pukul 8 dan masih suka pulang sebelum Duhur,” Satu suara menimpali.
“Iya. Sekarang cuma namanya saja dapat sertifikasi, kerjanya tetap sama dengan sebelumnya, tidak ada perubahan.” Lelaki ber-jumper itu menjawab, seperti membela diri.
“Kalau aku malah kasihan sama si sukwan-sukwan (sukarelawan) itu. Pukul 6 pagi sudah di sekolah. Mereka terima tugas ganti dari si penerima sertifikasi. Guru bersertifikasi malah pulang lebih awal. Tugasnya diberikan pada si sukwan.”
Dalam hati saya membatin, terus terang, tampang orang yang pakai celana pendek ini ini mirip—maaf kalau saya sebut—pengayuh becak, namun omongannya mirip orang dinas dari sebuah direktorat jenderal di Kemendiknas. Bedanya, dia hanya cukup mengenakan celana pendek untuk mengucapkan kata-kata bijaksana ini.
Hari sudah mulai tinggi. Orang-orang di jalan semakin ramai. Saya beranjak dari kursi dan membayar harga secangkir kopi.
“Seribu,” kata ibu tua penjaga warung.
Setelah membayar, mengucapkan salam, saya pun melangkah ke arah sepeda motor. Masih sempat saya dengar lanjutan perkataan tambahan dari lelaki tadi, “Sertifikasi cuma demi duit. Uangnya diambil, kerjanya tetap sama seperti yang sudah-sudah.”
Setelah saya menyalakan mesin dan menjalankan sepeda motor, tentu saya tidak tahu apa lagi yang akan disampaikan lelaki setengah baya itu. Yang jelas, pagi itu, saya melepas seribu rupiah untuk secangkir kopi dan sebuah pelajaran penting tentang “sertifikasi guru” dari seorang lelaki berpeci haji namun bercelana pendek. Dia adalah lelaki yang omongannya mirip orang dinas dari sebuah direktorat jenderal di Kemendiknas. Bedanya, dia hanya cukup mengenakan celana pendek untuk mengucapkan kata-kata bijaksana ini.