30 Mei 2026

Beli Nasi Bawa Kotak Sendiri


Pulang dari membeli ayam geprek, satu dari dua anak saya menangis. Mestinya mereka senang karena mau makan, eh, malah galau. Dia masuk kamar dan sesenggukan.

Ibu bertanya, “Mengapa menangis?”
Si kakak yang menjawab, “Dia memangis karena penjual nasinya tadi bertanya begini: ‘Mengapa kamu bawa kotak? Mau buat bekal, ya?’, terus Acid diam dan baru nangis di sini.”

Kejadian ini tidak saya ketahui kecuali setelah menerima laporan dari istri.
Tadi, sebelum berangkat, saya memang kasih syarat (sebagaimana biasanya begitu), bahwa kalau mau membeli makanan haruslah bawa kotak sendiri. Komitmen untuk mengendalikan sampah-plastik-sekali-pakai memang saya tanamkan sejak dini, dan karena ia adalah komitmen, maka ia pun harus dipegang kuat-kuat. Saya punya banyak kotak, termasuk Tupperware warna-warni, namun untuk kali ini saya suruh pakai kotak plastik yang lain saja, yang agaknya terlalu besar untuk seukuran nasi ayam. Bisa jadi, ini awal ia jadi sumber pertanyaan si penjual.

Meskipun terasa berat dan sulit harus menjelaskan alasan pengendalian sampah plastik kepada anak sekecil itu (yang masih kelas 3 dan 4 sekolah dasar), sang ibu tetaplah menjelaskannya juga, mengapa mereka harus membawa kotak nasi sendiri dan mengapa sang penjual menanyakannya.
“Penjual nasi itu bertanya begitu kepada kalian adalah tanda kalian ini keren! Penjual nasi pasti tidak pernah bertemu orang seperti kalian, yang datang untuk membeli nasi tapi membawa wadah sendiri. Dia bertanya karena tidak pernah melihat orang yang begitu. Jadi, jangan nangis. Kalian sudah keren.”

Si kakak sudah pernah membaca sebagian esai dalam buku “Merusak Bumi dari Meja Makan”, makanya dia tidak banyak komentar. 

Sumber Foto dari SINI


09 April 2026

Tarif Becak

 

Beberapa kali saya ngerjain tukang becak. Saya naik becak tanpa tanya tarif. Setelah tiba di tempat tujuan, saya baru bertanya berapa bayarannya. Biasanya, tukang becak akan menjawab terserah Sampeyan. Saya tidak tahu, mengapa hampir semua tukang becak selalu menjawab demikian.


Kejadian terakhir yang saya alami adalah bulan lalu, 29 Maret, 2026.

Sanapa (berapa)”?
Caepon Empeyan!” (Terserah Sampeyan)

Lalu, saya julurkan selembar duaribuan! Tukang becak itu bengong, lalu tersenyum. Dia jelas kaget karena saya hanya ngasih uang Rp2.000 untuk jarak yang biasanya (setelah saya tanya lebih dulu pada orang setempat) berkisar Rp25.000.


Sanapa saongguna?” (jadi berapa, nih?) tanya saya lagi.

Tukang becak itu menjawab diplomtis: “Sebelum berangkat, saya biasa berdoa agar diberi rezeki yang halal.”

“Kalau saya kasih 2 ribu?”

“Terserah Sampeyan!”


Dia memang bilang terserah, tapi jelas air mukanya berubah. Kekagetan tidak dapat disembunyikan meskipun dia berusaha tersenyum. Akan tetapi, dia tahu kalau saya sedang main drama di hadapannya. Saya lalu berkata.

“Pak, kalau Sampeyan tidak benar-benar pasrah dikasih uang 2000 sama penumpang karena Sampeyan bilang terserah, ya, jangan bilang terserah! Nanti akadnya rusak karena saya ijab 2000 tapi ternyata Sampeyan tidak qabul karena keberatan!”

“He, he, he...”


Saya ambil uang kertas 50.000-an. Saya sodorkan. Tukang Becak tersenyum dan tampak mau ambil uang kembalian. Saya bilang, “Tidak perlu kembalian. Ambil saja itu semua.” Saya juga memberinya sebungkus rokok yang harganya sekitar 25.000 sembari berkata, “Anggap saja ini bonus kaget, Pak, gantinya permintaan maaf saya.”


* * *


Hari ini saya membaca berita yang mirip tapi berbeda. Seorang tukang becak narik Bupati. Bayaran normalnya untuk jarak tersebut adalah Rp15.000. Harga segitu adalah tarif normal untuk penumpang biasa. Konon, si tukang becak berharap ongkosnya lebih dari itu karena yang naik bukanlah orang biasa, karena seorang bupati, tapi kok bayarannya ternyata sama dengan penumpang biasa. Bagaimana akad seperti itu?


Saya tidak tahu persis rentenan kejadiannnya seperti apa. Akan tetapi, saya dapat memperkirakan dua kemungkinan: Pertama, tukang becak menyampaikan jabawan template ‘Terserah Sampeyan!’ ketika ditanya tarif. Kedua, memang staf yang membayarkan ongkos pak bupati tersebut aduhai kebangetan ngiritnya.

26 Februari 2026

Korupsi 2000 Rupiah

 

Tadi pagi saya bayar pajak kendaraan yang angka akhirnya 77.000, tapi petugasnya bilang, “Sekian, sekian, 80.000…”. Saya pun membayar dan mendapat kembalian 20.000. Saya pikir, tarif pajaknya naik 3000 dibanding tahun lalu. Akan tetapi, setelah saya pergi dan mengeceknya kembali, barulah saya sadar kalau angka terakhir pajak yang terbayar adalah 78.000 (naik 1000 rupiah ketimbang tahun lalu), jadi bukan 80.000.


Sebetulnya, saya mau komplain dan menagih kembalian Rp2000 itu (saya pernah melakukan hal seperti ini di retribusi pelabuhan dan tiket kapal feri). Sayangnya, saya sudah terlanjur pergi dari depan petugas yang secara aturan biasanya tidak diperbolehkan ada komplain lagi. Bagaimanapun, 2000 itu harus saya ikhlaskan, ikhlas tapi terpaksa.


Saya benar-benar prihatin! Bagaimana begitu tidak berharganya Rp2000 di hadapan mereka! Betapa mudahnya mengambil uang orang lain tanpa merasa bersalah hanya karena ia berjumlah 2000. Mengapa saya yakin pola ini sistematis? Karena tidak ada permaafan, tidak ada permakluman, semisal ‘Maaf, Pak, kembaliannya tidak ada, biar kami bulatkan saja, ya!’ atau kalimat yang lain yang mirip sehingga jelas ijab-qabulnya. Yang ini mah main ambil saja.


Ternyata, setelah tiba di rumah, saya malah dapat tambahan cerita kalau pola-pola seperti itu banyak terjadi di mana-mana, seperti saat menimbang beras, misalnya. Dalam proses menimbang beras, sering kali pembeli beras (yang punya toko) menyebut angka di depan komanya, sementara di belakang koma dianggap tidak penting. Kurir paket konon juga ada yang demikian. Mereka membuat pembulatan secara karepe dhewe tanpa dikonfirmasi dulu terhadap pembeli. Celakanya, yang seharusnya dirugikan malah tidak merasa dirugikan, kalau menuntut ujung-ujungnya malah dianggap pelit atau terlalu perhitungan.


Segitu buruknyakah hukum dan nasib kita di sini, sehingga yang benar terkadang harus relah seperti yang bersalah untuk sekadar meraih kebenarannya?


Ini bukan soal 2000, tapi soal komitmen, soal kejujuran. Sikap tidak jujur yang dimulai dari 2000 akan mudah merebak ke angka 200.000 dan seterusnya. Lebih tidak dapat dibayangkankan lagi jika uang-uang dari sumber tidak jelas itu harus diberikan kepada anak, cucu, kepada istri.

19 Februari 2026

Perempatan Mangli


Perempatan Mangli, sebuah perempatan yang terletak di sebelah barat kota Jember, adalah perempatan paling—konon kata si warga lokal—menakutkan. Perempatannya lebar secara visual dan kenyataan, tapi untuk terlepas dari kemacetannya seorang pengemudi mobil bisa harus nunggu 4-5 kali ganti lampu merah. Entah mengapa volume kendaraan banyak sekali di perempatan ini. Saya menduga karena akses arah ke selatan, ke Jenggawah, relatif sempit padahal merupakan jalan wajib bagi kendaraan besar yang dilarang masuk kota. 

Saya menyadari keadaan ini di bulan Februari tahun ini, 2026. Dulu, saya tidak menyadarinya. Bisa  jadi ia disebabkan karena saya memang tidak menyadarinya atau karena selalu kebetulan untung tidak berjumpa macet horot seperti beberapa hari lalu itu. Alasan lain mungkin karena saya bukan warga Jember sehingga terjebak macetnya hanya setahun sekali atau bahkan dua tahun sekali. Lagi pula, seingat saya, saya lewat perempatan Mangli tersebut biasanya di waktu bukan jam sibuk atau malah sebelum Subuh saat volume kendaraan masih sangat sedikit yang melintas.

Yang menyeramkan dari perempatan ini adalah karena jika kita datang dari arah dari utara, dari Gebang atau Dukuh Mencek, kita akan menghadapai rel kereta api yang melintang di dekat perempatan tersebut. Di situ, lampu APILL-nya sampai harus dipasang di dua tiang: di utara palang kereta dan di sebelah selatannya. Konon, pernah suatu kali ada mobil Carry yang terseret kereta api sampai ke stasiun terdekat, namun untung semua penumpang selamat.


Saya mendengar, ada wacana akan dibuat jembatan layang (flyover) di situ. Tujuannya adalah agar kemacetan jauh berkurang terutama di saat ada kereta api lewat, seperti pembangunan jembatan layang di Janti, Jogjakarta, yang kemacetannya terbukti jauh berkurang setelah adanya pembuatan jembatan layang. Masalahnya, Jember saat ini sedang bermasalah. Kata si kawan, antara bupati dan wakilnya sedang tidak baik-baik saja, padahal baru saja mereka dilantik tidak lama ini. Nah, bagaimana mungkin akan membangun sebuah kota, apalagi kabupaten, di saat pucuk pimpinannya sedang baik-baik saja? Bisa, sih, iya, tapi coba bayangkan bagaimana pendapat anak-anak yang mungkin tetap bisa tumbuh dewasa namun diasuh oleh ayah-ibu bertengkar setiap hari?



25 Januari 2026

Respek dan Respons


Respek adalah menaruh hormat. Respons adalah tanggapan, jawaban. Keduanya berasal dari English, respect dan response. Jika respek dan respon dibuat satu paket, maka jadilah ia bentuk tindakan untuk dua hal. Saya membuatnya sebagai sebuah konsep dalam bersikap. Saya menjelaskannya kepada para siswa SLTA. Supaya mudah, sebut saja ia “RR”.

Untuk mendedah, saya harus memulai penjelasan dengan meneguhkan posisi manusia sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia tidak mampu hidup sendirian. Mereka harus berinteraksi, harus berkomunikasi, harus saling menanggapi. Hanya dengan cara seperti itulah mereka dapat mempertahankan kemanusiaannya, dapat hidup normal sebagai manusia. Tanpa sikap itu, manusia mirip robot yang bisa bergerak dan bekerja namun tanpa perasaan. 

Masalah-masalah yang timbul dalam hubungan timbal balik antar-manusia atau antara manusia dengan lingkungannya diawali dari titik ini: RR. Ketika nilai sosialnya menipis, maka menipis pula respek seseorang yang artinya akan demikian pula responsnya. Kemenipisan sikap ini dimulai oleh munculnya satu energi berlebih (surplus energi) dalam diri seseorang sehingga ia merasa superior lalu memandang yang lain inferior. Ia merasa mampu, mandiri, lalu terbitlah arogansi. Ini bukan sekadar contoh bagi orang kaya dalam memandang orang miskin, bahkan bisa terjadi dalam pandangan orang pintar terhadap orang bodoh atau pada cara orang suci dalam melihat para fasik atau pendosa.  

Arogansi adalah titik puncak dari anti-respek dan anti-respons. Arogansi dapat dimaknai sebagai hilangnya kemendalaman dan naiknya kewadagan dalam melihat dan terlibat dalam kehidupan. Semua tampak instan. Semua tampak jasmaniah, tidak perlu permenungan, seperti menimbang tanpa tafakur.

Sekarang, kita harus sepakat untuk satu hal, bahwa semua bentuk arogansi itu hanyalah keuntungan di satu pihak dan kerugian di pihak lain. Pada tahap berikutnya, kerugian di pihak lain pada dasarnya adalah kerugian pada diri sendiri dalam jangka panjang namun tidak segera disadari karena prosesnya lama. 

Oleh sebab itu, untuk menjaga marwah kemanusiaannya, seseorang harus menjaga diri dari sikap ini, arogansi. Atas dasar itulah saya membuat program ini berjalan di sekolah-sekolah terdekat, dikhususkan untuk sekolah lanjutan atas (SMA, MA, SMK, dll). Saya menyampaikan materi ini di momentum singkat apel pagi. Dengan cara itu, kita dapat memanfaatkan kegiatan sosialiasi tanpa perlu banner, tanpa perlu minuman, tanpa perlu ruangan khusus, tanpa biaya besar untuk menyewa gedung, tanpa harus molor, dan hal-hal teknis lainnya. 

Dalam pada itu, saya mengajak hadirin (pada siswa) untuk mengurai satu demi satu hal-hal yang terlewat dalam hidup keseharian kita, hal-hal penting yang tampak remeh, hal-hal ringan yang sebetulnya sangat prinsip dan berdampak banyak pada kehidupan kita sebagai makhluk sosial. Hal-hal remeh ini adalah pemicu awal arogansi yang sayangnya sulit kita sadari. Berikut ini contoh-contoh yang saya sampaikan.

Jika kamu tadi melintas di lorong sekolah lalu masuk ke dalam kelas dan ditanya, “Apakah tadi kamu melihat lampu pagar masih menyala?” namun kamu tidak menyadarinya, maka kamu berarti “tidak respek”. Artinya, kamu tidak peduli terhadap lingkungan di mana kamu hidup di situ setiap hari. Akan tetapi, jika jawaban kamu adalah “Iya, saya melihatnya”, tapi kamu hanya melihat namun kamu melintas saja, maka itulah yang disebut “respek”, dan jika kamu menekan saklar lampu itu, memadamkannya, karena tahu tukang kebun datang terlambat atau lupa, nah, itulah dia “respons” sebab kamu tahu bahwa lampu pagar yang menyala pada pukul 7 pagi di saat matahari sudah setinggi gedung sekolah itu adalah sia-sia.

Contoh yang lain yang saya sampaikan adalah “parkir di depan pintu gerbang sekolah dengan alasan cuman sebentar”. Jika kamu respek terhadap orang-orang yang akan merasa terganggu saat akan masuk karena ada sepeda motormu, maka kamu akan merespons tindakanmu sendiri dengan memindahkan sepeda motormu ke tempat yang aman, yang sekiranya tidak mengganggu orang lain. Kamu telah berpikir, menimbang, memutuskan (dalam waktu 2 atau 3 detik saja) bahwa “boleh jadi dalam momentum sebentar itu akan ada orang yang lewat”, misalnya kamu parkir hanya 1 menit namun muncul orang yang akan masuk pada detik ke 30. 

Banyak sekali contoh seperti ini di dalam hidup keseharian, bahkan sangat banyak. Semuanya tampak receh, remeh, tapi ia sangat mengganggu, menumpuk, lalu diikuti oleh orang lain, diikuti oleh kebanyakan, lalu jadilah ia kebiasaan buruk bersama-sama, kebiasaan orang satu kampung, satu desa, hingga pada akhirnya jadi kebiasaan kita bersama. Contohnya? Pikir saja sendiri, banyak sekali. 



31 Desember 2025

Menjemput Anak ke Pondok

 

Saya pergi ke Nurul Jadid untuk mengantarkan istri, menghadiri undangan temu wali santri PP Nurul Jadid (khusus daerah Al-Mawaddah) sekaligus mengikuti acara parenting di sesi siangnya. Tujuan kedua adalah untuk menjemput anak, tepatnya ‘pinjam’ 3 hari untuk dibawa pulang ke rumah demi menghadiri Haul Bani Ruham dan Hadu. Saya menjemputnya dengan mobil. Rencana naik bis digagalkan karena faktor adanya beberapa penumpang tambahan, termasuk anak-anak.

Saat acara dimulai, tata tertib pondok pesantren dibacakan sebagaimana biasa, termasuk larangan “menjemput pulang anak jika tujuannya ‘hanya’ untuk hadir ke acara (sejenis) pernikahan sepupunya, jemput umroh, juga untuk hadir ke acara bani-bani”. Pikiran langsung galat, alamat anak tidak bisa ‘dipinjam’ pulang walaupun sebentar. Akan tetapi, karena terlanjur niat menjemput dan terlanjur bawa mobil segala, saya meminta istri untuk menghadap kepada Ibu Nyai, mengutarakan maksud dan tujuan. Saya berpesan kepada istri agar saat matur kepada Ibu Nyai, nanti, kalimat pembuka harus dimulai dengan “Mohon maaf jika Panjenengan tidak keberatan…”. Saya berpesan agar cara minta izin ini jangan sampai memberatkan Ibu Nyai, sedikit pun. Begitu saya mengingatkan.

Kiai tidak ada, jadi saya menunggu di luar saja. Ternyata, setelah keluar dari ndalem, istri saya bawa laporan, bawah Ibu Nyai titip salam kepada saya dan berpesan bahwa anak saya diberikan izin pulang tiga hari,

asalkan…

...di masa yang akan datang tidak lagi diizinkan untuk acara serupa. Ibu Nyai mengutip pengumuman yang telah disampaikan pagi tadi. “Saya berikan izin, tapi cuman khawatir yang lain pada niru-niru lalu memintakan izin pamit anaknya pula jika ada acara yang serupa. ‘Kan pada akhirnya mereka mencontoh yang sudah ada contohnya”. Tidak persis begitu redaksinya, tapi setidaknya begitulah maksud yang disampaikan istri saya yang ia terima dari Ibu Nyai.

Anak saya yang sejak tadi bersama saya, menunggu keputusan izin dari Ibu Nyai, yang sudah siap dengan baju-baju di dalam ransel, mendengar berita ini dengan muka biasa saja. Sedikit kecewanya, sih, tampak, tapi tidak seberapa. Makanya saya katakan kepadanya. “Aku pilih kami tidak pulang saja!”

“Lho? Kan sudah diberi izin oleh Bu Nyai?”

“Iya! Meskipun diberi izin, tapi Ibu Nyai agak keberatan. Kalau diberi pilihan, beliau lebih senang jika kamu belajar di sini, tidak usah pulang. Dalam hal ini, aku lebih berpihak kepada keputusan pesantren, kepada Ibu Nyai. Jadi, kamu ndak usah pulang.”

Saya bilang kepada anak saya. Momentum seperti ini adalah momentum yang tepat untuk mengingat, baik untuk dia atau untuk saya. Momentum yang perlu diingat itu mencakup; 1) niat dan harapan dari rumah kadang tidak sama dan memang tidak harus selalu sama dengan kenyataan dan harapan; 2) yang membahagiakan guru itulah harus kita pilih dan kita tiru; 3) tidak perlu kecewa kalau kita sudah meluangkan waktu dan biaya namun tidak sama dengan ekspektasi yang kita bawa dari rumah. Keputusan guru dan pesantren lebih menyelamatkan pendidikan anak, maka dari itu ‘sudahlah’, sudah benar, sudah pas, jalani saja.




23 Juli 2025

Empatpuluh Lima Menit Refleksi Pagi di Atas Sadel Sepeda Motor

Setelah selesai nyimak Alquran harian bakda Subuh, saya cek jam, masih tersisa 45 menit menuju pukul 6, yaitu waktu untuk mengajar Taklimul Mutaallim. Maka, saya segera ambil bonus waktu itu untuk mengunjungi Nasir. Tujuan ke Nasir adalah bertanya alamat rumah Hafid. Tujuan ke Hafid adalah kepentingan otomotif. Mungkin terlalu pagi, saya tidak bertemu dengan tuan rumah, hanya disambut oleh kamera CCTV-nya yang mengintai dari posisi tersembunyi. Pada pukul 05.23, saya pun pergi meninggalkannya. Dengan sendirinya, tujuan ke Hafid pun gagal.



Pagi ini, 23 Juli 2025, saya mencoba melakukan hal-hal seperti orang dulu lakukan, pergi tanpa pemberitahuan lebih dulu kepada orang yang akan dikunjungi. Orang dulu, biasanya menggunakan telepati untuk janjian. Ada juga yang disambungkan dengan mengirim Al-Fatihah lebih dulu. Ada pula yang menggunakan isyarat-isyarat batin dan tengara alam (seperti adanya seekor kucing yang menyeberang dari arah kanan ke kiri konon itu menandakan tuan rumah sedang tidak di tempat). Walhasil, saya tidak berjumpa dengan kedua orang itu di pagi yang dingin ini.

Meskipun jarak dari rumah saya ‘hanyalah’ 3 kilometer ke rumah Nasir, namun karena letaknya bukan berada di (dekat) lintasan yang sering saya lewati, maka pergi ke Nasir tentu hanya dilakukan jika kita hendak pergi ke Nasir, bukan sambil lalu pergi ke siapa dan mampir ke rumahnya, misalnya. Beda dengan ketika saya hendak pergi ke rumah saudara yang rumahnya berjarak 21 kilometer dari rumah, seperti rumah Bibi Sum. Karena letaknya berada di dekat jalan yang saya lewati kalau ke Pamekasan atau Surabaya, maka pergi ke rumah Bibi Sum akan lebih sering dan lebih mudah ketimbang saya pergi ke rumah Nasir.

Saat ini, kita ini agak susah untuk saling sambang. Di samping karena sama-sama sibuk, kita juga kurang sempat karena hiburan sudah ada di rumah, malah di dalam genggaman. Dulu, silaturahmi itu bagian dari hiburan, bukan sekadar menjalankan perintah Nabi agar saling menyambung tali famili. Sampai suatu saat saya pernah menggalakkan kegiatan “arnaw”, sebuah kegiatan menyambangi sanak kerabat tanpa ada maksud apa pun kecuali sekadar bertamu saja, bersilaturahmi, tidak ada kepentingan politik (minta dukungan karena mau nyaleg) maupun ekonomi (pinjam uang). silaturahmi, di masa dulu, bahkan termasuk dari basic human needs yang sekarang berganti kepada beras, fashion, dan internet. Nah, yang saya lakukan di pagi ini juga diiming-imingi kesan dari masa lampau tersebut.

Dari rumah Nasir, saya menjalanan sepeda motor atas bimbingan filsafat firasat saja, tanpa Google Maps. Ketika ada percabangan jalan, saya mempertimbangkan jalan yang sekiranya lebih sering dilewati manusia berdasarkan tumbuhan rumput dan kerakal yang berlepasan di atas permukaannya. Yang pertama saya singgahi setelah itu adalah rumah Hamid.  

Sekitar 05.30, saya mampir di rumah Hamid, di ‘masjid kembar’, masjid pernah (dan mungkin juga sedang) punya masalah (semoga segera selesai dan nyaman lagi dalam ibadah). Kebetulan, beliaunya tidak di rumah, mungkin ke tegalan atau ke entah, biarlah. Saya pun kembali ke selatan dan melanjutkan perjalanan ke arah timur, naik ke selatan, lalu kembali ke timur, dan seterusnya. Saya melewati SDN Rombiya Timur III yang jalannya amburadul hingga tiba di ujung jalan yang akhirnya berbelok ke kiri. Di pojok itu ada toko dan tak jauh di selatannya ada masjid.

Setelah sepeda motor mengarah ke utara, maka saya tak ragu lagi, sebentar lagi, mungkin 2 km lagi, saya akan kembali bertemu jalan raya kolektor Bluto-Guluk-Guluk. Benarlah rupanya, saya datang dari arah selatan Somber Rajeh, sebuah sumber air orang dusun yang kini dikelola desa dan menjadi tempat wisata. Dari titik itu, saya pulang, ke arah barat dan sampai di rumah pukul 05.50. Ada ada waktu ngaso 10 menit sebelum pukul 6, jam pengajian kitab Taklimul Mutaallim.

Dari perjalanan ini saya berpikir, betapa banyaknya tempat yang asing bagi saya bahkan itu hanya berjarak kurang dari 6  kilometeran dari rumah saya. Di jalur yang saya lewati, saya tidak kenal orang-orang setempat, situasi pedesaannya, alam dan lingkungannya. Ya, perjalanan pagi ini adalah perjalanan saya di rute itu sejak saya lahir ke buka Bumi sejak 50 tahun yang lalu. Saya lantas merasa ada sesuatu yang keliru ketika baru saja menerbitkan buku yang mengisahkan perjalanan saya naik angkutan umum di pulau-pulau besar di Indonesia, tapi ke jalan rusak desa tetangganya saja baru lewat untuk yang pertama.



07 Juli 2025

Screenshot dan Kengawuran

Blog ini bernama “Kormeddal”. Saya ngeblog sejak tahun 2005, namun nama ini dipilih kemudian. Kata orang Madura tempatan, di Sumenep setahu saya, kata ‘kormeddal’ ini maknanya sama dengan waton dalam bahasa Jawa, yaitu  asal, tanpa pikir panjang, asal bunyi, karena arti kormeddal sendiri adalah asal memancal kaki ke atas pedal yang secara simpelnya dapat dipahami sebagai “asal berangkat, tanpa banyak pertimbangan”. Orang terkini menyebutnya “asal ngegas”. Penyebutan istilah ini mungkin karena sekarang memang lebih banyak sepeda motor daripada sepeda kayuh.

Tujuan akun blog ini, pada mulanya, adalah untuk menuliskan celoteh yang muncul secara mendadak di pikiran, yang mungkin tidak perlu pendalaman dalam permenungan. Wajarlah jika yang direncakan terbit dalam blog ini adalah renungan atas kehidupan sehari-hari. Biasanya, saya menulis tidak lama setelah menjumpai peristiwa atau suatu renungan secara impulsif.

Bertahun-tahun lalu, saya tidak pernah terpikir akan menghadapai era digital seperti sekarang, saat orang lebih menyukai miniblog seperti Facebook, atau media sosial yang lain seperti X atau IG. Di media sosial yang disebut, sekarang, kesembronoan orang dalam menulis saya kira sudah melampaui batas, setidaknya melampaui imajinasi saya ketima membuat blog ini, dulu. Nyaris setiap hari saya menjumpai komentar-komentar yang benar-benar instan, asal bunyi, tidak ada rasa malu pada kedangkalan pengetahuan yang dimiliki, bahkan tidak lagi mempedulikan pada kapasitas orang yang dikomentari dan pada saat yang sama juga tidak mempertimbangkan kapasitas dirinya dalam melihat persoalan. Rasanya, menjadi wajar jika disebut bahwa di zaman ini kepakaran sudah mulai mati perlahan-lahan, disuntik mati oleh akun-akun media sosial.

Kasus hukum terkini adalah hukum sound horeg, tata suara yang suaranya sangat keras (yang desibel-nya mungkin sudah di atas angka toleransi telinga normal manusia). Pernyataan pertama yang dilempar ke publik adalah fatwa haram dari hasil bahsul masail di PP Besuk Pasuruan, dan disampaikan oleh Kiai Muchib Aman. Di foto ini (dan ini hanya sebagian saja), ada dua nama yang berkomettar pedas terhadap hasil bahsul masail itu. Bayangkan, banyaknya referensi yang digunakan untuk merujuk hukum, waktu yang dipakai, serta diskusi panjang untuk membuat keputusan, ternyata hanya cukup ditolak dengan 10 kata saja, itupun dengan caci maki.

Kita ini harus sedih melihat kenyataan seperti ini. Mengapa makin banyak orang yang begitu mudah ngomong sesuatu tanpa kapasitas. Ini malapetaka.
Tidak setuju, ya, tidak setuju, tidak suka, ya, tidak suka, sebagaimana judi difatwakan haram namun tetap banyak yang melakukannya, tapi kan bukan dengan asbun atau kormeddal seperti itu caranya?

Produk hukum dari bahsul masail adalah karya ilmiah, hasil diskusi, renungan dan perdebatan panjang untuk menghasilkan formula hukum. Bahsul masail umumnya adalah untuk menjawab persoalan terkini dengan pandangan yang relevan. Maka, untuk menghargai prosesnya, kita harus menghargai diri kita juga dengan meletakkan posisi kita sesuai kapasitasnya. Janganlah kita mati terus dan hanya meninggalkan screenshot orang-orang atas kecerobohan kita, sementara gambar itu terus beredar, sedangkan kita sudah puluhan tahun dikuburkan.

Blog ini bernama “Kormeddal”. Saya ngeblog sejak tahun 2005, namun nama ini dipilih kemudian. Kata orang Madura tempatan, di Sumenep setahu saya, kata ‘kormeddal’ ini maknanya sama dengan waton dalam bahasa Jawa, yaitu  asal, tanpa pikir panjang, asal bunyi, karena arti kormeddal sendiri adalah asal memancal kaki ke atas pedal yang secara simpelnya dapat dipahami sebagai “asal berangkat, tanpa banyak pertimbangan”. Orang terkini menyebutnya “asal ngegas”. Penyebutan istilah ini mungkin karena sekarang memang lebih banyak sepeda motor daripada sepeda kayuh.

Tujuan akun blog ini, pada mulanya, adalah untuk menuliskan celoteh yang muncul secara mendadak di pikiran, yang mungkin tidak perlu pendalaman dalam permenungan. Wajarlah jika yang direncakan terbit dalam blog ini adalah renungan atas kehidupan sehari-hari. Biasanya, saya menulis tidak lama setelah menjumpai peristiwa atau suatu renungan secara impulsif.

Bertahun-tahun lalu, saya tidak pernah terpikir akan menghadapai era digital seperti sekarang, saat orang lebih menyukai miniblog seperti Facebook, atau media sosial yang lain seperti X atau IG. Di media sosial yang disebut, sekarang, kesembronoan orang dalam menulis saya kira sudah melampaui batas, setidaknya melampaui imajinasi saya ketima membuat blog ini, dulu. Nyaris setiap hari saya menjumpai komentar-komentar yang benar-benar instan, asal bunyi, tidak ada rasa malu pada kedangkalan pengetahuan yang dimiliki, bahkan tidak lagi mempedulikan pada kapasitas orang yang dikomentari dan pada saat yang sama juga tidak mempertimbangkan kapasitas dirinya dalam melihat persoalan. Rasanya, menjadi wajar jika disebut bahwa di zaman ini kepakaran sudah mulai mati perlahan-lahan, disuntik mati oleh akun-akun media sosial.

Kasus hukum terkini adalah hukum sound horeg, tata suara yang suaranya sangat keras (yang desibel-nya mungkin sudah di atas angka toleransi telinga normal manusia). Pernyataan pertama yang dilempar ke publik adalah fatwa haram dari hasil bahsul masail di PP Besuk Pasuruan, dan disampaikan oleh Kiai Muchib Aman. Di foto ini (dan ini hanya sebagian saja), ada dua nama yang berkomettar pedas terhadap hasil bahsul masail itu. Bayangkan, banyaknya referensi yang digunakan untuk merujuk hukum, waktu yang dipakai, serta diskusi panjang untuk membuat keputusan, ternyata hanya cukup ditolak dengan 10 kata saja, itupun dengan caci maki.

Kita ini harus sedih melihat kenyataan seperti ini. Mengapa makin banyak orang yang begitu mudah ngomong sesuatu tanpa kapasitas. Ini malapetaka.
Tidak setuju, ya, tidak setuju, tidak suka, ya, tidak suka, sebagaimana judi difatwakan haram namun tetap banyak yang melakukannya, tapi kan bukan dengan asbun atau kormeddal seperti itu caranya?

Produk hukum dari bahsul masail adalah karya ilmiah, hasil diskusi, renungan dan perdebatan panjang untuk menghasilkan formula hukum. Bahsul masail umumnya adalah untuk menjawab persoalan terkini dengan pandangan yang relevan. Maka, untuk menghargai prosesnya, kita harus menghargai diri kita juga dengan meletakkan posisi kita sesuai kapasitasnya. Janganlah kita mati terus dan hanya meninggalkan screenshot orang-orang atas kecerobohan kita, sementara gambar itu terus beredar, sedangkan kita sudah puluhan tahun dikuburkan.




 

27 Juni 2025

Menonton Kasokan




Melihat senarai acaranya, ide pentas ini unik dan menarik, bahkan juga eksentrik, berbeda dari yang sudah-sudah. Konser yang dibuka dengan pembacaan Ratib Syaikhona, ya, inilah Ritmik Madura. Sekelompok anak muda dari Bangkalan, menamakan diri Kasokan, membuat album Nata Aba’ sekaligus klip video bahkan hingga pertunjukkan empat kotanya secara berangkai. Mereka memulai sila-tour-ahmi mereka dari timur, dari Sumenep. Acaranya ditempatkan di depan Museum Keraton Sumenep, tanggal 14 Juni 2025 yang lalu. 



Saya hadir di acara itu yang sayangnya tidak terlalu banyak penontonnya kecuali jika orang-orang yang berseliweran di area panggung dihitung juga sebagai bagiannya. Kurangnya informasi saya kira menjadi alasan utama mengapa situasi seperti ini bisa terjadi, padahal tata panggung, pencahayaan, terutama tata suaranya, disajikan dengan sangat baik, sangat-sangat baik. Januar Herwanto, salah satu warga yang hadir, menyatakan ‘kesayangannya’ juga. “Kok bisa acara sekeren ini terlewat oleh orang-orang, ya!” keluhnya. Ia juga menambahkan, “Mestinya mereka main di Java Jazz saja.”

Setidaknya, ada tiga hal yang saya catat terkait pertunjukan perdana mereka di Sumenep. Pertama, komitmen kemaduraan. Di antara visi dan misi yang dibawakan oleh kelompok dengan 19 personel dengan seabrek alat musik ini adalah spirit “kemaduraan”, termasuk mengusung revitalisasi bahasa ibu, Bahasa Madura, yang di dalamnya terkandung ‘ajaran’ bhasa alos terhadap orang tua dan orang-orang yang dianggap lebih tua. Kedua, pertunjukan diawali oleh pembacaan doa, dalam hal ini Ratib Syaikhona Kholil. Pengalaman ini menghadirkan antitesis yang terlanjur menempel pada konser, keberisikan dan hura-hura. Dengan cara seperti ini, pertunjukan Kasokan menghadirkan energi yang berbeda. Ketiga, kolaborasi. Mereka melibatkan artis dan seniman lokal untuk tampil. Langkah ini saya kira sangat bagus, semacam bentuk ghalanon terhadap tuan rumah.

Catatan saya untuk konser Sumenep (karena artikel ini ditulis sebelum konser kedua mereka dilaksanakan di Pamekasan, jadi saya belum bisa menulis ulasan pertunjukan di Pamekasan yang kabarnya akan melibatkan Musik Daul Sekar Kedathon, Sanggar Seni Makan Ati, Eros Van Yasa, dan Paramuda Keroncong), apresiasi penonton masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan persiapan mereka yang sudah ada di level megah: panggung yang besar dan tata suara yang sangat jernih. Seperti disampaikan di atas, poster dan pengumuman yang disebarkan terlalu dekat dengan hari H sehingga tidak banyak yang tahu, serta gangguan iklim yang sifatnya tidak dapat diterka (hujan mengguyur H-2 dan H-1). Nah, untuk sesi Pamekasan, konser akan diselenggarakan pada Sabtu 28 Juni 2025 [dan mereka mengagendakan pertunjukannya ini per dua pekan sampai tuntas empat kabupaten: Sampang 12 Juli, Bangkalan 26 Juli, semuanya di hari sabtu, malam minggu]).

 



Saya menaruh apresiasi yang tinggi untuk mereka dan album terbaru mereka, Nata Aba’, yang dalam pengamatyan saya (sebagai pendengar dan penonton) sederhana secara materi namun fundamental dalam misi. Komposisi dan bebunyiannya sangat kompleks, hal ini juga disebabkan karena personel serta alat musik yang banyak. Kiranya, kini saatnya kita memberikan apresiasi untuk sebuah pertunjukan yang cenderung reflekif, alih-alih hura-hura dan berisik semata. Saya kira, Kasokan ini sudah berada di jalur yang dapat saya gambarkan slogannya dalam sebuah statemen: “Jika selama ini konser membuatmu lupa, maka yang ini akan membuatmu ingat!”.


02 Mei 2025

Menghadiri Satu Abad Syaikhona Cholil


JUMAT, 11 April 2025, saya naik AKAS NR dari Pakamban, pukul 15.33. Mestinya, jam itu adalah saat MILA Sejahtera jurusan Jogjakarta melintas. Kok AKAS yang datang? Ya, sudah, saya cegat saja, khawatir kalau masih ngotot menunggu MILA akan semakin telat saya tiba di Bangkalan.

 

Ongkos bis dari Prenduan ke Tangkel itu beragam: 45.000 ikut AKAS NR; MILA biasanya 46.000, sedangkan AKAS Green kayaknya 50.000. Perjalanan saya ke Bangkalan adalah untuk menghadiri acara Satu Abad Syaikhona Kholil yang diselenggarakan di Mertajasa, Bangkalan. 

 Saya sampai di Tangkel sudah masuk waktu isya, agak telat, sih. Jumat sore selalu begitu. Jalanan pasti ramai dan lalu lintas tersendat karena banyak penglaju yang mudik, memanfaatkan libur Sabtu dan Ahad.

 

Kernet AKAS menurunkan saya di pertigaan (Pos Polisi Tangkel), padahal saya bilang halte Trans-Jatim. Kalau saya mau buruk sangka, saya akan menganggap kru AKAS cemburu para kehadiran “TJ” (Trans-Jatim) karena telah mengusik jatah penumpang bis-bis reguler seperti mereka. Maklum, tarif Surabaya-Bangkalan hanya Rp5000 untuk bis Koridor 5 “Cakraningrat”, sedangkan AKAS berkisar Rp30.000. Saya berusaha melupakan itu dengan cara segera berjalan kaki menuju selter, kira-kira 200 meter dari tempat ‘keturunan’ tadi.

 

Seorang ibu muda yang tadi turun bareng saya dari bis kini duduk bersebelahan di halte. Dari tadi dia gulung-gulung layar ponselnya, buka WhatsApp atau entah media sosial apa lainnya. Tiba-tiba dia bilang bahwa bis sudah nyampe Morkepek.

“Ini ada dua rentengan. Nanti biasanya satu saja yang singgah.

Kok ibu tahu?

Ada di aplikasi, kok, Mas” kata dia sambil menunjukkan ponselnya (sepertinya Vivo) kepada saya yang memegang NOKIA 8110. Seketika saya merasa wakil anggota keluarga besar The Flinstones.

 

Tepat pukul 19.30, dua bis TJ Cakraningrat datang bersamaan. Benar, hanya satu yang singgah, satunya berlalu. Saya naik lalu membayar uang tunai karena kartu e-Toll saya tidak terbawa. Penumpang tidak seberapa banyak. Hanya sebentar saya berdiri, di Burneh sudah dapat kursi, namun tidak lama karena seorang ibu-ibu naik dan saya pilih berdiri saja, memberikan kesempatan kepadanya sesuai aturan: “perempuan dan anak-anak harus diutamakan”.  

 

Turun di terminal, saya segera melangkah ke pojok selatan, menuju mushalla yang meskipun lampunya menyala, suasananya redup, menambah aura mistis terminal tipe-B tersebut. Untunglah airnya mengalir lancar, coba andai macet, lengkap sudah suasana horornya. Selesai menunaikan shalat jamak Maghirb-Isya, saya melirik pojok utara, ke arah warung sederhana yang biasanya saya dijamu gule dan sate kambing muda oleh Helmy Prasetya di sana. Kesederhanaan warung ini tergambar pada semua itemnya, pada bangunan, meja, lingkungannya, kecuali rasanya. Ya, rasanya mewah meraya. Sayang warung tutup, maka saya putuskan untuk segera berjalan kaki saja ke Mertajasa.  

 

Berjalan kaki dari terminal ke maqbarah Syaikhona Cholil bukan karena saya kurang duit, bukan karena tak ada ojek, bukan karena tidak ada Trans-Jatim yang parkir, melainkan memang karena itikad. Setelah menyeberang jalan dan mulai berjalan cepat, saya mengingat-ingat Kiai As’ad yang berjalan kaki membawa pesan Syaikhona untuk Kiai Hasyim Asy’ari di Jombang dengan berjalan kaki. Tentu saja, yang saya lakukan bukanlah napak tilas, beda. Ini hanya sekadar empati saja, latihan tirakat kelas rendahan sembari belajar bersyukur karena telah diberi kaki yang kuat untuk melangkah. Saya mengingat orang-orang yang mengidap asam urat tinggi.

 

Saya punya prinsip “keseimbangan harian”, alih-alih “keseimbangan dalam hidup”. Jadi, karena tadi pagi di rumah sudah makan enak kare kambing, maka malam harinya harus ada aktivitas yang ‘tidak enak’, yaitu jalan kaki. Tahun lalu saya pernah ke Jogja dan dana terpakai hanya Rp7000 karena semuanya gratis, maka setiba di Kafe Basabasi, saya memilih hanya makan nasi sekepal dan dua potong tempe goreng (meskipun tuan rumah menawari saya makanan lezat yang tersedia). Begitulah saya melatih diri untuk membuat keseimbangan harian meskipun sering tidak terlupa atau tidak berhasil. Berjalan kaki di malam itu adalah salah satu wujudnya.

 

Sayang sekali, “tirakat versi pemula” kali ini ternodai oleh Soto Cak Bowo saat berangkat dan ngopi arabika di saat pulang. Tapi, mmm... tidak apa lah, sudah lumayan untuk langkah awal.

 

Selain ikut ngaji kitab Ta’limus Shibyan, kitab berbahasa Madura karya Syaikhona, kala itu merenungkan tentang usaha berat yang harus dilakukan oleh setiap pribadi di dalam hidup. Tidak ada giliran enak setelah enak, atau susah setelah susah. Semua bergantian sesuai siklus. Maka, setelah kita mendapatkan yang enak-enak, putuskan diri sendiri untuk melakukan perimbangannya, sebab kalau ngotot hanya mencari yang enak-enak dan mudah-mudah, maka yang pahit-pahit dan sulit-sulit diberikan kepada kita sebagai jatah dan kita tidak bisa lagi memilihnya.

 

Dalam perjalanan pulang, masih terngiang ucapan Kiai Ma’ruf Amin saat memberikan sambutan (yang kira-kira redaksinya seperti ini, dan diulang-ulang oleh beliau beberapa kali): “Andai saja ada Syaikhona Kholil lagi di zaman ini....” 

 

07 April 2025

Mengenang Kiai Ali Syakir

Setelah seseorang meninggal dunia, maka akan tersisa namanya, amalnya, hal-hal yang mendalam yang paling berkesan darinya yang tetap eksis di dalam ingatan seseorang atau komunitas. Itulah sejatinya warisan terbesar yang ditinggalkan oleh seseorang ketika dia sudah berpulang. Ini berlaku bagi siapa pun, termasuk bagi KH Muhammad Ali Syakir.

Bagi sebagian anggota kelompok pengajian Al-Mahabbah Shonar Pornama, yang terkenang dari Kiai Syakir tentu aktivitas beliau dalam bermasyarakat, terutama dalam mengajak orang bershalawat. Beliau telah merintis majlis ini dari kecil hingga sekarang menjadi sangat besar. Jamaahnya ribuan. Acaranya selalu meriah. Banyak kisah teladan yang dapat dipetik dari kegiatannya. Sebab itu, pada saat beliau dikabarkan wafat pada tangga 1 Syawal 1446 lalu (Senin, 31 Maret 2025), masyarakat datang berduyun-duyun menghadiri penguburannya, menjadi saksi kebaikan seorang tokoh yang sangat muda (usia kepala empat) tapi telah membuat dampak kebaikan yang sangat besar di dalam masyarakat.  

Saya pun juga begitu, punya kesan yang amat baik dan mendalam terhadap kiprahnya, tapi dalam hal lain. Saya ingat sekitar 12 tahun yang lalu beliau menggandeng masyarakat setempat untuk memperbaiki jalan residental yang ada desanya yang rusak parah tanpa tersentuh perbaikan selama bertahun-tahun. Beliau membuat amal di tepi jalan yang umumnya dilakukan masyarakat untuk pembangunan masjid, tapi ini untuk memperbaiki jalan. Hal itu juga ia lakukan lagi di tahun yang lalu, 2024, sehingga saat beliau wafat, jalan rusak di depan komplek madrasahnya sudah bagus.

Membut cegatan amal di jalan umum memang berpotensi menjadi terlarang jika ia mengganggu orang yang melintas karena mereka punya hak untuk itu. Tapi bagaimana jika cegatan itu untuk kebaikan mereka? Yaitu untuk memperbaiki jalan yang mereka lewati? Dari cerita yang saya dapatkan, hasil sumbangan dana yang diperoleh di situ jauh lebih cepat terkumpul dengan mereka yang membuat hal serupa untuk pembangunan masjid. Ini akan ‘pekerjaan rumah’ baru bagi kita semua tentang banyak hal: tentang pemerintah yang justru disokong oleh rakyatnya, tentang kemandirian yang nyaris terlalu mandiri sehingga yang bertanggung jawab malah bermanja, dan tentang banyak pelajaran kebaikan lain yang dapat kita renungkan.

Saya sudah sampaikan kepada salah satu saudaranya (Lora Abror) pada saat takziyah bahwa yang paling terkesan dari beliau adalah itikad baiknya untuk fasilitas umum, mempermudah orang melintas, dan semua itu ada hadis dan dalilnya. Saya bersaksi bahwa yang dia lakukan itu insya Allah akan menjadi salah satu jalan pintas yang akan memudahkannya menuju Surga, yaitu memudahkan orang untuk melintas sebagai tergambar dalam hadis Nabi 


 عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال
 «لقد رأيت رجلا يَتَقَلَّبُ في الجنة في شجرة قطعها من ظهر الطريق كانت تؤذي المسلمين»

Saya menulis ini sebagai kesan baik dan persaksian baik sepulang menghadiri acara hari-7 wafatnya, barusan. 

 

17 Maret 2025

Berpuasa di Rumah Sakit

Yang ada di bawah ini adalah pengalaman seorang perempuan, bukan saya. Sayang sekali kalau tidak saya tuliskan di sini pengalamannya sebab saya tidak menyangka dia mengalami pengalaman seperti itu. Ini tentang pengalaman orang yang tidak menyangka sama sekali kalau di sekitarnya banyak orang-orang yang tidak berpuasa di lingkungan yang dikiranya berpuasa semua.

Saya beberapa hari ini ada di RSUD Sumenep karena menjaga anak yang sakit. Saya tidak tahu kalau lapar mau makan di mana. Hari ini saya haid, makanya saya tidak berpuasa. Setelah bertanya, orang menunjukkan kantin di belakang rumah sakit. Saya pun pergi ke sana siang hari.

Yang ada di dalam pikiran saya, nanti saya akan berjumpa dengan sesama orang yang tidak berpuasa, orang-orang seperti saya, ibu-ibu yang sedang haid atau sedang berhalangan berpuasa. Ternyata, setelah saya masuk ke kantin itu, saya hanya melihat satu orang perempuan, yaitu saya sendiri. Sisanya mungkin ada 15 orang bapak-bapak yang sedang makan dan merokok dan sambil ngopi. Di kantin itu, saya bahkan merasa ini bukan Ramadan, seolah-olah hari biasa, bukan bulan puasa.

Selama ini saya memang tinggal di lingkungan yang terbiasa berpuasa dan tidak pernah melihat orang yang tidak berpuasa kecuali hanya ibu-ibu yang sedang haid. Di rumah maupun di pondok selalu saja begitu yang saya lihat. Saya kira orang-orang di sini semuanya taat-taat. Di bulan Ramadan tahun 2025 ini saya menemukan kenyataan yang tidak disangka-sangka terutama karena hal itu terjadi di kantin rumah sakit di Sumenep, di kota yang tampaknya sangat religius.

Dalam hati saya bertanya, ini bapak-bapak punya masalah apa kok sampai tidak berpuasa? Saya kira mereka itu kuat sebagaimana laki-laki biasanya. Menahan lapar saja mereka ternyata tidak mampu, mana mungkin mereka kuat menghadapi ujian hidup yang sesungguhnya?


Pengalamannya itu terrjadi di tahun ini, 2025, di awal-awal bulan Ramadan 1446. Pengalaman seperti di atas mungkin juga Anda alami juga di tempat Anda, di Jawa atau di kota-kota besar. Tapi, yang demikian itu tidak mengherankan. Ini mengherankan karena terjadi di lingkungan yang sepertinya semua penduduknya taat dan relegius.

29 Desember 2024

Lampu Jauh dan Illeterate

Barusan saya pergi ke Prenduan. Saya naik sepeda motor Astrea Prima yang lampu utamanya masih menggunakan bohlam. Sinarnya tampak redup.

Motor buatan Honda di periode 1989-1991 ini, di zaman 2024, setelah 35 tahun luntang-luntung di dunia, banyak yang pajaknya sudah “disuntik mati” alias tidak dibayar lagi. Saya sering menjadi korban stereotifikasi seperti ini, seolah-olah motor saya juga begitu. Taat pajak untuk motor generasi segitu seolah-olah menjadi anomali di negeri pengemplang pajak.

Bukan soal pajak dan ketangguhan mesin yang mau saya ceritakan, melainkan soal lampu sepeda saya dan lampu-lampu sepeda motor lain yang berpapasan. Jarak dari rumah ke pertigaan Prenduan itu 7,5 kilometer. Dalam perjalanan barusan (21.30), saya berpapasan dengan 29 sepeda motor. Dari angka segitu, ada 13 sepeda motor yang lampunya dibiarkan menyala jauh (lampu atas; lampu jauh). Saking terangnya sinar-sinar lampu itu mengenai muka saya, beberapa kali saya sampai harus melambatkan laju kendaraan karena kesilauan hingga nyaris berhenti. Begitulah dampak kesilauan di saat cahaya kendaraan sendiri redup dan berpapasan dengan kendaraan lain yang sangat terang.  

Orang-orang yang membiarkan cahaya lampunya menyala tinggi dan terang sehingga mengenai muka pengendara dari lawan arah, alih-alih jalannya sendiri, bukanlah orang yang buta huruf. Mereka adalah orang dewasa yang saya yakin pasti bisa membaca dan menulis. Jika ada istilah illiterate, saya kira jenis orang seperti inilah contohnya: mereka yang bisa baca tulis tapi tidak terberdayakan oleh apa pun dari yang dibaca dan ditulis.

22 April 2024

Silaturahmi Idulfitri dan Acara Bani-Bani


Hari Raya Idulfitri selalu menjadi ajang silaturahmi, baik bagi perantau dengan sanak kerabat di rumahnya maupun atau bagi penduduk setempat atau pemukim dengan saudara dan tetangganya. Ajang silaturahmi ini dimulai sejak hari pertama Lebaran (1 Syawal) dan berlangsung hingga hari ke-3, ke-4, atau malah ada yang baru selesai setelah hari ke-8, alias Hari Raya Ketupat, yaitu hari rayanya orang yang berpuasa syawal selama 6 hari.


Pada praktiknya, belakangan, ajang silaturahmi ‘berkembang’. Salah satu tanda perkembangan itu adalah dibentuknya pertemuan bani. Yang dimaksud “bani” di sini adalah perkumpulan anak keturunan seberinda dari seseorang yang sepuh (yang biasanya dijadikan nama baninya). Bani yang kita pahami dimaknai sebagai “anak keturunan”, tidak seperti pengertian asalnya yang berasal dari Bahasa Arab, di mana bani selalu berkaitan dengan “keturunan dari jalur laki-laki”. Di Indonesia, Madura khususnya, kata bani diambil dari bahasa Indonesia dengan pengertian Indonesia, yakni keturunan saja, tidak mempedulikan dari jalur ayah atau ibu.
 

Pertemuan Bani Fattaqi di PP Sekar Anyar

Tujuan pertemuan bani ini adalah merawat famili, menjaga silaturahmi. Di Jawa, acara semacam itu bisa disebut “syawalan” karena selalu diacarakan pada bulan Syawal, sementara di Madura, tidak demikian. Selain, Syawal, banyak acara pertemuan bani ini dibulan yang lain, baik dipastikan tanggal bulannya maupun secara berkala dan temporal.
 
Adapun rangkaian acaranya adalah tahlil (mendokan buyut, kakek, orangtua, pini sepuh, dll). Selebihnya, acaranya adalah perkenalan antar-anggota, foto bersama, dan ramah tamah. Setiap pertemuan, antar-famili menjadi semakin akrab dan terkadang berlanjut ke hubungan bisnis atau ikatan pertunangan. Sesama bani yang mungkin sudah berjauhan tempat tinggalnya—karena ikut istri atau ikut suami—kadang saling menawarkan diri untuk dihampiri di momen tersebut, tentu saja jika salah satu anggota bani sedang bepergian atau sedang melakukan perjalanan dan melintasi rumahnya, atau memang sengaja hendak berkunjung ke rumahnya. Adapun acara tambahan yang lain disesuaikan dengan keadaan dan situasi masing-masing penyelenggara yang berbeda-beda kebiasaannya.

Pengalaman berlebaran saya tahun ini malah lebih meriah, lebih lama. Penyebabnya adalah bertambahnya dua pertemuan keluarga yang baru (karena saya menikah dengan orang yang baru; dari dua jalur, mertua laki-laki dan mertua perempaun), juga karena adanya perubahan penyelenggaraan pertemuan bani dari keluarga besar almarhumah—istri yang sudah wafat—yang tahun ini dipindah, dari tanggal 9 ke tanggal 9 syawal dan berpindah lokasi). Jadinya, nyaris setiap hari (kecuali hari ke-7 saya di rumah), saya pergi bersilaturahmi. 

ketemu dengan famili baru di Maron, Probolinggo


Dari pengalaman ini, saya merasakan adanya manfaat dan keunggulan pertemuan bani-bani ini, antara lain dapat menghemat waktu silaturahmi. Kunjungan seseorang yang biasanya harus datang ke rumah per rumah, sekarang cukup datang ke satu tempat yang ditentukan, dibarengkan dengan acara pertemuan bani yang biasanya dilaksanakan secara bergilir, setiap tahun. Persatuan bani ini dikuatkan oleh hubungan ikatan famili atau ikatan darah. Warga Madura yang terkenal sangat erat dalam merawat dan menjaga hubungan familinya menjadi tempat bani-bani tumbuh dan berkembang. Hal ini mungikin berbeda dengan di tempat lain, di Jawa misalnya, yang meskipun ada pertemuan seperti itu tapi tidak seseru pertemuan bani-bani di Madura dan area Tapal Kuda.

Tentu saja, efek lainnya juga ada, sosialnya juga ada, ewuh-pakewuh terhadap yang lebih kaya. Kesenjangan sosial pastilah muncul di acara seperti ini, kecuali di lingkungan sangat dekat yang memang biasa bertemu setiap hari. Sebab itu, dalam kondisi seperti ini, yang status sosialnya lebih tinggi (lebih kaya, lebih berpangkat) memang sewajarnya harus lebih dulu menyambut, jangan justru menjauh.

Acara seperti ini menjadi salah satu pelaksanaan anjuran silaturahmi yang berpijak pada banyak hadis Nabi. Lebih dari itu, silaturahmi dalam pertemuan bani-bani ini lebih terjamin ‘kemurnian’ tujuannya silaturahminya. Soalnya, tidak jarang silaturahmi dijadikan ‘kambing hitam’: menyatakan silaturahmi tapi sebetulnya hendak pinjam uang.


Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) Merusak Bumi dari Meja Makan (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) plastik sekali pakai (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sampah plastik (1) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog