22 Mei 2019

Panduan Bagi Camer yang Akan Menerima Santri Sebagai Calon Menantunya



Sebelum terlanjur menerima Rori jadi suami anaknya, Pak Santoso (biasa dipanggil Pak So) berniat menguji integritas, intelektualitas, serta pengalaman si calon menantu. Berikut hasil wawancara Pak “So” kepada “Ri”. Dalam kasus ini, saya berperan sebagai tukang catat saja.

“Aku kan ndak pernah mondok, Nak. Kamu itu di pondok ngapain aja?”
“Di pondok, ya, mengaji, Bapak Mertua!”

“Hus, belum-belum sudah nyolot. Panggil aku ‘Bapak’ saja, tidak usah pakai embel-embel mertua segala.”
“Oh, maaf.”

“Cuma mengaji, kan bisa di rumah? Apa bedanya?”
“Bisa, sih, Pak, asalkan kiainya didatangkan ke rumah. Tapi, kalau di rumah, kita-kita ini tidak bisa mengabdi, tidak bisa berkhidmat untuk pondok dan kiai. Lagi pula, kalau di rumah nanti tidak bisa disebut mondok, melainkan les atau kursus, kecuali kalu kita memang tinggal di semacam Pondok Maspion Indah yang perumahan itu atau di Pondok Saung Kabayan yang jualan ayam lalapan.”

“Kalau misalnya tinggal di rumah tapi ngajinya di pondok?”
“Rumahnya di lingkungan pondok apa enggak? Jika di luar pondok, dia namanya “santri kalong”. Kalau di lingkungan pondok, namanya Gus, atau Lora, anaknya kiai, Bapak.”

“Oh, begitu, ya? Baik, lanjut. Pondok kamu itu pake tembok atau terbikin dari kayu dan berkaki kayak rumah gadang itu?”
“Pondokan saya sudah bertembok, Pak. Ada juga tersisa pondok kayunya, tapi sudah tinggal beberapa, banyak yang rusak, soalnya kadang diteteli sama santri-santri buat bahan bakar tungku saat masak-masak.”

Pak Santoso diam dulu. Entah beliau mengumpulkan bahan pertanyaan atau sekadar memberikan jeda. Setelah nyeruput teh, beliaunya kembali bertanya.

“Maaf, ya. Kok kalau santri itu identik dengan korengan, gudikan, kusut, kumal? Tapi kamu ini, mmm... lumayanlah kalau kamu ini, agak necis.”
“Oh, itu stereotip saja, Pak. Yang membikin kesan seperti itu pasti bukan santri, biasanya media atau orang yang mudah percaya film, koran, atau hasil penelitian yang surveinya hanya dilakukan beberapa hari dan ditulis dalam beberapa halaman, sementara pondoknya sudah berusia lebih satu abad. Yaelah, pasti banyaklah yang terlewat.”

“O, begitu, toh? Baik. Katanya, di pondok itu ngaji kitab, ‘gundul’ pula. Kok cari susah, sih. Sekarang kan sudah banyak kitab terjemahan. Bukankah bisa saja kita belajar sendiri di rumah?”
“Oh, itu maksudnya supaya kita belajar kepada ahlinya, kepada yang asli, bukan kepada yang kw. Kalau yang ori ada garansinya, yang kw enggak. Mudah dipahami, kan, Pak?”

“Paham, agak paham, sih. Tapi, gak apa-apa. Nanti aku bakal paham sendiri. Butuh waktu agak lama untuk mikir beginian. Okay, soal biaya, bagaimana?”
“Murah, Pak, pasti lebih murah daripada di sekolah-sekolah, apalagi kalau dibandingkan dengan biaya pendidikan dan biaya hidup di kampus. Di kampus itu, selain biaya uang gedung, konon—kata teman saya, sih—yang amat mahal itu biaya pacaran dan biaya nongkrongnya. Sementara , semua itu tidak ada.”

“Bagaimana rasionalisasi bisa murah?”
“Sebab dana ini-itunya banyak ngambil dari dompet kiai. Pengasuhnya mikir, masyarakat dan wali santrinya juga mikir untuk melangsungkan pendidikan. Kalau sekolahan kan sudah tidak perlu mikir lagi. Pikiran operasionalnya sudah dititipkan ke Kemenag dan Kemendiknas sehingga tinggal jalan saja lembaga pendidikannya. Kalau pondok, pondoknya, lho, bukan sekolahan yang ada di pondok, itu harus “mikir sambil jalan”. Tentu saja, untuk kasus pondok moderen pasti beda. Biayanya tidak murah. Saya ini bicara podok yang umum-umum, yang pada umumnya gitu. Kalau ada yang sangat mahal, itu pasti pondok perkecualian. ”

“Terus, kalau jadi kiai di situ, berapa gajinya?”
“Tidak digaji, Pak. Kiainya cari sendiri sumber penghidupannya. Adakalanya disalamtempeli oleh walisantri, tapi jarang-jarang.”

“Wah, enak bener itu. Enggak usah kerja, dikasih duit.”
“Pas dapat salam tempel tentu enak, tapi yang bangun pondok dan mengoperasikan itu emang duit dari mana jika sebagiannya bukan dari salam tempel itu? Dari sumbangan yang cuman semehek-mehek begitu kan tidak mungkin. Dan kiai kami itu juga makan, Pak, ndak terus-menerus berpuasa.  Kalau disuruh ngajar gratisan terus-terusan, emang kitabnya kayak printer yang bisa nyetak uang begitu?”

***

Percakapan ini hanya gurauan saja. Tentu saja, saya bikin wawancara imajiner seperti ini supaya ada imbangan bagi pandangan kelompok yang ada di sana. Sudah sejak lama, ada kelompok yang ingin merendahkan kaum santri dan/atau pesantren dengan berbagai caranya. Usaha untuk merendahkan ini bukan isapan jempol, lho, tapi nyata. Cirinya mereka, antara lain, adalah menganggap penghormatan santri terhadap kiai sebagai sesuatu yang berlebihan, kultus, dan itu berbahaya bagi kemurnian keyakinan, terhadap kesucian iman tepatnya. Itu kata mereka, tapi tidak kata santri, sebab santri tahu bedanya hormat bendera dan hormat kepada orang tua.

Banyak hal lucu dan aneh di pondok, layaknya mengada-ada. Yang mondoknya sebentar pasti percaya, apalagi yang lama. Yang tidak percaya pasti yang mondoknya hanya di Saung Kabayan atau di pondok prodeo.

Di antara hal unik dan nyaris tidak masuk akal itu adalah bahwa ada santrinya kiai yang terkadang bukan berwujud orang, melainkan mobil atau jin. Kalau enggak percaya, tanya saja kepada sebagian “petualang pesantren”, “santri kelana”, atau “santripedia” seperti Toni Pangcu. Saya tidak akan cerita tentang santri jin karena wilayah ini terlalu privat untuk dibaca publik. Soal memondokkan mobil, memang ada benar. Alasan si empunya—kira-kira kalau diparafrasa ulang redaksinya—adalah;  “Mobil ini dipasrahkan kepada Kiai agar diajak-ajak oleh Panjenangan ke pengajian. Sebab, saya yakin, Panjenengan akan mengajak mobil ini berkhidmah, seperti ke pengajian, ndak mungkin diajak pergi ke tempat tidak benar, seperti dibawa pergi ke tempat berlangsungnya rapat makar atau perjudian.”

Pernah kejadian, eh, sering malah (karena lebih dari lima kali), Kiai Jauhari dari Pace, Jember, bertandang (sowan) ke beberapa kiai di Madura. Beliau bawa rombongan dalam tiga mobil: mobil pertama dikendarai Kiai Jauhari sekeluarga, mobil kedua membawa rombongan, mobil ketiga berisi sebagian anggota rombongan dan oleh-oleh, seperti beras, kopi, sayur, dll. Ketika hendak pulang, seluruh penumpang mobil ketiga pindah ke mobil kedua. Terus, mobilnya? Ditinggal sebagai oleh-oleh, berikut semua barang yang ada di dalamnya. Aneh, ya? Tapi itu ada beneran.

Masih ada sekian keistimewaan yang ada di pesantren. Contoh: pengawasan di pondok itu 24 jam, baik secara fisik oleh pengurus maupun secara spiritual oleh pengasuh. Ini berbeda dengan di kelas yang diawasi dari pagi sampai siang atau sore saja, diawasi oleh guru, saptam, atau CCTV. Setelah anak pulang ke rumah, orangtuanya yang ganti ambil peran. Tapi, benarkah mereka sempat memantau anak sebenar-benar? Mampir di mana saja mereka ketika pulang? Malamnya, ke mana mereka keluyuran?

Eits, lama-lama, saya kok merasa sedang nulis endorsemen, ya? Oh, tidak. Ini tentang alasan mengapa Rori harus menjelaskan kepada calon mertuanya, Pak Santoso, ini dan itunya karena Pak So hanya tahu sedikit tentang hal ini

“Sebentar, Nak!” tiba-tiba Pak Santoso nyeletuk. “Intinya, apa yang sangat membedakan antara pesantren—taruhlah—dengan lembaga pendidikan lain?”

“Nganu, Pak, mmm... jaminan kepuasannya!”
“Wah, garasi? Eh, garansi? Ada garansinya begitukah?”
“Maksud saya,“jaminan kepuasan” itu begini: Di pondok, kalau mereka berhenti, biasanya orangtua tetap menyambungkan tali silaturahmi dengan kiai. Selebihnya, kiai terus mendoakan mereka sampai mati, si santri atau si kiai. Setahu saya, RAM dan VGA Card ada yang lifetime guaratee, tapi keburu RAM dan VGA-nya yang ‘mati’ duluan. Tapi, saya juga reaslitis, tentu saja, bolong-bolongnya juga banyak. Saya harus imbang agar tidak jurkam. Mari kita kupas.”

“Kalau terlalu serius mondok, biasanya anak jadi kurang aktif dalam pergaulan dengan sesamanya, apalagi sama lain jenis. Wong mau ketemu saja mereka enggak bisa. Pengalaman saya waktu mondok dulu, saya berpapasan dengan santri putri hanya ketika berangkat sekolah. Kebetulan, di pondok kami, di jalan menuju madrasah itu ada perlintasan, kayak rel kereta api begitu, tapi tanpa JPL dan penjaga, yang kalau kebetulan ada gerombolan putri yang lewat, gerombolan putra tahan dulu. Setelah mereka melintas, barulah gantian kami yang lewat, sembari mengendus-endus sisa Pucelle atau Cologne dan wangi pupur yang masih mengambang di udara yang terhirup dulu oleh hidung kami. Sementara teman kita di kampus, main ke kamar cewek terus masuk ke dalam dan boleh mengunci pintu? Pak kos diam saja? Dan, ngapain saja mereka di dalam? Wiridan? Main halma? Masak cuman main halma sampai tutup pintu segala?”

“Wah, seru juga, ya!” Pak So menyela paparan Ri.
“Iya, dong. Dan yang tidak menarik lainnya masih ada, yakni karena kalau pagi mereka mengantuk. Di kelas mengantuk, di mushalla mengantuk. Mengapa mengantuk? Karena malamnya begadang. Tapi, mereka begadang sesuai anjuran oleh Rhoma Irama, begadang yang ada perlunya, yakni belajar dan tahajud, bukan begadang demi menghabiskan jatah kuota yang bakal habis setelah fajar. Kalau begitu, nah, kapan waktu tidurnya jika bukan tidak di dalam kelas? Katanya begitu, sih.”

“Ri?”
“Ya, Pak!”
“Ternyata, jawabanmu itu menarik.”
“Lah, kan calon menantunya, Bapak, he, he, he....
“Husy....!!”
“Kalau tidak keren, mana berani saya ngelamar putrinya bapak.”
“Husy lagi... Heh, aku yang tidak pernah punya pengalaman mondok, jadi pengen mondok, sayang usiaku sudah tuwir”
“Tapi, omong-omong, janganlah Bapak ikut-ikutan jadi santri.”
“Loh, emang kenapa?”
“Lah, terus, kalau bapak yang jadi santri, terus sya mau melamar siapa?”


11 Mei 2019

Hal-Hal yang Hilang di Dalam Perjalanan Naik Bis



Ini cerita zaman dulu. Sebetulnya, peristiwanya tidak begitu dulu, yah, semacam beberapa tahun yang lalu saja, sebelum “share loc.” dikenal dan GPS masih menjadi kebutuhan navigasi dan tentara, beda dengan sekarang yang orang umum pun pada tahu dan punya, kayak sisir rambut.

Subang, 1/1/2013
Kalau kamu sedang duduk-duduk di tepi jalan, sedang jaga toko atau nongkrong, acapkali ada pelintas atau orang entah siapa yang mendadak berhenti, lalu mendekat. Kalau mereka naik mobil, mereka turun dari kabin. Jika naik motor, mereka akan matikan mesin, turun dari sadel, kadang setengah membungkuk juga sebelum bertanya.

“Misi... numpang tanya. Tahu sama rumahnya Mas Marco?
Mas Marco yang mana, ya?
Yang jualan meubel jati, Mas.
Oh, di situ. Sampeyan lurus saja ikuti jalan ini, nanti ada gang lebar ke kiri, masuk. Terus saja sampai ketemu perempatan, ada pohon mahoninya di kanan jalan. Sampeyan ikut ke kanan, notok sampai ketemu rumah sangat besar dan bertingkat...”
“Oh, di situ rumah Mas Marco?”
“Ndak, bukan, rumahnya sampingnya lagi, persis.”
“Ooo...iya...”

Cakap basa-basi seperti ini di kalangan, di zaman sekarang, nyaris tidak ada lagi, terutama di kalangan Gen Z, generasi yang masa pubernya dicapai bersamaan dengan masa kepresidenan Pak Joko. GPS sudah menjawab semua pertanyaan kamu. WhatApps akan ngasih tahu posisi rumah doi secara tepat. Naik-turun sadel kalau cuman buat nanya-nanya tak perlu lagi. Tapi, kan memang itu yang kita damba? Praktis dan instan.  

Subang kalau tak salah, tahun baru 2013
Meskipun tampak sepele, perubahan gaya hidup seperti ini akan turut pula mengubah sudut pandang kita terhadap kehidupan, terhadap manusianya, terhadap lingkungan. Pasalnya, orang makin jarang bertatap muka. Mereka lebih sering bicara dengan layar LCD. Kalaupun berkumpul di satu tempat, tapi urusan mereka sendiri-sendiri. Perubahan gaya ini juga berpengaruh terhadap bahasa, khususnya pepatah. Yang dulu eksis, kini harus dihapus, atau diubah: Malu bertanya, sesat di jalan. Nanya melulu, bikin malu. Ogah bertanya, pakailah GPS.



***

Apakah kita mau mengutuk teknologi? Kurang kerjaan, ah. Nyatanya,  meskipun banyak yang antiteknologi dan tetap mengutuknya, orang awam merasa lebih nyaman menjalani hidup dengannya, terutama karena adanya teknologi komunikasi dan transportasi. Namun, kalau mau jujur, yang paling dijunjung oleh generasi awal adalah keluhuran budi, dan itu wujud daripada humanisme, kemanusiaan yang beradab. Humanisme inilah yang dapat menyatukan umat manusia yang beda ras, beda agama, beda bangsa, bukan teknologi.

lokasi sama dengan foto di atas 
Di perjalanan, banyak sisi-sisi lain humanisme yang ‘mengelupas’, berubah, bahkan ada pula yang mulai pudar. Sejak dibangunnya tol berkepanjangan panjang (begitu orang menyebut Trans-Jawa) di pulau Jawa, yang dulu satu RW cuma beda tegalan, kini terpisah beneran.  Yanto di selatan dan Santi di utara, yang dulu sering intip-intipan, kini hanya dapat melihat bentangan beton memanjang. Bonusnya adalah polusi udara dan suara.

Bentangan alam yang dulu indah dengan jagung dan padi, kini raib sebagiannya, ditumbuhi rumah dan cagak besi. Di tahun 80-an, dulu, kenyataan yang terjadi sekarang ini hanya ada di dalam cerpen futuristik atau science-fiction, belum ada di atas tanah. Sekarang, adanya tanah dan hutan kecil di tengah kotalah yang futurustik. Ya, apa-apa itu, pada saatnya nanti, akan serba terbalik.

Inilah beberapa situasi dan keadaan yang hilang dari atas aspal, terutama kalau kamu naik bis.

WARUNG MAKAN TAK SEBANYAK DULU

Dari balik kaca bis, di perjalanan, kalau di Sumatra kita lihat Bukit Barisan, kalau di Jawa kita melihat barisan warung makan, utamanya jika perjalanan tersebut dilakukan di Jawa pesisir utara. Suasana warung-warung makan di ruas jalan itu sangat ramai, rapat, dan meriah. Sekarang, itu sebagiannya mulai mati, jadi gosip untuk "rikolo jaman semono". Jika kamu melintasi jalan tol, yang akan kamu hadapi adalah sawah dan gudang di kanan kiri. Warung tak ada, seperti tidak adanya kendaraan lain yang datang dari lawan arah kecuali di seberang batas pemisah. Tidak ada lagi orang ngawur yang nyentrongkan lampu jauhnya semena-mena ke arah muka.

Lihatlah sepanjang ruas Losari, Kecipir, Tengguli, Tanjung, suasana pertokoan masih lumayan hidup, tapi mulai meredup. Dulu, di situ, banyak sekali warung makan dan truk yang mangkal. Tahun lalu, atau tiga tahun yang lalu, di sana masih semarak. Saya menyaksikannya. Tapi, bulan yang lalu, yang saya lihat begitu masuk ke wilayah Cirebon, warung-warung besar sudah pada tutup. Halamannya penuh rumput. Kalau pun ada yang buka, halamannya tampak kayak orang brengosan yang tak pernah cuci muka. Rumah makan sekelas RM Aroma mungkin masih bertahan, tapi kelas menengah seperti RM Minang Asri atau warung mi atau ayam bakar, habis-lah.

Orang zaman kuno, era musik disko, kalau kita mau bepergian itu bawa nasi dengan piring dan rantang sendiri. Air minum dimasukin jeriken, sudah mirip minyak tanah aja. Jadinya, mampir ke warung makan pun memang jarang. Belakangan, orang beli nasi tinggal melipir ke warung atau bungkus pakai styrofoam. Airnya beli air kemasan. Sesudah makan, tinggal buang saja ke pinggir jalan, tempat sampah yang super-panjang-lebar. Orangnya sudah mati, sampahnya abadi.
Apakah dengan adanya fenomena tol panjang seperti sekarang, ketika warung semakin berkurang, gaya hidup orang bakal kembali ke zaman dulu lagi dalam hal makan?

GOYANG TIPIS, PREI, KRES

Jalanan kian rapat. Selah antar-kendaraan sangat padat. Kres-kresan kendaraan hanya dipisah garis marka, bukan separator atau cekungan. Karena itu, fungsi sopir kiri alias kernet sangatlah baperan, eh, berperan.

pulang dari Kudus, 13/12/2015 
Kamu pernah dengar kernet teriak begini? “Goyang tipis, masuk, kiri...”

Kalau ada aba-aba begitu, sopir akan menggeser bis agak ke kiri. Tujuannya adalah agar pandangan si kenek tidak terhalang padangan kendaraan di depan, seperti bak truk atau sesama bis. Ketika padangan si kenek sudah bebas ke depan, dia akan mengaba-aba kembali: kres atau prei.

“Kres...

Kalau “kres”, artinya gerakan menyalip harus ditunda dulu dan gas harus dikendorkan. Bis kembali ke pengaturan awal. Jika perintahnya adalah “Prei kiri!”, maka sopir akan melanjutkan gerakan, goyang kiri, yakni menyalip kendaraan di depannya dari sebelah kirinya.

Kernet-kernet bis era 90-an dipastikan juga seorang stuntaman. Ia bergelantungan di pintu lipat yang dibuka lebar-lebar pada saat bis melaju kencang. Vin Diessel atau  Schumacher pastilah merinding kalau melihat adegan seperti ini dibawa enteng, bahkan sambil rokok-an.

Sekarang, aksi heroik seperti ini sudah kurang kerjaan. Mau apa kok masih tengak-tengok kanan-kiri jika jalan sudah membentang lurus, luas, tanpa rintangan? Lagi pula, tidak ada lagi kendaraan yang ngawur dari arah depan karena separator di jalan tol itu sangat lebar, pakai beton atau pagar.

Tentu saja, kalau kamu masih ingin merasakan sensasi begituan, kamu harus pergi ke Mojokerto-Jombang, atau Nganjuk-Madiun, dan naik bis yang tidak lewat jalan tol. Atau pergilah ke trek lainnya di luar sana, seperti Banda Aceh-Medan, Palembang-Bandar Lampung, juga (“konon”, soalnya yang trek ini saya belum tahu) di Medan-Pekanbaru, atau Makassar-Toraja atau Palopo. Pekalongan-Tegal juga masih bisa, jalannya lebar dan bisa nyalip dari kiri. Tapi tentunya, kamu harus jadi penumpang meteran, yang baru saja kamu sibuk membetulkan letak pantat untuk duduk, tujuan sudah tiba, sudah sampai.

RAIBNYA ASONGAN

Yang paling menarik dari numpak bis adalah adanya fenomena “toko yang mendatangi kita”, bukan “kita yang pergi ke toko”. Itulah dia asongan. Waktu saya kecil, saya berpikir, ‘Kok bisa ada toko di dalam bis, ya? Enaknya jajan cemilan di toko yang berjalan’, begitu pikir saya. Baru setelah dewasa saya ngerti kalau ternyata penjual asongan itu gonta-ganti pemain di setiap terminal.

Keberadaan asongan memang menyenangkan bagi penumpang, tapi nyatanya juga mengancam secara keamanan. Banyak oknum copet yang menyamar. Dulu, saat bis menunggu antrian kapal di Pelabuhan Kamal, pelabuhan yang konon tersibuk ketiga di Asia Tenggara (ditandai dengan 4 dermaga aktif padahal yang wira-wiri cuma orang Madura yang jalur daratnya juga buntu sampai Kalianget) itu, asongan akan berhambur masuk ke dalam. Beberapa kali saya melihat penumpang yang kecopetan begitu asongan turun dan penumpang sudah turun ke dek kapal, sama seperti yang juga kerap terjadi di terminal-terminal.

Namun, sejak dibukanya (tol) Jembatan Suramadu tahun 2009, Pelabuhan Kamal yang mirip New York karena hidup 24 jam, langsung lemes, mati suri. Kalau sekarang, jam 9 malam saja lewat di sana, ih, rasanya seperti sedang melakoni uji nyali. Tol Suramadu mengubah suatu tempat, suatu kondisi ekonomi, suatu iklim sosial, dengan sangat cepatnya. Meskipun begitu, ada juga yang berkomentar nyelekit kayak ini: “Dulu, kita selalu dibikin sebel karena antre lama di Kamal. Feri-nya ngetem lama, enggak berangkat-berangkat. Giliran sekarang ada Suramadu, gantian si Feri yang nunggu kita. Rasain.”

Itulah beberapa perubahan besar di perjalanan. Saya yang hidup di kedua masa bisa merasakannya sekarang. Generasi anyaran hanya tahu yang versi baru. Generasi kuno hanya bisa baper kalau ingat yang dulu. Jangankan uang, pepatah pun, seperti disinggung di atas, juga banyak yang berubah, bahkan perlu dihapus. Contoh: Ada api, ada asap. Kompor elektrik tidak berasap. Pepatah tidak laku. Ada gula, ada semut. Gulanya mengandung racun, semut tidak mau. Habis manis, sepah dibuang. Sepah masih bisa diolah dan jadi duit, jadilah habis manis, sepah ditelan.

Tapi, apa-apa itu memang sudah berubah semua, kok. Makanya, kita harus melatih diri agar tidak mudah baper, seperti jagoan kita yang sudah yakin menang di Pilpres mendatang, eh, kok kaaaalah. Jangankan Pilpres yang lima tahunan, uang yang katanya alat tukar berbahan kertas atau logam—yang kita butuhkan tiap hari itu—nyatanya kerap hanya tinggal nama dan digit saja. Contoh: misal esai saya ini dimuat, paling nanti juga ditransfer, terus, belum sempat diambil, sudah saya teruskan lagi buat bayar rekening listrik.

*artikel ini sudah dikirim ke Mojok, tp enggak terbit-terbit akhirnya saya terbitkan saja sendiri 



17 Maret 2019

Terima Kasih, Bengkel



Kita sering melupakan jasa. Ketika kita nambal ban sepeda motor/mobil, kita membayar sesuai yang diminta, dan merasa itu sudah impas. Kita tahu, begitulah harga sesuai ongkos, padahal di sana ada nilai jasa yang sebetulnya sangat besar, tak terhitung, lebih-lebih ia merupakan suatu perkara yang tidak dapat kita lakukan sendiri. Contohnya adalah nambal ban. Ini beda dengan—misalnya—mengelap kaca atau mencuci mobil. Kita minta tolong orang mencuci dan membayarnya meskipun kita sebetulnya bisa melakukannya sendiri.

Adakalanya, saya datang ke bengkel ketika mesin mobil tidak sedang rusak. Semua itu saya lakukan agar tidak datang hanya ketika punya masalah, macam orang pergi ke Pegadaian saja! Datanglah ke bengkel ketika mobil atau motor kamu tidak sedang rusak. Datanglah dalam keadaan bahagia dan sapa dia.

Saya punya beberapa cerita terkait ini. Berikut di antaranya.

Pernah  di suatu malam, saya pulang dari kediaman K. Ali Wafa. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Ketika sedang asyik-asyiknya bermanuver di atas jalan beraspal penuh kubangan dengan sepeda motor 100 cc Astrea Prima, tiba-tiba ada sesuatu yang aneh, berasa ganjil. Tapak motor tidak stabil.

Benar, ban belakang mengalami bocor halus dan sekarang sudah mulai kempes. Sisa angin di dalam ban nyaris habis. Saya tuntun sepeda motor agak jauh. Untung, di depan sana ada warung kopi yang sekaligus buka jasa tambel ban. Saya memberanikan diri menguluk salam, meskipun kurang elok rasanya karena hari sudah larut malam.

Seorang lelaki keluar. Dia sudah jelas tahu, tamu tengah malam begini tidak sedang darurat ngopi, tapi pasti darurat nambal ban.

“Saya mau ngisi angin, Pak. Ban bocor halus. Isi saja 50 bar biar meskipun bocor masih bisa tahan sampai ke rumah,” kata saya.
“Tanpa babibu, dia mengeluarkan selang kompresor dan bekerjalah dia dengan cekatan. “Sudah”
“Berapa?”
“Bawa saja, tidak perlu!”

Yang pertama terlintas di benak saya tentu saja saya senang: ban sudah isi angin dan tidak perlu membayar. Sebetulnya, andai ongkos dibayarkan mungkin hanya 2000, tapi yang paling penting bukan karena si bengkel menyedekahkan 2000 itu kepada saya, orang yang tidak ia kenal. Yang lebih di atas itu adalah karena dia telah meluangkan waktu untuk membantu orang yang sedang susah di tengah malam.

Tapi, saya juga pernah mengalami hal yang berkebalikan. Pernah suatu saat, ketika saya sedang mengemudikan  sedan Mazda tua milik kakek. Mobil mogok mendadak, persis depan sebuah bengkel. Kala itu sudah sore, tepatnya hari Kamis sore. Saya harap, saya bisa sampai di rumah sebelum maghrib. Malam jumat mestinya “munajat”, tapi ini malah “mumogok”.

“Pak, minta tolong mobil saya ini, mogok.”
Si istri yang keluar, bapak tetap di dalam. “Maaf, Pak. Kalau malam jumat kami tidak buka.”

Betapa sedih kalau ingat waktu itu, bahkan saya sampai lupa seperti apa nasib saya sesudahnya. Mau marah tapi untuk apa, mau merutuk tapi apa gunanya. Yang bisa saya renungkan adalah betapa mahalnya jasa seorang bengkel di saat seperti itu. Alangkah mulia pekerjaan mereka. Dalam kasus di atas, yang terakhir, alangkah berat menimbang makna dan pahala ketika seseorang dihadapkan pada persoalan “ibadah horisontal” (menolong sesama manusia) di hadapan urusan “ibadah vertikal” (bermunajat kepada Tuhan).

Tiba-tiba saya ingat Pak Sander, seorang tukang tambal ban (semoga tenang arwahnya di alam sana). Beliau sering dibangunkan tengah malam oleh orang yang sedang mengalami pecah ban. Beliau pun bangun dengan muka tenang, tak bersungut, apalagi sambil merengut.
“Bapak itu, sebelum menambal ban, biasanya memasakkan kopi dulu buat si tamu supaya mereka tidak bosan saat menunggu,” tutur anaknya kepada saya, suatu hari.
“Tapi, kadang balasan orang tidak sama. Beberapa kali ada orang yang pura-pura lupa tidak bawa duit dan dia tidak pernah membayarnya, bahkan hingga ayah meninggal dunia. Tapi, ayah saya biasa saja, tidak pernah mengungkit dan mempermasalahkan yang begitu itu.” Imbuhnya.

***
Begitulah manusia dan kemanusiaan. Manusia itu, ya, manusia. Akan tetapi, tidak setiap manusia punya himmah kemanusiaan yang sama. Ada yang asyik sendiri, ada yang asyik dengan Tuhannya. Ada pula yang asyik dengan tuhannya lewat munajat, tapi juga selalu asyik dengan sesama manusianya dalam membantu.

Anda jenis yang mana?

13 Maret 2019

Jurnalisme Begini


Kemarin, saya nemu postingan “Jurnalisme Begini” di Facebook. Sontak saya tertawa, ingat betapa banyak berita sejenis di dunia maya. Ternyata benar, berita seperti itu sebetulnya sudah sering saya lihat, saya temukan, tapi nyaris tidak pernah saya baca. Mungkin pernah juga baca laporan atau berita yang begitu, tentu saja kalau ada waktu yang sangat senggang dan kurang kerjaan saja.

Yang dimaksud Jurnalisme Begini adalah selalu adanya unsur kata “begini” (atau sejenisnya) di dalam setiap judulnya. Untuk apa? Entah, mungkin untuk merangsang rasa penasaran dari pembaca. Adakalanya, rasa penasaran itu diciptakan dengan cara ‘tipuan’ kecil yang lain, semisal penomoran atau pemeringkatan disusul penonjolan satu butir peringkat tertentu, seperti “Tujuah Alasan Orang Berkunjung ke Madura, Nomor 3 Bikin Tidak Percaya!”. Masa ada judul berita seperti ini? Ternyata memang ada, dan ternyata banyak pembacanya.

Berita itu dituturkan secara jelas. Berita itu dijelaskan dengan jelentreh. Judul tidak boleh mengandung kata bersayap. Bahasanya tidak boleh metaforis, kecuali dengan tanda khusus, seperti penggunaan tanda petik. Setahu saya, begitulah aturan-aturan dasarnya. Entah mengapa akhir-akhir ini kode etik sepertinya berubah.  

Latar belakang munculnya “Jurnalisme Begini” kiranya  adanya anggapan pembaca kita, pembaca sekarang, dianggap seringkali punya rasa penasaran yang tinggi (kepo) terhadap berita-berita baru yang langsung menyebar cepat seperti virus (viral). Kalau tidak penasaran, maka jurnalisme macam itulah yang akan merangsangnya dengan judul semacam itu.  Nah, agar pembaca penasaran, maka dipasanglah “begini” di judul, tapi umumnya tidak segera dijelaskan dalam paragraf-paragraf awal. 

Contoh judul:
"Prabowo Menolak Duet Dengan Nissa Sabyan. Jokowi Bilang Begini"
"Seorang Blogger Bikin Berita Jurnalisme Begini. Ini Komentar Netizen
"Jomblo Semangkin Meningkat di Tahun Politik. Begini Tanggapan Syaharini."

 ***

Sebetulnya, YouTube pun sama saja, hanya gayanya berbeda. Di YouTube, orang lebih suka gaya  “yang paling”, “yang ter” dan model “pemeringkatan”. Contoh: Sepuluh Masakan Terlezat di Dunia", padahal, ya, enggak juga, makanannya yang itu-itu juga. Harapan pemberitaan model ini adalah naiknya jumlah penonton dan pengikut (subscriber) karena ia akan berhubungan dengan iklan dan/atau monetasi.

Ada-ada saja orang cari kelakuan, eh, cari pekerjaan!


Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog